Ketut Darmana
Udayana University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dibalik Maraknya Penggunaan Software Open Source Berbasis Web di Perpustakaan Perguruan Tinggi di Bali I Putu Suhartika; Ketut Darmana
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.776 KB) | DOI: 10.24843/SP.2018.v2.i01.p06

Abstract

This study focuses on the opinion of developers and users of the system consisting of head of library , librarians, and students about the use of open source software in the Library of Higher Education in Bali. It is hoped that various reasons can be expressed regarding the implementation of the system. This research is a qualitative research using a critical approach.The results showed that 83% of State University Libraries and some private universities in Bali use open source SLiMS software for library management. SLiMS was originally developed to replace the Library software of the Ministry of National Education, but then the software was distributed to the community for free. The use of SLiMS in the library undergoes several stages which are not understood by the initial user of the system. Therefore, the head of the library spent substantial funds for software procurement and staff knowledge improvement. The user's expectation that the software is completely free becomes unrealized. In its development, this software needs to customize, and for that, users interact with program developers. They issue guidelines that users must follow. This interaction creates a continuous relationship between developers and users of the system to form the relationship between knowledge and power. In addition, the practice of hegemony has already occurred in the use of such software. This hegemony process ends when the system user has sufficient ability to handle the system.
“Mekare-Kare” Wujud Ritualitas Keagamaan Desa Adat Tenganan Pegringsingan Sebagai Obyek Wisata dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat, Karangasem, Bali Ketut Darmana
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.497 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p01

Abstract

Tradisi ritus mekare-mekare diselenggarakan sekitar bulan Juni atau Juli yang berlandaskan pada awig-awig kalender kegiatan yang diberlakukan di desa setempat. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sekali yang dirangkaikan dengan upacara ngusaba sebagai upacara korban suci tulus iklas (yadnya) kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Mahaesa) atas rahmat dan waranugrahaNya yang diberikan kepada seluruh ciptaannya di alam semesta ini. Ritual mekare-mekare dalam praktik tindakan agama sebagaimana diunkapkan oleh peneliti religi (Tylor, 1893; Marett, 1891; Lang, 1898; Frazer, 1910; Otto (1917); dan Evans-Pritchard (1984 mempunyai kemiripan dengan praktik religio-magic warisan kepercayaan masyarakat di masa lalu. Mengingat ritual ini masih berlakukan praktik-praktik ritual pemujaan terhadap hal-hal gaib, jiwa/roh nenek maoyang, dan kekuatan-kekuatan adikodrati yang tumbuh di masa lalu. Hingga kini, kekuatan-kekuatan adikodrati ini dianggap masih hidup dan berpengaruh dalam kehidupan ini. Fokus masalah pembahasan tulis, tidak menjelasan dan menjabarkan tentang ritus mekare-mekare tersebut lebih mendalam yang tergolong eksotik (unik) dalam kehidupan komunitas Desa Adat Tenganan Pegrinsingan. Namun, dalam konteks ini justru ritual itu menarik perhatian bagi masyarakat yang ada di luar komunitas tersebut. Oleh karena itu, ada dua pokok rumusan masalah yang dijabarkan dalam tulisan ini sebagai berikut: (1) Bagaimana prosesi ritus mekare-mekare sebagai obyek wasita manarik dikunjungi oleh wisatawan nusantara maupun wisatawan luar negeri (asing), dan (1) Bagaimana dampaknya terhadap komunitas kehidupan masyarakat setempat. Kedua masalah ini dikaji dengan pendekatan partial equivalence structure” (McKean, 1976: 139-145).