Hatim Gazali
Sampoerna University, Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strengthening the Meaning of Religion in the Democratic Society Hatim Gazali
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 1 (2014): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan antara Negara dan agama di Indonesia khususnya Islam tidak selalu dalam keadaan rukun sejak kemerdekaan Indonesia. Hubungan tersebut bahkan lebih cenderung ke antagonisme, berpisah dari satu kesatuan namun saling membutuhkan. Di satu sisi, Islam adalah fondasi nasional oleh karena kesuciannya dan dipeluk kebanyakan orang Indonesia. Di sisi lain, Pancasila yang harus menjadi fondasi Negara dengan melihat kemajemukan dari bangunan sosial masyarakat Indonesia. Penelitian ini mendiskusikan tentang makna agama dalam masyarakat demokratis, khususnya di Indonesia. Ketika sekularisme meminta pemisahan agama dan negara, pada satu sisi, dan teokrasi (negara Islam) menuntut adanya penyatuan agama dan negara, pada sisi lain, Indonesia menawarkan Pancasila untuk menjembatani jurang antara keduanya. Dalam negara sekuler, peran agama dalam negara sejauh mungkin bisa diminimalkan, bahkan dienyahkan. Padahal, agama yang secara esensial mengandung prinsip-prinsip nilai dan moral memiliki posisi sentral bagi manusia. Sebaliknya, dalam negara teokrasi agama sangat mungkin untuk dialih fungsikan sebagai penindas rakyat. Dalam situasi dilematik ini, Pancasila tidak mempunyai pretensi mengenyahkan peran agama, dan juga tidak menjadikan agama sebagai alat justifikasi suatu rezim, melainkan memfasilitasi berjalannya peran agama dalam negara. Dengan begini, agama memiliki peran esensial dalam masyarakat demokratis.
PEREMPUAN DALAM CITRA KETIDAKADILAN GENDER (Kajian Feminis dan Resepsi atas Kisah Yusuf dalam Serat Yusuf) Hatim Gazali; Muwafiqotul Isma
Muwazah Vol 8 No 2 (2016)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v8i2.762

Abstract

In Islam, men and women are equal before God (das sollen). However, stereotype, discrimination and violance against woman often happen everywhere. The position of women according to the Serat Yusuf as a literature that was born from the social construction and the storage author who is gender bias placed women unequally. This research that used philology theory, reception theory and feminism theory examined the picture of unequal gender in Yusuf-Zulaikha in Serat Yusuf. Based on Philology theory, it was found that Serat Yusuf who was written by Nalaputra is a sung text. It was written in 1935 that consist of 29 chapters (pupuh). While based on the reception theory, the study revealed that the reading of Nalaputra as the writer of the Serat Yusuf on YusufZulaikha story that consists in the holy Quran experienced the expansion and additional part, plot, character. In the analysis of the feminist theory, the study discovered forms of unequal position of women such as women are perceived as a passive, emotional, unable to control their desire, men servants and their faith are lower than men.Di dalam Islam, laki-laki dan perempuan adalah sama di hadapan Allah SWT (das sollen). Namun, stereotip, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan sering terjadi di mana-mana. Posisi perempuan menurut Serat Yusuf sebagai sastra yang lahir dari konstruksi sosial yang bias gender menempatkan perempuan secara tidak setara. Penelitian ini yang menggunakan teori filologi, teori resepsi dan teori feminisme. Berdasarkan teori filologi, ditemukan bahwa Serat Yusuf yang ditulis oleh Nalaputra adalah syair yang ditulis pada tahun 1935, terdiri dari 29 bab (pupuh). Sementara berdasarkan teori resepsi menunjukkan bahwa, pembacaan Nalaputra terhadap Serat Yusuf, kisah Yusuf-Zulaikha mengalami ekspansi dan tambahan pada bagian, plot , karakter yang berbeda dari Al-Quran. Analisis teori feminis, menemukan posisi yang tidak sama dari perempuan seperti perempuan dianggap pasif, emosional, tidak mampu mengendalikan keinginan mereka, makhluk hamba dan iman mereka lebih rendah daripada laki-laki.
Perception of Catholic Lessons Among the Eleventh Grade Muslim Students at SMA Santa Theresia Jakarta Woro Retno Kris Sejati; Hatim Gazali
Al-Albab Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.63 KB) | DOI: 10.24260/alalbab.v5i1.356

Abstract

The government has regulated that each student is entitled to religious education in accordance with his/her religion. However, some schools, one of which is SMA Santa Theresia (Santa Theresia Senior High School), have special regulations. Since these schools are run by Catholic foundations, they provide Catholic religious instruction to all students. Walgito (2004) reported that a person's perception will affect a person’s actions. Therefore, this research aims to reveal the Muslim students’ perception of the Catholic lessons they follow. This research used descriptive qualitative approach. The data were collected using interviews, observation and documentation through a process of data triangulation. The subjects selected through a purposive sampling method by considering that they are the eleventh grade students and taught by the same religious education teacher. The data were analyxed using Miles and Huberman model consisting of data reduction, data display and conclusion. The results indicated that the Muslim students have positive perception of the materials that are easy to apply in their daily lives, and also have a negative perception of the materials that have a lot of memorization and theories.