Dwi Astuti
Pusat Teknologi Material – TIEM, BPP Teknologi Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN KITOSAN DALAM PENINGKATAN MUTU NIRA GULA TEBU Moh. Hamzah; Mahendra Anggaravidya; Ika Maria Ulfa; Rina Dewi Mayasari; Sudirman Habibie; Dwi Astuti
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 8 No 1 (2020): Volume 8, Nomor 1, 2020
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK : Gula kristal putih (GKP) merupakan bahan pemanis alami dari bahan baku sebagai sumber kalori dan energi. Kebutuhan GKP nasional yang semakin tinggi akibat pertambahan populasi penduduk tidak diimbangi dengan tingkat produksi industri gula yang mencukupi. Permasalahan industri gula nasional saat ini disebabkan oleh rendahnya kualitas rendemen, kondisi mesin dan pabrik yang sudah tua, dan teknologi atau metodologi yang tidak berkembang. Untuk mendukung peningkatan produktivitas dan mutu gula nasional maka perlu dilakukan inovasi teknologi dengan memanfaatkan kitosan (chitosan) yang ramah lingkungan. Keunggulan teknis kitosan antara lain: pengikat ion logam, decolorization, dan flokulan yang dapat meningkatkan mutu gula. Penelitian ini telah berhasil melakukan pemurnian nira gula dengan menggunakan kitosan berpelarut 3 jenis asam organik, yaitu asam oksalat, asam sitrat, dan asam asetat. Berdasarkan hasil analisis kekeruhan nilai NTU nira tebu setelah dilakukan pemurnian dengan kitosan berpelarut 3 jenis asam organik turun hingga 88%-95% terhadap bahan baku nira gula (referensi). Kadar kalium (K) dan magnesium (Mg) pada nira hasil pemurnian juga turun hingga 46%-87% dan 24%-40%, secara berturut-turut. Dari ketiga jenis asam organik pelarut kitosan, asam oksalat memiliki potensi untuk dikembangkan hingga skala industri pada proses pemurnian nira gula karena memiliki nilai NTU terkecil sebesar 41,6; kadar K 1,67 mg/L; dan kadar Mg 7,03 mg/L. ABSTRACT: White crystal sugar is a natural sweetener which can be an alternativecalorie and energy source. The high need of national sugar due to the growthof population does not balanced by the adequate production of sugar industry. The problems of national sugar industries are caused by the low quality of sucrose content, the condition of old machines and factory, and undeveloped either technology or methodology. Technology innovation need to be developed for supporting the enhance of national productivity and sugar quality, such as using chitosan in the sugarcane purification. The chitosan advantages include metal ion binder, decolorization, and flocculants which can improve the quality of sugar. This research has been successfully refined sugarcane using chitosan dissolved in three organic acids, i.e. oxalic acid, citric acid, and acetic acid. Based on the analysis data of turbidity, the NTU value of purified sugarcane using chitosan decreased in 88%-95% due to the raw sugarcane (reference). The kalium (K) and magnesium (Mg) contents of chitosan-purified sugarcane also reduced to 46%-87% and 24%-40%, respectively. From the three organic acids, oxalic acid has a potential to be developed in industrial scale of sugarcane purification because it has the smallest turbidity value of 41.6 NTU, K content of 1,67 mg/L; and Mg content of 7,03 mg/L.
PEMBUATAN GRANUL SLOW RELEASE FERTILIZER MENGGUNAKAN LATEKS-KITOSAN SEBAGAI BAHAN BINDER ALAMI YANG RAMAH LINGKUNGAN Moh. Hamzah; Eryanti Kalembang; Diah Ayu Fitriani; Dwi Astuti
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 7 No 1 (2019): Volume 7, Nomor 1, 2019
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.997 KB)

Abstract

Tujuan inovasi dalam teknologi pembuatan pupuk slow release (SRF) adalah untuk meningkatkan efisiensi dengan mengendalikan pelepasan hara pupuk. Metode pengendalian pelepasan unsur hara pupuk dalam penelitian ini adalah dengan memanfaatkan lateks-kitosan sebagai pengikat dalam proses pembuatan pupuk granul NPK 16-16-16 SRF. Uji perendaman untuk waktu tertentu untuk pupuk granul SRF diperlukan untuk menentukan ketahanan terhadap tekanan air selama waktu tertentu dan metode perkolasi digunakan untuk menguji jumlah pelepasan hara N dari pupuk granul SRF NPK 16-16-16. Didapatkan bahwa waktu ketahanan pupuk granul SRF NPK 16-16-16 terhadap tekanan air dalam uji perendaman selama 6 bulan tidak hancur, dan karakteristik pelepasan hara N dari pupuk granul SRF NPK 16-16-16 yang menggunakan pengikat lateks-kitosan sebagai pengikat dengan rasio 0: 100 adalah sekitar 45.193 miligram (28,25%), 20:80 adalah 37.444 miligram (23,40%) dan 40:60 adalah 32.262 miligram (20,16%) selama 1 bulan. Disimpulkan bahwa pelepasan jumlah hara N dari pupuk granul SRF NPK 16-16-16 dengan latex-chitosan 0: 100 lebih tinggi dibandingkan dengan latex-chitosan 20:80 dan 40:60. Variasi dalam jumlah lateks dalam formula lateks-kitosan dapat mempengaruhi pelepasan nutrisi N. The aim of innovation in the technology of making slow release fertilizer (SRF) is to improve efficiency by controlling the release of fertilizer nutrients. The method of controlling the releasing fertilizer nutrients in this study was by utilizing latex-chitosan as a binder in the process of making 16-16-16 SRF NPK granular fertilizer. The immersion test for a certain time to SRF granular fertilizer was required to determine the resistance to water pressure for a certain time and the percolation method was used for testing the amount of N nutrient release from SRF NPK 16-16-16 granular fertilizer. The time of SRF NPK 16-16-16 granular fertilizer resistance to water pressure in immersion test for 6 months was not broken, dan the N release characteristics of SRF NPK 16-16-16 granular fertilizer that using latex-chitosan as binder with ratio 0:100 was about 45,193 milligrams (28.25%) , 20:80 was 37,444 milligrams (23.40%) and 40:60 was 32,262 milligrams (20.16%) for 1 month. It was concluded that the release of N amount from SRF NPK 16-16-16 granular fertilizer with latex-chitosan 0: 100 was higher than that of latex-chitosan 20:80 and 40:60. Variations in the amount of latex in the latex-chitosan formula can adjust the release of N nutrients.