This Author published in this journals
All Journal Humaniora
. Sangidu
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sidang Fakir Empunya Kata Karya Syaikh Hamzah Fansuri Kajian Filologis Dan Analisis Semiotik . Sangidu
Humaniora Vol 14, No 3 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1589.577 KB) | DOI: 10.22146/jh.767

Abstract

Hamzah Fansuri merupakan ulama dan ahli sufi pertama yang dipandang telah menghasilkan karya tulis ketasawufan dalam bahasa Melayu tinggi atau baku yang pada gilirannya kelak dipilih menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia. Kecemerlangan gaya penulisan Hamzah sulit ditandingi oleh ulama sezaman dan sesudahnya. Ia dipandang sebagai pemula yang merintis tradisi keilmuan di bidang sastra mistik Melayu, khususnya, dan bahkan di bidang sastra Melayu, pada umumnya (Al-Attas, 1970:178). Ia juga merupakan pemula puisi Islam Nusantara, perintis tradisi keilmuan dan filsafat, serta pembaharu spiritual pada zamannya. Dalam puisi-puisinya, ia menampakkan semangat egaliterisme, yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa manusia itu ditakdirkan sama derajatnya sebagai pancaran semangat tauhid. Ia juga sebagai potret ahli sufi yang independen dan intelektual yang berani, pendakwah yang gigih, dan karismatik (Hadi W.M., 1995:48-49). Karya-karyanya tidak terhitung jumlahnya, baik yang berbentuk prosa maupun puisi. Sebagian besar karya-karyanya sudah lenyap dimakan zaman dan kutu buku ataupun peristiwa pembakaran terhadap karya-karyanya. Sebagian besar lainnya masih tersimpan di museum-museum ataupun di perpustakan-perpustakaan pribadi, di antaranya berjudul Syarabul-`Âsyiqîn, Al- Muntahî, dan Rubâ`î Hamzah Fansuri.
Ikan Tunggal Bernama FÂDHIL Karya Syaikh Hamzah Fansuri: Analisis Semiotik . Sangidu
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.543 KB) | DOI: 10.22146/jh.787

Abstract

Hamzah Fansuri meninggalkan sejumlah tulisan berbentuk prosa dan puisi atau syair dalam bahasa Melayu. Sejumlah tulisannya yang berbentuk syair telah diterbitkan oleh Doorenbos pada tahun 1933 (Baroroh-Baried, 1987:1-2). Semua syair yang secara otentik telah terbukti sebagai tulisan Hamzah Fansuri telah diterbitkan oleh Drewes dan Brakel dalam bukunya yang berjudul The Poems of Hamzah Fansuri. Syair itu telah diterbitkannya dalam bentuk suntingan berjumlah tiga puluh dua judul dan empat judul diantaranya diberi syarah. Keempat judul yang diberi syarah itu adalah Subchânal-Lâh Terlalu Kâmil, Allah Maujud Terlalu Bâqî, Sidang Fakir Empunya Kata, dan Ikan Tunggal Bernama Fâdhil. Tiga puluh dua judul syair karangan Hamzah yang telah dikemukakan di atas disebut Rubâ`î Hamzah Fansuri (Drewes dan Brakel, 1986:42-143), sedangkan syarah Syamsuddin terhadap empat judul syair Hamzah Fansuri disebut Syarah Rubâ`î Hamzah Fansuri (Drewes dan Brakel, 1986:194-225). Rubâ`î Hamzah Fansuri yang berjudul Ikan Tunggal Bernama Fâdhil menurut Syarah Rubâ`î berisi hubungan antara manusia dengan Allah Ta`ala. Manusia di dalam kerangka tasawuf diibaratkan seperti seekor ikan yang berenang di lautan yang amat luas, tidak bertepi, dan tidak berujung. Sementara itu, Allah Ta`ala diibaratkan seperti air laut yang sangat luas dan dalam. Keluasan dan kedalaman air laut tidak dapat dilukiskan dengan akal pikiran, seperti halnya keluasan dan kedalaman ilmu dan Dzât-Nya. Namun demikian, seorang hamba Allah yang banyak mempunyai keutamaan-keutamaan, ia dapat sampai, bertemu, dan pada akhirnya dapat merasa bersatu dengan Allah Ta`ala (Wachdatul-Wujûd). Seorang hamba yang dapat merasa bersatu dengan Allah Ta`ala adalah seseorang yang telah dapat menjalankan fanâ’ fil-Lâh, yaitu hancurnya batas-batas individual diri seseorang dalam menyatu dengan Allah Ta`ala. Apabila seorang hamba Allah telah melakukan perjalanan menuju sumber, yaitu Allah Ta`ala, maka ia harus melenyapkan kejahilan dan menggantinya dengan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, seorang hamba mengatakan dan mengiktikadkan innî anal-Lâh yang artinya sesungguhnya aku adalah Allah.