I Gusti Putu Suparsa
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI KERUSAKAN DINI ANGKUTAN PUBLIK BUS TRANS SARBAGITA PADA KORIDOR I (TRAYEK : KOTA DENPASAR – GWK) I Gusti Putu Suparsa
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, Vol. 20, No. 2, Juli 2016
Publisher : Department of Civil Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.78 KB) | DOI: 10.24843/JITS.2016.v20.i02.p02

Abstract

SK Gubernur Bali No 1186/03-f/Hk/2010 Tanggal 11 Nopember 2010 Tentang Trayek Angkutan Publik Trans Sarbagita, menetapkan 17 koridor yang didukung oleh  trayek cabang dan trayek ranting yang akan beroperasi dikawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan). Trans Sarbagita dijadwalkan beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 21.00 Wita (Dishub Provinsi Bali, 2013). Pengoperasian bus Trnas Sarbagita pada koridor I yang melayani trayek Kota Denpasar - GWK  terjadi masalah pada bus, yaitu sering terjadi kerusakan dini pada komponen bus sampai turun mesin (overhaul). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab terjadi kerusakan dini pada komponen bus berdasarkan data kondisi  teknis kendaraan/bus, kondisi lalu lintas dan lingkungan pada lintasan trayek, kondisi medan/geometrik jalan pada lintasan trayek, beban kerja kendaraan/bus dan kompetensi pengemudi (behavior). Metode yang digunakan dengan pengamatan dilapangan, menyangkut  kondisi lalu lintas dan lingkungan sepanjang lintasan trayek, menganalis profil penumpang pada jam sibuk untuk masing – masing bus termasuk frekuensi keberangkatan masing – masing bus per hari dan wawancara dengan pengemudi bus. Hasil dari penelitian  menunjukkan ada korelasi yang sangat signifikan, dimana lintasan bus bercampur dengan lalu lintas lainnya (mixed traffics) yang rawan mengalami kemacetan, kondisi medan/geometrik jalan melewati kampus Unud dan Poltek Negeri Bali sangat berpengruh terhadap beban kerja bus dengan factor muatan (load factor) tinggi dan prilaku pengemudi yang sering memainkan rem dan kopling secara bersama-sama dapat sebagai pemicu dan pemacu kerusakan dini pada komponen – komponen bus.
ANALISIS DAN KEBIJAKAN PENGOPERASIAN ANGKUTAN BARANG DI KOTA DENPASAR I Gusti Putu Suparsa; Tuty Idayanti
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, Vol. 20, No. 1, Januari 2016
Publisher : Department of Civil Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1756.449 KB) | DOI: 10.24843/JITS.2016.v20.i01.p08

Abstract

Denpasar merupakan kota pusat pemerintahan, perdagangan, pemukiman, pendidikan, pariwisata dan beragam kegiatan jasa. Kondisi tersebut menjadikan Denpasar sangat penting dalam mendukung perekonomian wilayah. Denpasar terletak di jalur transportasi barang utama, karena hampir semua jalan nasional maupun jalan propinsi yang ada di Bali berorientasi ke Denpasar serta terletak pada jalur lalu lintas yang menghubungkan antara Jawa dan Nusa Tenggara. Arus pergerakan lalu lintas yang terjadi karena pertumbuhan pada sektor pengangkutan yang cukup pesat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan kinerja jaringan jalan terutama pada jam sibuk. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak angkutan barang terhadap penurunan tingkat pelayanan jalan terutama pada jam sibuk pagi, siang, sore dan malam serta memberi arahan pengembangan angkutan dimasa yang akan datang. Metode yang digunakan sesuai dengan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997) dengan melakukan survai lalu lintas dan kecepatan kendaraan dan menganalisis prosentase volume angkutan barang terhadap total volume lalu lintas pada ruas jalan. Hasil yang didapat kontribusi kendaraan barang pada beberapa ruas jalan berkisar antara: 11,45% - 35,40% dan kedepan direkomendasikan untuk membangun pusat – pusat distribusi barang (delivery centre) dan angkutan barang berbasis jalan rel (rail base) yang menghubungkan masing-masin pusat distribusi barang.