This Author published in this journals
All Journal INFORMASI
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLITIK KOLONIAL DAN PERKEMBANGAN SENI TARI DI PURO PAKUALAMAN PADA MASA PEMERINTAHAN PAKU ALAM IV (1864-1878 HY. Agus Murdyastomo
Informasi Vol 38, No 2 (2012): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.123 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.4451

Abstract

Pusat budaya di Yogyakarta selama ini yang lebih banyak diketahui oleh masyarakat adalah Kraton Kasultanan Yogyakarta,  tetapi sesungguhnya selain Kraton Kasutanan masih terdapat pusat budaya yang lain yaitu Pura Paku Alaman. Di Kadipaten telah terlahir tokoh-tokoh yang sangat memperhatikan kelestarian budaya Jawa khususnya seni tari tradisi. Salah satunya adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam IV, yang pada masa ia berkuasa, budaya Barat yang dibawa oleh kaum kolonialis melanda daerah jajahan. Hadirnya budaya asing tentu sulit untuk ditolak. Namun demikian denga piawainya KGPAA Paku Alam IV, justru mengadopsi budaya Barat, tetapi ditampilkan dengan rasa dan estetika Jawa, dalam bentuk tari klasik. Sehingga pada masanya lahir repertoar tari baru yang memperkaya seni tari tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan seni tari di Pura Pakualaman pada masa pemerintahan KGPAA Paku Alam IV, dan hal-hal apa yang melatarbelakangi penciptaannya. Dalam rangka mewujudkan rekonstruksi ini dilakukan dengan metode sejarah kritis, yang tahapannya meliputi Pertama, Heuristik, atau pencarian dan pengumpulan sumber data sejarah, yang dalam hal ini dilakukan di BPAD DIY, dan di Perpustakaan Pura Pakualaman. Di kedua lembaga tersebut tersimpan arsip tentang Paku Alaman, dan juga naskah-naskah yang berkaitan dengan penciptaan tari. Kedua, Kritik, atau pengujian terhadap sumber-sumber yang terkumpul, sumber yang telah terkumpul diuji dari segi fisik untuk memperoleh otentisitas, kemudian membandingkan informasi yang termuat dengan informasi dari sumber yang berbeda, untuk memperoleh keterpercayaan atau kredibilitas.  Ketiga, Interpretasi yaitu informasi yang ada dikaji untuk diangkat fakta-fakta sejarahnya, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kisah sejarah. Untuk memperkuat interpratasi dan pemaknaan rangkaian fakta digunakan juga pendekatan budaya dalam hal ini digunakan teori akulturasi dan asimilasi. Keempat Kisah yang terangkai kemudian dituangkan dalam tulisan laporan dengan mengikuti kaidah dan teknik penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukan, bahwa  paska serangan Inggris ke Kasultanan Yogyakarta, aktivitas social politik dan ekonomi tidak dapat dilakukan dengan leluasa. Sehubungan dengan itu para raja di Jawa aktif di bidang budaya. KGPAA Paku Alam IV mempunyai perhatian besar dalam pengembangan seni tradisi khususnya tari. Banyak budaya Barat yang diserap dalam tarian yang digubah pada jamannya. Terdapat 5 nomor tarian lepas yang digubah pada masa pemerintahannya 3 diantaranya yaitu Beksan Floret, Sabel, dan Inum idenya berasal dari kebiasaan orang barat, yang kemudian digubah menjadi tarian dengan estetika Jawa. Kata Kunci : Paku Alaman, Seni Tari.
PARIWISATA DAN PELESTARIAN SENI TRADISI MENYONGSONG YOGYAKARTA PUSAT BUDAYA 2020 HY. Agus Murdyastomo
Informasi Vol 36, No 2 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.016 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6204

Abstract

Yogyakarta merupakan kota yang mempunyai sejarah panjang terkait dengan keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di kota ini terdapat banyak peninggalan sejarah dan budaya, baik berupa bangunan bersejarah maupun seni tradisi yang  adiluhung.   Namun seni tradisi khususnya tari keberadaannya kini semakin terdesak oleh sarana hiburan modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebijakan pemerintah daerah dalam pelestarian dan pengembangan seni tradisi, mengkaji strategi pemerintah dalam pengembangan pariwisata serta kerjasama kelompok tradisi dengan pengelola pariwisata. Pada penelitian ini akan ditempuh cara penelitian dengan menerapkan prinsip-prinsip metode etnografi, untuk melihat seni tradisi atraksi wisata, dan latar belakang pelakunya. Di samping juga dilakukan studi dokumen untuk melihat kebijakan pemerintah dalam bidang pariwisata, khususnya yang berkaitan dengan atraksi wisata. Hasil penelitian menunjukan bahwa seni tradisi boleh dikata mulai jauh dari masyarakat pendukungnya, sehingga jika tidak ada keberpihakan dari pemertintah terhadap seni tradisi maka dalam satu atau generasi ke depan seni tradisi akan menjadi kebudayaan mati. Berbagai strategi yang ditempuh pemerintah antara lain melalui festival seni, pembukaan sekolah seni baik di tingkat menengah maupun perguruan tinggi, serta peningkatan industri pariwisata. Pelestarian seni tradisi khususnya tari justru muncul dari dunia pariwisata, yang memanfaatkan seni tradisi sebagai sajian wisata. Sayang penghargaan dunia pariwisata terhadap seniman tradisi sebagai pekerja seni masih jauh dari memadai, sehingga terkesan seni tradisi hanya dimanfaatkan dunia pariwisata.   Kata kunci: Budaya, Seni Tradisi, Pariwisata, Yogyakarta