Saefur - Rochmat
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PARADIGMA HISTORIS PENDIDIKAN AGAMA AGAR DOKTRIN AGAMA FUNGSIONAL DI ERA MODERN Saefur - Rochmat
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 4, No 1 (2008): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.779 KB) | DOI: 10.21831/moz.v4i1.4391

Abstract

Abstrak: Paradigma historis pendidikan agama dimaksudkan agar agama itu fungsional dalam kehidupan modern. Untuk itu, agama harus ikut menangani permasalahan pada era modern ini, mengarahkan perkembangan ilmu modern, dan mengadopsi serta mengembangkan ide-ide dan konsep-konsep modern. Umat Islam perlu akrab dengan permasalahan kemodernan seperti negara bangsa, nasionalism, dan demokrasi. Model pendidikan agama berdasarkan paradigma historis itu menggabungkan pendekatan konvensional pendidikan agama yang bersifat dogmatis-normatif, pendekatan historis, dan pendekatan kontekstual. Model yang perlu dikembangkan berdasarkan pendekatan historis adalah Agama Reformis, dimana agama difungsikan sebagai motor penggerak perubahan, dengan menjadikan agama selalu bersentuhan dengan konsep-konsep modern, namun ia bersifat kritis terhadap pendekatan ideologis-revolusioner, sehingga ia mengembangkan pendekatan reformatif-evolusioner. Pendekatan historis dan kontekstual baik dapat digunakan sebagai metoda dalam penyampaian pendidikan agama agar doktrin agama itu fungsional dalam kehidupan modern. Adakalanya kita tidak dapat menggunakan kedua pendekatan secara bersama-sama dalam menjelaskan suatu materi pelajaran, namun salah satu dari pendekatan itu secara sendiri-sendiri dapat digunakan untuk menjelaskan materi pelajaran agama. Bahkan, baik pendekatan historis maupun kontekstual dapat digunakan pada Standar Kompetensi yang kelihatannya ekslusif dalam pendidikan agama, yaitu Al-Qur’an, Akidah, Akhlak, dan Fiqih. Satu-satunya Standar Kompetensi terkait erat dengan pendekatan historis dan kontestual adalah Tarikh dan Kebudayaan Islam.
PARADIGMA FEMINISME ISLAM: KELUARGA SEBAGAI SUATU TEAM Saefur - Rochmat
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 2, No 1 (2007): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.034 KB) | DOI: 10.21831/moz.v2i1.5540

Abstract

ABSTRAK Umat Islam dituntut bersifat responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bila mereka ingin memiliki andil dalam membangun peradaban yang humanis. Mereka tidak bisa tidak mengacuhkan konsep feminisme yang lahir dari perut peradaban Barat karena mereka berkepentingan membela kepentingan umat Islam sendiri, disamping sebagai suatu cara untuk ikut mengarahkan jalannya peradaban modern itu sendiri. Feminisme Islam merupakan suatu koreksi terhadap konsep feminisme Barat yang bersifat sekuler. Feminisme Sekuler merupakan suatu bentuk protes terhadap ajaran agama Kristen yang dinilainya bersikap diskriminatif terhadap wanita. Wanita disalahkan sebagai penyebab terusirnya Adam dan Hawa dari surga. Wanita juga inferior terhadap laki-laki karena dia diciptakan dari tulang rusuk Adam. Feminisme Sekuler merupakan suatu ideologi yang eksklusif karena hanya berpretensi memperjuangkan kepentingan wanita. Kaum feminis menilai keluarga tidak sebagai suatu team, melainkan suatu kontrak antara wanita dan laki-laki baik untuk kepentingan biologis maupun ekonomis. Masing-masing bersifat individualis sehingga rumah tangga mudah sekali berantakan. Sebaliknya Feminisme Islam dibangun di atas suatu fondasi yang memandang keluarga sebagai suatu team. Dalam kasus tragedi terusirnya Adam dan Hawa, Islam menimpakan kesalahan kepada keduanya. Hawa juga tidak diciptakan dari tulang rusuk Adam, melainkan dari “bahan baku” yang sama (min nafsin wahidatin) karena Allah mencaiptakan manusia secara berpasangan. Dengan demikian, pilar rumah tangga adalah suami dan isteri dan masing-masing bertanggung jawab atas utuhnya bangunan rumah tangga.