p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MEDIA ELEKTRIKA
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

METODE DIRECT UNTUK MENGETAHUI NET PLANT HEAT RATE UNIT #10 PLTU REMBANG KETIKA SIMPLE INSPECTION UNIT #20 Harfani Satria
MEDIA ELEKTRIKA Vol 14, No 1 (2021): Media Elektrika
Publisher : PSTE UNIMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.793 KB) | DOI: 10.26714/me.14.1.2021.42-52

Abstract

Merit order adalah tingkat prioritas suatu pembangkit termal untuk di dispatch dalam suatu sistem. Hal ini disebabkan oleh net plant heat rate (NPHR) dan harga bahan bakar. Akibat yang terjadi pada pembangkit dengan peringkat merit order rendah akan diprioritaskan turun beban terlebih dahulu atau naik beban paling akhir. NPHR merupakan salah satu indeks kinerja pembangkit termal. Semakin rendah NPHR maka semakin tinggi efisiensi pembangkit tersebut. Permasalahan yang terjadi dalam penentuan NPHR PLTU Rembang saat 2 unit beroperasi adalah kurang akurat karena beban listrik pemakaian sendiri masing-masing unit tidak berasal seluruhnya dari gross output generatornya, melainkan juga dibebankan oleh unit yang satunya. Terutama untuk pemakaian unit common seperti water treatment plant (WTP), desalination plant serta coal & ash handling plant karena di suplai oleh salah satu unit. Solusinya dengan mencari nilai NPHR ketika salah satu unit shutdown, agar dapat diketahui nilai NPHR yang lebih akurat. Penelitian  ini membahas tentang penggunaan metode direct untuk mencari NPHR pada unit 10 PLTU Rembang ketika unit 20 sedang overhaul. Metode direct adalah metode input-output yang hanya memerlukan bahan bakar sebagai input dan daya listrik sebagai output. Hasil menunjukan bahwa NPHR memiliki nilai paling rendah jika unit berbeban maksimum 300 MW gross. Dari hasil perhitungan didapati bahwa pada beban maksimum 300 MW gross, NPHR rata-rata pada unit 10 lebih rendah dibanding dengan data PLN Puslitbang Januari 2017 yaitu masing–masing 2.544,34 kcal/kWh dan 2.788 kcal/kWh. Sedang  faktor-faktor yang menentukan nilai NPHR antara lain  pembebanan listrik, nilai kalor bahan bakar serta pemakaian listrik untuk keperluan sendiri.
METODE DIRECT UNTUK MENGETAHUI NET PLANT HEAT RATE UNIT #2 PLTU REMBANG PADA SAAT OVERHAUL UNIT #1 Harfani Satria
MEDIA ELEKTRIKA Vol 14, No 2 (2021): Media Elektrika
Publisher : PSTE UNIMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.151 KB) | DOI: 10.26714/me.v14i2.6981

Abstract

Ketersedian energi listrik di sistem Jawa–Bali di dukung oleh beberapa pusat pembangkit listrik melalui jalur tansmisi voltase tinggi 150 kV dan voltase ektra tinggi 500 kV untuk berlangsungnya ketersediaan energi listrik secara andal dan terus–menerus. PLTU Rembang memiliki 2 unit yaitu unit #1 (#20) dan unit #2 (#10) yang memasok sistem transmisi 150 kV. Performa unit sangat menentukan dalam pemenuhan tersebut. Pusat Pengatur Beban (P2B) akan memilih pembebanan PLTU berdasarkan merit order. Merit order adalah tingkat prioritas suatu pembangkit termal untuk di dispatch dalam suatu sistem. Hal ini disebabkan oleh net plant heat rate (NPHR) dan harga bahan bakar. Akibat yang terjadi pada pembangkit dengan peringkat merit order rendah akan diprioritaskan turun beban terlebih dahulu atau naik beban paling akhir. NPHR merupakan salah satu indeks kinerja pembangkit termal. Semakin rendah NPHR maka semakin tinggi efisiensi pembangkit tersebut. Permasalahan yang terjadi dalam penentuan NPHR PLTU Rembang saat 2 unit beroperasi adalah kurang akurat karena beban listrik pemakaian sendiri masing-masing unit tidak berasal seluruhnya dari gross output generatornya, melainkan juga dibebankan oleh unit yang satunya. Terutama untuk pemakaian unit common seperti water treatment plant (WTP), desalination plant serta coal & ash handling plant karena di suplai oleh salah satu unit. Solusinya dengan mencari nilai NPHR ketika salah satu unit shutdown, agar dapat diketahui nilai NPHR yang lebih akurat.Penelitian  ini membahas tentang penggunaan metode direct untuk mencari NPHR pada unit #2 PLTU Rembang ketika unit #1 sedang overhaul. Metode direct adalah metode input-output yang hanya memerlukan bahan bakar sebagai input dan daya listrik sebagai output. Batubara yang digunakan adalah jenis low rank coal (LRC) senilai 4200–4500 kcal dan medium rank coal (MRC) senilai 4500–4800 kcal. Gross output generator memiliki rated power 300 MW sedang daya untuk pemakaian sendiri memiliki rated power 50 MVA. Nilai NPHR ditentukan dengan menghitung perkalian konsumsi dan nilai kalori batubara dibagi terhadap nett output generator. Nett ouput generator ditentukan dengan mengurangi gross output generator terhadap daya pemakain sendiri Trafo Universal Auxiliary Transformer. Hasil menunjukan bahwa NPHR memiliki nilai paling rendah jika unit berbeban maksimum 300 MW gross. Dari hasil perhitungan didapati bahwa pada  beban  rata-rata  299,5  MW  hingga  302,4  MW  gross,  NPHR  rata-rata pada  unit  #2  ketika  overhaul  lebih  rendah  dibanding  dengan  data  PLN Puslitbang  Januari  2017  yaitu  masing–masing  2.544,34  kcal/kWh  dan  2.788 kcal/kWh.  Demikian  pula  NPHR  unit  #2  sebelum  dan  sesudah  overhaul  unit #1 masing–masing  2.497 kcal/kWh dan 2.688 kcal/kWh   . Sedang  faktor-faktor yang menentukan nilai NPHR antara lain  pembebanan listrik,  nilai kalor bahan bakar serta pemakaian listrik untuk keperluan sendiri.