Parwoto - Parwoto
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DAMPAK MONOPOLI GARAM DI MADURA PADA ABAD XX Parwoto - Parwoto
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 7, No 1 (2014): Volume 7, No 1 (2014): Mozaik
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.701 KB) | DOI: 10.21831/moz.v7i1.6182

Abstract

DAMPAK MONOPOLI GARAM DI MADURA PADA ABAD XXOleh: Drs. Parwoto, M. Hum dan Drs. Mudji Hartono, M. Hum1AbstrakMadura sering disebut sebagai pulau garam. Pembuatan garam di Madura merupakan mata pencaharian pokok sebagian penduduk madura, terutama di daerah sepanjang pantai selatan,yangmasuk wilayah kabupaten Sampang dibagian barat, Pamekasan dibagian tengah,danSumenep di bagian timur pulau madura. Pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belandamenerapkan praktek monopoli garam di Madura sudah tentu monopoli itu berpengaruh terhadapkehidupan penduduk pembuat garam, tulisan ini bertujuan untuk membahas sejauh mana dampakmonopoli garam itu di Madura?.Hasil kajian menunjukkan bahwa monopoli garam di Madura yang berlangsung pada abad ke-20dilakukan oleh dinas regie dengan modalperusahaan atau pabrik. Monopoli garam itu dipandang olehpemerintah Hindia Belanda sebagai bagian dari sistem pajak, sebaliknya oleh penduduk dipandangsebagai bentuk eksploitasi yang merugikan, oleh karena itu mengakibatkn munculnya berbagai bentukperlawanan rakyat terhadap monopoli itu. Bentuk perlawanan itu antara lain: pembakaran gudanggudanggaram oleh penduduk; pelanggaran peraturan monopoli dengan sengaja, seperti petani garamtidak bersedia menyerahkan garamnya kepada pemerintah; banyak orang bermigrasi ke daerah ujungtimur Jawa Timur untuk mencari nafkah selama musim garam; pembuat garam melakukan mogokkerja; dan penduduk mengadakan pertemuan-pertemuan dan menuntun kenaikan harga garam dan upahburuh. Meskipun perlawanan rakyat Madura terhadap monopoli itu dikordinasi oleh SI, dan pemerintahBelanda tidak merespon dengan kekerasan, tetapi perlawanan itu tidak membuahkan hasil, maka hal inidapat diartikan sebagai kemrosotan SI lokal Madura.