Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KONSTRUKSI IDENTITAS DALAM SASTRA TERJEMAHAN EROPA ERA 1900-1930 DAN REAKSINYA DALAM SASTRA INDONESIA Albertus Prasojo; Dwi Susanto
Humaniora Vol 27, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.524 KB) | DOI: 10.22146/jh.10588

Abstract

Sastra Indonesia masa 1900-1930 tidak terlepas dari reaksi atas sastra terjemahan Eropa. Reaksi itu diasumsikan sebagai wujud perlawanan kultural atas konstruksi identitas keindonesiaan atau masyarakat terjajah. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi dari konstruksiidentitas dalam sastra terjemahan Eropa dan reaksinya dalam sastra Indonesia. Teks yang digunakan adalah Robinson Crusoe karya Daniel Defoe, Salah Asoehan (1928) karya Abdul Moeis, dan Nona Tjoe Joe (1922) karya Tio Ie Soei. Dengan menggunakan sudut pandang pascakolonial, strategi dan reaksi terhadap konstruksi identitas itu diwujudkan dalam beberapa hal. Pertama, Robinson Crusoe menawarkan identitas manusia super, terlepas dari lingkungan dan membawa kebudayaannya sebagai kekuatan, menguasai dan mengkontrol lingkungan dan mempertunjukan nafsu kolonial. Kedua, Salah Asoehan (1928) menolak konstruksi identitas tersebut dengan menghadirkan manusia yang tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan, adat, tradisi, dan asal usulnya. Sementara itu, Nona Tjoe Joe (1922) merepresentasikan identitas yang ambigu, terpecah, dan berada di antara dua pilihan: Barat dan Timur.
CITRA SPIRITUALITAS MASYARAKAT JAWA DALAM SEJARAH SENI PERTUNJUKAN WAYANG Yunior Dhian Bagaskara; Joko Sujarwo; Radhitya Kusuma Negara; Rizky Kusuma Adi; Gibson Samuel Imbenai; Tegar Taryan Margatama; Albertus Prasojo
ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2023): Desember : Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya
Publisher : FKIP, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/enggang.v4i1.12176

Abstract

The art of wayang performance is one of the traditional cultures of the Javanese people. As part of culture, wayang records the spirituality of the Javanese people as the artist. This study aims to determine the image of Javanese spirituality in wayang performances. This paper includes a qualitative-descriptive study. The data in this study are in the form of narratives about the spirituality of the Javanese people and history of wayang performing arts. The data for this study were collected using literature study, reading and note-taking techniques. The analysis model used in this paper is descriptive. Data that has been collected, reduced, then presented. The results of the study show that the history of wayang performing arts can be divided into three periods, namely the animism-dynamism, Hindu-Buddhism, and Islam. The charting period shows the development of the spirituality of the Javanese people. The history of wayang as a performing art seems to accompany the changes in the spirituality of the Javanese people, starting from totemism, polytheism, to monotheism.
Sastra Wayang sebagai Alternatif dalam Pengajaran Sastra Indonesia Berbasis Kearifan Lokal pada era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) Prasojo, Albertus
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v20i.1373

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai eksplorasi kearifan lokal pengajaran sastra Indonesia pada era VUCA melalui mata kuliah Sastra Wayang yang diterapkan di Prodi Sastra Indonesia, FIB Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Hadir dan berkembangnya trend VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) merupakan sebuh keniscayaan atas perkembangan teknologi dan budaya, sehingga memberikan pengaruh secara signifikan tak terkecuali dalam hal identitas. Tujuan dalam penulisan ini adalah; 1) menjabarkan konteks Sastra Wayang sebagai alternatif kearifan lokal khususnya di wilayah Jawa, sebagai modal dalam narasi lokalitas pada era VUCA; 2). Menjabarkan eksistensi Sastra Wayang sebagai bentuk lokalitas Jawa yang berkorelasi terhadap alternatif dalam menghadapi era VUCA. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriftif dengan menggunakan teori lokalitas, berkenaan dengan prinsip yang mengatur organisasi dan pemrosesan struktur berdasarkan kedekatan atau keeratan element penyusunnya. Hasil penelitian menunjukkan: 1). Berkaitan dengan konteks Wayang, terdapat relevansi antara sastra dan cerita pewayangan yang bersumber dari adaptasi baru atas cerita Epos ke dalam Wayang, yang dapat menghadirkan pemaknaan sebagai lokalitas di dalam cerita-cerita tersebut; 2). Eksistensi sastra Wayang sebagai bentuk lokalitas Jawa yang berkorelasi terhadap alternatif dalam menghadapi era VUCA, berkaitan dengan aspek kultural yang masih menjaga eksistensi pertunjukan Wayang, berikut dengan transformasi dalam bentuk lain seperti adaptasi dalam novel, sehingga menguatkan Wayang sebagai tuntunan hidup masyarakat Jawa pada umumnya.
The WACANA LOKALITAS BUDAYA DAN KESETARAAN DALAM CERPEN PAMAN KLUNGSU DAN KUASA PELUITNYA KARYA AHMAD TOHARI Albertus Prasojo
JIBS : JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Vol. 12 No. 2 (2025): JIBS (Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jibs.v12i2.13108

Abstract

The purpose of this study is to analyze the discourse of locality found in Ahmad Tohari's short story Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya (Uncle Klungsu and the Power of His Whistle). Published by Kompas in 2017, this short story tells the story of Uncle Klungsu, who becomes a volunteer traffic police officer at an intersection. In addition, this short story also tells the story of the relationship between Paman Klungsu and Yu Binah, which is based on gratitude, sincerity, and the values of humanizing humans. Life at the intersection in the busy morning, with many motorists passing by, prompted Paman Klungsu to take the initiative to help the people passing by. This study uses discourse analysis theory. Through this theory, local discourses will be identified based on geographical, social, and cultural aspects at an intersection that is the center of community life. Locality can be revealed through customs, habits, intrinsic elements, social dynamics, dialects, ways of thinking, and perspectives of the characters. Based on the analysis that has been carried out, the locality in this short story includes the identity of a space that is unique to the region in Indonesia; the existence of volunteer traffic police as a culture of mutual assistance; social dynamics and local hierarchy; daily life and informal order; and the personal and emotional values that underlie the community's interactions. This analysis shows that the discourse of locality does not necessarily take the form of visible culture, but can also be expressed through values and feelings.