Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LEKSEM BERMAKNA ‘MENGELUPAS’ DALAM BAHASA JAWA Sri Nardiati
Humaniora Vol 17, No 2 (2005)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.566 KB) | DOI: 10.22146/jh.843

Abstract

The paper describes a group of Javanese peeled lexemes that show closely related in meaning and subsumed under a general lexeme based on the theory of componential analysis of meaning and the theory of semantic fields. These lexemes can be classified into two semantic fields. The first is included under the r ( zero) superordinate supeordinate lexeme and the second included under nglokop superordinate laxeme.
PERIAN MAKNA LEKSEM 'MENGOBATI SECARA HERBAL DENGAN BAHAN YANG TERSEBUT PADA BENTUK DASARNYA' DALAM BAHASA JAWA Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2626.53 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.97

Abstract

Di dalam makalah ini dideskripsikan hasil penelitian perian makna yang berkonsep mengobati secara herbal dengan bahan yang tersebut pada kata dasar. Leksem yang dianalisis berjumlah sembilan buah. Berdasarkan komponen makna yang dimiliki bersama, leksem nnnfunni'mengobati' berstatus sebagai superordinat. Leksem bawahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga submedan. Berdasarkan komponen yang dimiliki bersama, pada kelompok I terdiri atas tiga leksem: mborehi, maremi, danboboki; pada kelompok II terdiri atas dua leksem: njamoni dan nyekoki; pada kelompok III terdiri atas tiga leksem: milisi, napeli, mupuki. This paper describes research result of herbal healing concept with herbal as basic material. There are nine lexemes to be analyzed. Based on shared meaning component, nambani 'to heal' lexeme has a status as superordinate. Its ordinate lexeme can be classified into three subfields. Based on shared component, group I consists of three lexemes: mborehi, maremi, and mboboki; group II consists of two lexemes: njamoni nnd nyekoki; group III consists of three lexemes: milisi, napeli, mupuki.
PERILAKU SATUAN LINGUAL -(N)ING DALAM BAHASA JAWA (LINGUAL UNIT BEHAVIOR -(N)ING IN JAVANESE LANGUANGE) Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.2 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.130

Abstract

Penelitian ini berjudul Perilaku Satuan Lingual (n)ing dalam Bahasa Jawa. Teori yang digunakan dalam kajian ini ialah kategori kata dan analisis konstituen. Pengumpulan data menggunakan metode simak. Analisis menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa kehadiran satuan lingual (n)ing berfungsi sebagai penentu bagi unsur yang berposisi di sebelah kanannya. Satuan lingual tersebut dapat bervalensi dengan prakategorial, kata tugas, adjektiva, verba, dan nomina. Kehadiran (n)ing frekuentatif dalam bentuk frasa, antara lain frasa adjektival, frasa nominal, frasa verbal, dan frasa preposisional. Selain itu, satuan -(n)ing dapat hadir dalam bentuk kalimat meski dengan frekuensi yang sangat rendah. Satuan lingual tersebut dapat bervariasi dengan -e/ne dalam tingkat ngoko dan ipun/-nipun dalam tingkat kromo. Satuan lingual tersebut menandai hubungan makna pemilikan, pelaku, partitif, dan tujuan. The title of this study is Lingual Unit Behavior -(N)ing in Javanese Language". The theory is word category and constituent analysis. The data collection is recording. The analysis method is distributable method with direct element division technique. The collected data shows that the existence of lingual unit form -(n)ing functions as a determinant for elements positioned on the right. The (n)ing lingual unit form can be valence with pre-categorical, preposition, adjective, verb, and noun. Frequentative presence of (n)ing form in phrases, such as adjectival phrase, noun phrase, verbal phrase and prepositional phrase. In addition, -(n)ing lingual unit can be present in the form of a sentence even in the lowest frequency. The lingual unit form can be vary with -e/-ne in ngoko level and -ipun/-nipunin kromo level. This lingual unit marks semantic relations comprising possessive, agentive, portative, and goal.
KOMPONEN MAKNA LEKSEM BERKONSEP EMPON-EMPON DALAM BAHASA JAWA (MEANING COMPONENT OF LEXEM THAT HAS EMPON-EMPON CONCEPT IN JAVANESE) Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.271 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.155

Abstract

Penelitian ini berjudul Komponen Makna Leksem Berkonsep Empon-Empon dalam Bahasa Jawa. Teori yang digunakan ialah analisis komponen makna, dengan pendekatan intensional. Metodenya kontras dan komparasi yang didasarkan pada konsep dimensi makna. Leksem yang terliput dalam empon-empon berjumlah empat belas, dikaji berdasarkan dimensi ANATOMI, TUMBUHAN, BATANG, BUNGA, AKAR, KHASIAT, WARNA, dan TEKSTUR. Berdasarkan komponen makna bersama yang dinyatakannya, seperangkat leksem tersebut dapat dikelompokkan menjadi tujuh submedan yang terdiri atas: 1) laos, 2) bengle, puyang; 3) jae emprit, jae gajah, jae sunthi; 4) kunir, temulawak; 5) kencur, temukunci; 6) temugiring, temumangga; dan 7) temuputih, temuireng, dengan leksem empon-empon sebagai superordinatnya.This research is entitled Meaning Component of Lexem That Has Empon-Empon Concept In the Javanese language. The theory used was an analysis of meaning components with the intentional approach. The methods were contrast and comparison based on the concept of meaning dimension. The number of lexemes was fourteen, which empon-empon as the superordinate. The lexem were approached based on ANATOMY, PLANT, STEM, FLOWER, ROOT, EFFICACY, COLOR, and TEXTURE dimensions. There were seven subfields to explain the class of lexemes. The subfields were consist of 1)laos, 2) bengle, puyang; 3) jae emprit, jae gajah, jae sunthi; 4) kunir, temulawak; 5) kencur, temukunci; 6) temugiring, temumangga; and 7) temuputih, temuireng, with the empon-empon as the superordinate.