Ahmad Salehudin
UIN Sunan Kalijaga

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Revitalisasi Identitas Diri Komunitas Masjid Saka Tunggal Banyumas, Masjid Raya Al Fatah Ambon, dan Masjid Agung Jami’ Singaraja Bali dalam Perubahan Budaya Global Ahmad Salehudin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.135 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.746

Abstract

This study examines how three communal mosques: Masjid Saka Tunggal Cikakak Banyumas, Masjid Raya Al Fatah Ambon, and Masjid Agung Jami’ Singaraja respond toward globalization. Globalization that is characterized with the territorial demarcations of states’ administration jurisdiction, political currents, economic strata, and religions has shaped global villages with cultural homogeneity as its estuary. Strong cultures tend to crush the vulnerable cultures. These conditions tend to generate a dilemma for the existence of an identity, including the identity of communal mosques. However, communal mosques are not merely a set of inanimate objects which can only passively accept external influences. They are a collection of beings who “tactically” respond to the “strategy” of the global cultural cooptation. The result of this study reveals that communal mosques become a collective awareness of each its individual to respond to and live the life amidst the increasingly uncontrollable wave of global cultures. Global cultures, as long it benefits, are adapted and adopted to strengthen their communal identity and, otherwise, left when they bring disadvantages. In order to protect communal identities, the result of this study offers three ways: habituation and institutionalization of the communal identity, reinforcing the ancestral authority, and affirming the institutional vision and mission. [Penelitian ini mengkaji respon tiga komunitas masjid, yaitu Masjid Saka Tunggal Cikakak Banyumas, Masjid Raya Al Fatah Ambon, dan Masjid Agung Jami’ Singaraja terhadap globalisasi. Globalisasi yang ditandai oleh menghilangnya batas-batas administrasi negara, aliraan politik, strata ekonomi, dan agama telah membentuk kampung global dengan homogenisasi budaya sebagai muaranya. Budaya yang kuat cenderung menggilas budaya yang lemah. Kondisi ini cenderung melahirkan dilema bagi eksistensi identitas, termasuk identitas komunitas masjid. Namun demikian, komunitas masjid bukanlah sekumpulan benda mati yang hanya bisa pasrah menerima pengaruh luar, tetapi sekumpulan mahluk hidup yang “taktik” untuk merespon “strategi” kooptasi budaya global. Hasil penelitian menunjukkan masjid-masjid komunitas menjadi collective awareness para individu untuk merespon dan menjalani kehidupan di tengah samudra budaya global yang semakin tak terkendali. Budaya global diadaptasi dan diadopsi selama bermanfaat untuk menguatkan identitas komunitasnya, dan bersikap acuh jika tidak sesuai atau membahayakan. Untuk melindungi identitas komunitasnya, ada tiga hal yang dilakukan, yaitu melalui pembiasaan dan pelembagaan identitas komunitas, meneguhkan otoritas leluhur, dan peneguhan visi misi lembaga.]
KONSTRUKSI JARINGAN SOSIAL PESANTREN: STRATEGI EKSIS DI TENGAH PERUBAHAN Ahmad Salehudin
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2014.1002-05

Abstract

The perception that kyais are conservative, fanatic, and difficult to be invited in a dialogue will fade away when seeing the fact that their pesantrens are able to survive until today. Kyais are able to maintain pesantrens even though with traditional management, such as less of fundraising support and minimum facilitation. The pesantrens are still exist because they have capability to re- spond any changes and developments of  the world in their own way, which often difficult to be understood from modern logic. This paper explains how pesantrens develop and construct their social network as strateg y to exist in three ways: the transmission of  knowledge, marriage, and structure.
The Sasak People of Lombok: Indigenous Communities at The Crossroads of Globalization Ahmad Salehudin
Al-Albab Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/alalbab.v8i2.1416

Abstract

This article focuses on changes that have taken place among Lombok’s indigenous communities, including Sasak Bayan, Sasak Sade, and Sasak Ende. This study found that in the context of thick globalization where information technology is the driving force, the indigenous communities are no longer as the objects of the global cultural market. Instead, they are given the freedom to choose and sort out values that they consider good and appropriate with their needs. In addition, they also exercise the freedom of expression. However, the problem lies in the fact that their choices and ways of expressions are quite often violating old loyalties they have agreed. The communities of Sasak Bayan, Sasak Sade and Sasak Ende provide important information on how indigenous communities respond creatively to globalization based on their needs.
Pelaksanaan KKN Berparadigma Integrasi-Interkoneksi dalam Menopang Transformasi Masyarakat (Sebuah Rintisan Pendekatan Participatory Action Research) Ahmad Salehudin
Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama Vol. 16 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/aplikasia.v16i2.1167

Abstract

KKN merupakan bagian integral sistem pendidikan tinggi. Oleh karena itu, sering perubahan IAIN menjadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dimana paradigm keilmuannya juga berubah menjadi integrasi-interkoneksi, KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta seyogyanya juga menganut paradigm tersebut. Berdasarkan hal tersebut, ada dua hal yang ingin dijawab dari tulisan ini, yaitu bagaimana paradigma integrasi-interkoneksi dirumuskan dan dilaksanakan dalam bentuk program kerja, dan apa factor penghambat dan pendoroangnya. Untuk menjawab persoalan tersebut, penulis melakukan penelitian di dua lokasi KKN di dusun Sanggrahan dan Rajek Wetan dengan  peserta  30 orang. Agar tidak semata-mata teoritis, penelitian ini metode semi participatory action research. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa untuk merumuskan KKN Integratif-interkonektif perlu kesadaran bahwa antarilmu (agama dan sekular) harus saling terkait untuk menyelesaikan problem masyarakat. Hambatan yang sering terjadi adalah ketidak pahaman mahasiswa atas peran yang harus dilakukan sebagai peserta KKN.