Mulyani A. Nurhadi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BELAJAR KELOMPOK DALAM PROGRAM PENDIDIKAN NONFORMAL Mulyani A. Nurhadi
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 3,1983,TH.III
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2312.444 KB) | DOI: 10.21831/cp.v3i3.7556

Abstract

Pada akhir-akhir ini berkembang gejala bahwa pada umumnya program pendidikan nonformal cenderung diselenggarakan dalam format belajar-kelompok melalui kelompok-kelompk kecil. Pendekatan melalui kampanye massal dan pendekatan klasikal sudah mulai banyak ditinggalkan oleh para praktisi, termasuk kecenderungan yang sedang berkembang di Indonesia.Sehubungan dengan ini Hanson menjelaskan bahwa pendekatan belajar-kelompok ini banyak dipilih bukan hanya karena dapat dipergunakan sebagai alat terapi, tetapi juga dapat dipergunakan secara efektif untuk kepentingan usaha perubahan sikap dan tingkah laku melalui program-program latihan baik dalam bidang pembangkitan motivasi, pengambilan keputusan, pemecahan maslah, managemen untuk mengatasi konflik dan kepemimpinan.
PROGRAM KERJA STRATEGI PENDIDIKAN NONFORMAL DI INDONESIA Mulyani A. Nurhadi
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN, EDISI 1,1983,TH.III
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v1i1.7520

Abstract

Pada masa yang lalu program pendidikan nonformal yang berbentuk program pemberantasan buta huruf di Indonesia, diselenggarakan di dalam kelas-kelas Sekolah Dasar dalam situasi dn format belajar yang sangat formal seperti anak sekolah. Sementara itu di luar, dengan rasa kebanggaan yang tinggi karena sedang atau pernah mengalami belajar di program pendidikan formal di sekolah, anak-anak dan orang dewasa yang sedang atau pernah sekolah cenderung melihat ptogram pemberantasan buta huruf dengan sikap superioritasnya. Peserta program pemberantasan buta huruf dilihatnya sebagai anggota masyarakat kelas dua yang terbelakang, karena tidak mampu mengenyam belajar di program pendidikan formal di sekolah. Keadaan yang seperti itu mengakibatkan program pemberantasan buta huruf menjadi kurang menarik dan menimbulkan seolah-olah terjadi stratifikasi sosial di masyarakat. Peserta program pemberantasan buta huruf merasa dirinya sebagai warga negara kelas dua.