Soemantri Wardoyo
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ASPEK SOSIAL GEMPA BUMI 27 MEI 2006 DI KABUPATEN BANTUL Soemantri Wardoyo
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 5, No 2 (2007): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.839 KB) | DOI: 10.21831/gm.v5i2.14193

Abstract

Gempa dapat mengakibatkan kerusakan bentang alam, makhluk hidup, dan bangunan fisik. Manusia sebagai korbannya menjadi bagian penting dalam peristiwa gempa. Apa yang dialami oleh manusia akibat gempa, aspeknya meliputi aspek fisik dan aspek nonfisik. Aspek fisik meliputi luka ringan, luka berat, cacat permanen, dan meninggal dunia. Aspek nonfisik meliputi gangguan kejiwaan sehubungan dengan kehilangan harta benda, suamijisteri, anak, saudara, tetangga, maupun mitra kerja. Aspek non fisik yaitu aspek sosial merupakan aspek yang memerlukan perhatian lebih terutama pasca gempa. Pendampingan dengan tenaga yang memadai diperlukan untuk pemulihannya. Kata kunci: aspek sosial, gempa bumi
BATAS WILAYAH PADA MASA AMAN DAN GAWAT Soemantri Wardoyo
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 4, No 2 (2006): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4895.4 KB) | DOI: 10.21831/gm.v4i2.17844

Abstract

AbstrakPada era pembentukan bumi hanya ada perbedaan wilayah menjadi massa darat, perairan dan udara. Massa darat dan perairan dipisahkan oleh garis yang merupakan kedudukan air persentuhan dengan daratan disebut garis pantai. Bulatan  bumi di kenal sebagai massa yang utuh, merupakan satu kesatuan. Barbara Ward dan Rene  Dobus (1976) menulis buku dengan judul: Hanya Satu Bumi – (Only One Earth). Makna judul tersebut mengisyaratkan bahwa bumi tempat manusia hidup itu terbatas. Pembatas yang dimaksud berkenaan dengan nilai guna untuk kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu perlu ada tindakan penghematan dan pelestarian.Secara alamiah maka bumi dapat dibedakan berdasar kenampakan yang ada padanya. Penanaman kewilayahan ditetapkan berdasar adanya unsur yang dapat memberi tanda pembeda satu wilayah dengan yang lain. Wilayah (region) yang memiliki kesamaan kenampakan dominan dijadikan dasar untuk memberi nama. Pada umumnya suatu wilayah diberi nama berdasar kesamaan dan pembedaan yang terdapat di dalamnya.Adanya kesamaan dan perbedaan yang ada pada wilayah tertentu menjadi referensi pemberian nama. Persebaran kesamaan dijadikan batas dari kategori ada sampai tidak ada. Kenampakan yang sama di muka bumi, misal: tinggi tempat, menghasilkan kenampakan: dataran rendah, dataran tinggi, bukit, atau gunung. Pada wilayah yang mengalami peristiwa yang sama menghasilkan kesamaan nama: dataran banjir, daerah pasang surut, dan lainnya. Pembedaan satu wilayah dengan yang lain diperlukan pembeda yang pasti, dari sinilah menghasilkan konsep batas wilayah dengan pernytaan “dari”- “sampai”.Kata kunci : (Persamaan, perbedaan, batas)