Eka Ningtyas
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Rationalization of Health in Java Ningtyas, Eka
Jurnal Sejarah Vol 3 No 1 (2020): Memburu Kisah Baru: Studi Sejarah dan Sumber Penelitiannya
Publisher : Masyarakat Sejarawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.258 KB)

Abstract

This study focuses on the process of rationalizing health in Java with the central issue of dukun bayi or traditional birth attendants from the colonial era to the present day. This research tries to explain how to integrate dukun bayi into modern medicine carried out by the Dutch colonial government and continued by the Indonesian government after independence. In Java since 1851, there has been an official attempt by the government to realize training for dukun bayi by establishing a training center for native midwives. Similar efforts were then continued after Indonesia’s independence through the training conducted by the Department of Health assisted by the local health center. The dukun bayi played a significant role at the beginning of giving birth process but also has a powerful magical element; however, their role in these present days is reduced to being a baby masseur.
MODERNITAS DI BETLEHEM VAN JAVA: KONDISI SOSIAL MUNTILAN DAN MENDUT AWAL ABAD KE-20 Eka Ningtyas
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 9, No 1 (2018): MOZAIK
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.595 KB) | DOI: 10.21831/moz.v9i1.19410

Abstract

Pendidikan merupakan satu elemen penting pembuka gerbang modernitas di Hindia Belanda. Awal abad ke-20 merupakan masa berkembangnya lembaga pendidikan di Hindia Belanda. Tidak hanya lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah, namun juga lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh organisasi keagamaan maupun pendidikan partikelir. Tulisan ini memiliki fokus pada lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh misionaris pada awal abad ke-20 di Muntilan dan Mendut. Tulisan ini bertujuan melihat dinamika sosial yang muncul dari kehadiran lembaga pendidikan misi di Muntilan dan Mendut. Kata kunci: pendidikan, misi, muntilan, mendut
PIERRE BOURDIEU, LANGUAGE AND SYMBOLIC POWER Eka Ningtyas
POETIKA Vol 3, No 2 (2015): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v3i2.10437

Abstract

Judul: Language and Symbolic PowerPenulis: Pierre BourdieuPenerbit: Polity Press, MaldenTahun: 2007Tebal: 302 halaman
Mepeed dan Wacana Ajeg Bali: Sukawati Pasca Bom Bali 2002 Eka Ningtyas
Lembaran Sejarah Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2116.344 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.45435

Abstract

This article endeavors to explore Ajeg Bali with special emphasis on mepeed ritual in traditional village of Pakraman Sukawati in post-Bali Bombing 2002. Analysis on this study focuses on how Ajeg Bali as a discourse could prompt changes occurred in Balinese society and how they shape Balinese identity. Firstly, this study tracks the advent of Ajeg Bali discourse by comparing practices of cultural preservation by Dutch colonial and New Order regime under Soeharto. Secondly, this study also observes position of Ajeg Bali discourse and how it affects society’s efforts to “protect” Bali. Thirdly, this article emphasizes on the mepeed ritual that transformed in Sukawati post-2002 especially in the spirit of Ajeg Bali. This study is a historical research that combines historical method and taking a cultural history point of view on explaining relation between mepeed and Ajeg Bali in Sukawati.
Negosiasi Negara dan Masyarakat dalam Pembangunan Pariwisata di Bali pada Awal Orde Baru: Turisme Hippies 1968-1979 Eka Ningtyas
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v17i1.100129

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana pembangunan pariwisata Bali pada awal Orde Baru menjadi arena negosiasi antara negara dan masyarakat melalui fenomena turisme hippies pada 1968-1979. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menekankan peran negara dalam pembangunan pariwisata atau pembentukan citra Bali sebagai destinasi wisata internasional, artikel ini menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali juga dibentuk oleh interaksi antara kebijakan negara dan agensi masyarakat lokal. Dengan menggunakan perspektif state-society relations, artikel ini memperlihatkan bagaimana pemerintah Orde Baru berupaya membentuk model pariwisata ideal melalui pembangunan infrastruktur, penataan kawasan wisata, pengawasan terhadap wisatawan asing, serta berbagai kebijakan administratif untuk mengendalikan turis hippies. Pada saat yang sama, masyarakat Bali, khususnya di Kuta dan Ubud, tidak sekadar menjadi objek kebijakan negara, tetapi juga memanfaatkan kedatangan turis hippies untuk membangun berbagai bentuk usaha pariwisata yang kemudian menjadi fondasi ekonomi wisata lokal. Berdasarkan arsip pemerintah, surat kabar Indonesia dan Belanda, statistik pariwisata, serta wawancara dengan pelaku dan saksi sejarah, artikel ini berargumen bahwa perkembangan pariwisata Bali pada awal Orde Baru merupakan hasil negosiasi antara kontrol negara dan inisiatif masyarakat lokal. Dengan demikian, artikel ini memperluas historiografi pariwisata Indonesia dengan menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata tidak sepenuhnya merupakan hasil perencanaan negara, melainkan juga dibentuk oleh praktik-praktik sosial masyarakat dalam merespons mobilitas global yang dibawa oleh turisme hippies. Kata Kunci : Orde Baru, pariwisata, Bali, turisme hippies, negara dan masyarakat
Melantang dalam Hening: Periodisasi Sejarah Pemikiran Perempuan Penghayat Kepercayaan di Indonesia (1955-2017) Eka Ningtyas; Makrus Ali; Rela Susanti
Lembaran Sejarah Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.113103

Abstract

Artikel ini menelusuri periodisasi sejarah pemikiran perempuan penghayat Kepercayaan di Indonesia sejak tahun 1955 hingga masa kini. Melalui telaah tokoh-tokoh seperti Parwati, S.K. Trimurti, dan Sri Pawenang, penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan penghayat telah memainkan peran aktif dalam merumuskan wacana kebatinan, moralitas, dan kebangsaan sejak era awal kemerdekaan. Dengan menjadikan dokumen Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) dan majalah Mawas Diri sebagai korpus utama, kajian ini mengungkap kontribusi intelektual perempuan dalam mengartikulasikan kebatinan sebagai kekuatan spiritual bangsa serta sarana pembentukan kepribadian nasional. Pendekatan situated knowledge dari Donna Haraway digunakan untuk membaca pengalaman perempuan penghayat sebagai bentuk pengetahuan yang terletak secara sosial dan historis. Temuan artikel ini menegaskan bahwa genealogi pemikiran perempuan penghayat tidak terputus, melainkan berlanjut hingga era pasca-Soeharto melalui berdirinya organisasi perempuan penghayat Indonesia (Puanhayati) pada tahun 2017. Dengan demikian, sejarah perempuan penghayat memperlihatkan kesinambungan reflektif antara spiritualitas, kebangsaan, dan emansipasi yang melampaui batas-batas agama dan negara.