S Juliati
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penentuan Indeks Kebutuhan Hara Makro pada Tanaman Mangga dengan Metode Diagnosis and Recommendation Integrated System Juliati, S
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Mangga merupakan komoditas buah yang memiliki nilai strategis untuk peningkatan ekspor danpengembangan agroindustri buah-buahan di Indonesia. Pemupukan pada tanaman mangga selama ini didasarkanpada pengalaman dan kebiasaan petani, belum mengacu pada kebutuhan tanaman. Diagnosis and RecommendationIntegrated System (DRIS) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis kebutuhan hara tanamandengan memperhitungkan perbandingan sepasang hara yang terkandung dalam jaringan tanaman. Untuk efisiensipemupukan, metode ini dinilai lebih baik dibanding beberapa metode lainnya. Tujuan penelitian ialah mendapatkanindeks hara dan nilai keseimbangan hara makro (N, P, K, Ca, dan Mg) pada tanaman mangga. Penelitian dilaksanakandi perkebunan mangga Arumanis umur 10 tahun milik PT Trigatra Rajasa, Situbondo, Jawa Timur mulai Januari2004 hingga Desember 2005. Pemilihan lokasi sampel didasarkan atas perbedaan kedalaman solum, yakni solumdangkal (<75 cm), solum sedang (75-150 cm), dan solum dalam (>150 cm). Penetapan sampel dilakukan secarapurposive random sampling sebanyak 12 tanaman untuk masing-masing kriteria kedalaman solum. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa hara P merupakan hara dominan yang dibutuhkan tanaman, diikuti oleh hara Mg dan N untuksolum sedang dan dalam, sedangkan untuk solum dangkal diperlukan hara P diikuti hara N. Sementara hara K danCa terdapat dalam jumlah yang cukup untuk semua lokasi. Rasio N/P untuk solum dalam (6,85) dan solum sedang(6,90) berada pada kisaran seimbang/normal (nilai N/P seimbang: 6,29-6,92), sementara untuk solum dangkal (6,07)berada pada kisaran kekahatan ringan (nilai N/P : 5,99–6,29). Rasio nilai N/K (solum dalam = 3,23, solum sedang= 3,38, dan solum dangkal = 3,02), berada pada kisaran normal/cukup (nilai N/K seimbang: 3,09-3,33). Demikianjuga rasio K/P (solum dalam = 2,15, solum sedang = 2,06, dan solum dangkal = 2,03), berada pada kisaran normal/cukup (kisaran K/P seimbang: 2,04-2,12). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur P merupakan unsurpaling dominan yang dibutuhkan tanaman mangga di lokasi tersebut, menyusul unsur N dan K. Terdapat hubunganantara nisbah hara N/P, N/K, dan K/P terhadap pertumbuhan, produksi, dan produktivitas tanaman, di mana bilamasing-masing nisbah hara tersebut berada dalam kisaran seimbang, maka pertumbuhan dan produksi tanamanjuga menjadi lebih baik. Model DRIS dapat direkomendasikan untuk membantu pengelolaan pemberian hara yangefisien sesuai kebutuhan tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2010. Determination Macro Nutrient Index on Mango by DRIS Method. Mango ispriority commodity to increase export and as fruit agroindustry in Indonesia. Up till now fertilization on mango hasbeen done based on farmer’s pratices. Diagnosis and Recommendation Integrated System (DRIS) is a method todetermine nutrient requirement by analyzing nutrient ratio in pairs whitin plant tissue. To obtain the efficiency infertilization this method was better than other method. The experiment was carried out in 10 years age of mangoorchard of cv. Arumanis at PT Trigatra Rajasa Situbondo, East Java, from January 2004 until December 2005. Selectionof sample location was based on soil solum depth that were shallow solum (<75 cm), intermediate solum (75-150cm), and deep solum (>150 cm). Twelve trees at each soil solum depth were chosen as sample units determinedby purposive random sampling. The results showed that P was the most dominant nutrient element required by theplant in all location, followed by Mg and N for intermediate and deep solum, while for shallow solum the dominantnutrient was P followed by N. Kalium and Ca nutrient in were efficient all location. N/P nutrient balanced ratio fordeep solum was 6.85, 6.90 for intermediate solum and the normal range was N/P value : 6.29-6.92. For shallowsolum the N/P nutrient balanced ratio was 6.07 at low deficiency range (N/P value: 5.99–6.29). For N/K ratio value(deep solum = 3.23, intermediate solum = 3.38, and shallow solum = 3.02), all solums had balance range (N/Kbalanced value : 3.09-3.33). Similarly for K/P ratio (deep solum = 2.15, intermediate solum = 2.06 and shallowsolum = 2.03), all solums had balanced range (K/P balanced ratio : 2.04-2.12). Results of this study described that Pwas the most dominant nutrient required by the plant in the location. There was relationship between N/P, N/K, andK/P ratio on growth, production, and productivity. If each nutrient ratio was at balance condition it would be obtainedthe optimum growth and production of the plant. Diagnosis and Recommendation Integrated System model could beused to issue recommendation of efficient soil fertilization as it is matched with plant requirement.
Pengaruh Pemberian Zn dan P terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Varietas Japanese citroen pada Tanah Inseptisol Juliati, S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian untuk mempelajari status dan ketersediaan Zn dan P dengan teknologi isotop dan mengetahui pengaruh pemberian Zn dan P terhadap pertumbuhan tanaman jeruk fase bibit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor, menggunakan tanah Inseptisol dari Pasir Pangaraian, Riau. Perlakuan yang diberikan adalah kombinasi pemberian Zn (0, 10, 20, 30, dan 40 ppm) dan P (0, 0,5, 1, dan 1,5 x serapan maksimum P), dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Zn dan P secara nyata meningkatkan serapan Zn dan P. Sebaliknya, pemberian Zn dan P tidak memberikan pengaruh terhadap berat tanaman dan diameter batang. Serapan Zn total dan serapan P tanaman berkorelasi positif dengan berat kering tanaman, berturut-turut (r = 0,470**) dan (r = 0,836**). Sementara serapan P berkorelasi negatif dengan serapan Zn dari pupuk (r = -0,042) dan efisiensi serapan Zn pupuk (r = -0,012). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur Zn dan P mempunyai hubungan antagonis, untuk itu pada saat pemberian pupuk P harus juga mempertimbangkan ketersediaan unsur Zn. Penelitian ini juga mengindikasikan pentingnya unsur Zn pada tanaman jeruk fase bibit di samping unsur P, dalam meningkatkan berat kering tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2008. The Effect of Zn and P on the Growth of Japanese citroen (JC) Seedling in Inceptisol Soil. The objective of the research was to study the status and the availability of Zn and P using isotop technology, and to know the effect of Zn and P application on the growth of JC seedling. The research was conducted at the Department of Soil Science, Bogor Agriculture University using Inceptisol soil from Pasir Pangaraian, Riau. The treatments were combination of Zn ( 0, 10, 20, 30, and 40 ppm) and P (0, 0.5, 1.0, and 1.5 x max sorption of P), with 3 replications. The results showed that the treatment significantly increased Zn and P uptake. On the contrary, the application of Zn and P did not show any significant effect on plant height and trunk diameter. Positive correlations were recorded between Zn uptake and total dry matter (r = 0.470**) as well as between P uptake and total dry matter (r =0.836**). While P uptake had a negative correlation to Zn uptake (r = –0.042) and the efficiency of Zn uptake (r = -0.012). The results of this study described that Zn and P have an antagonistic correlation, so when applying P, the availability of Zn should be considered. The study also indicated that Zn was very important micronutrient besides P in increasing plant dry matter.
Pengaruh Pemberian Zn dan P terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Varietas Japanese citroen pada Tanah Inseptisol S Juliati
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian untuk mempelajari status dan ketersediaan Zn dan P dengan teknologi isotop dan mengetahui pengaruh pemberian Zn dan P terhadap pertumbuhan tanaman jeruk fase bibit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor, menggunakan tanah Inseptisol dari Pasir Pangaraian, Riau. Perlakuan yang diberikan adalah kombinasi pemberian Zn (0, 10, 20, 30, dan 40 ppm) dan P (0, 0,5, 1, dan 1,5 x serapan maksimum P), dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Zn dan P secara nyata meningkatkan serapan Zn dan P. Sebaliknya, pemberian Zn dan P tidak memberikan pengaruh terhadap berat tanaman dan diameter batang. Serapan Zn total dan serapan P tanaman berkorelasi positif dengan berat kering tanaman, berturut-turut (r = 0,470**) dan (r = 0,836**). Sementara serapan P berkorelasi negatif dengan serapan Zn dari pupuk (r = -0,042) dan efisiensi serapan Zn pupuk (r = -0,012). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur Zn dan P mempunyai hubungan antagonis, untuk itu pada saat pemberian pupuk P harus juga mempertimbangkan ketersediaan unsur Zn. Penelitian ini juga mengindikasikan pentingnya unsur Zn pada tanaman jeruk fase bibit di samping unsur P, dalam meningkatkan berat kering tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2008. The Effect of Zn and P on the Growth of Japanese citroen (JC) Seedling in Inceptisol Soil. The objective of the research was to study the status and the availability of Zn and P using isotop technology, and to know the effect of Zn and P application on the growth of JC seedling. The research was conducted at the Department of Soil Science, Bogor Agriculture University using Inceptisol soil from Pasir Pangaraian, Riau. The treatments were combination of Zn ( 0, 10, 20, 30, and 40 ppm) and P (0, 0.5, 1.0, and 1.5 x max sorption of P), with 3 replications. The results showed that the treatment significantly increased Zn and P uptake. On the contrary, the application of Zn and P did not show any significant effect on plant height and trunk diameter. Positive correlations were recorded between Zn uptake and total dry matter (r = 0.470**) as well as between P uptake and total dry matter (r =0.836**). While P uptake had a negative correlation to Zn uptake (r = –0.042) and the efficiency of Zn uptake (r = -0.012). The results of this study described that Zn and P have an antagonistic correlation, so when applying P, the availability of Zn should be considered. The study also indicated that Zn was very important micronutrient besides P in increasing plant dry matter.
Penentuan Indeks Kebutuhan Hara Makro pada Tanaman Mangga dengan Metode Diagnosis and Recommendation Integrated System S Juliati
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Mangga merupakan komoditas buah yang memiliki nilai strategis untuk peningkatan ekspor danpengembangan agroindustri buah-buahan di Indonesia. Pemupukan pada tanaman mangga selama ini didasarkanpada pengalaman dan kebiasaan petani, belum mengacu pada kebutuhan tanaman. Diagnosis and RecommendationIntegrated System (DRIS) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis kebutuhan hara tanamandengan memperhitungkan perbandingan sepasang hara yang terkandung dalam jaringan tanaman. Untuk efisiensipemupukan, metode ini dinilai lebih baik dibanding beberapa metode lainnya. Tujuan penelitian ialah mendapatkanindeks hara dan nilai keseimbangan hara makro (N, P, K, Ca, dan Mg) pada tanaman mangga. Penelitian dilaksanakandi perkebunan mangga Arumanis umur 10 tahun milik PT Trigatra Rajasa, Situbondo, Jawa Timur mulai Januari2004 hingga Desember 2005. Pemilihan lokasi sampel didasarkan atas perbedaan kedalaman solum, yakni solumdangkal (<75 cm), solum sedang (75-150 cm), dan solum dalam (>150 cm). Penetapan sampel dilakukan secarapurposive random sampling sebanyak 12 tanaman untuk masing-masing kriteria kedalaman solum. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa hara P merupakan hara dominan yang dibutuhkan tanaman, diikuti oleh hara Mg dan N untuksolum sedang dan dalam, sedangkan untuk solum dangkal diperlukan hara P diikuti hara N. Sementara hara K danCa terdapat dalam jumlah yang cukup untuk semua lokasi. Rasio N/P untuk solum dalam (6,85) dan solum sedang(6,90) berada pada kisaran seimbang/normal (nilai N/P seimbang: 6,29-6,92), sementara untuk solum dangkal (6,07)berada pada kisaran kekahatan ringan (nilai N/P : 5,99–6,29). Rasio nilai N/K (solum dalam = 3,23, solum sedang= 3,38, dan solum dangkal = 3,02), berada pada kisaran normal/cukup (nilai N/K seimbang: 3,09-3,33). Demikianjuga rasio K/P (solum dalam = 2,15, solum sedang = 2,06, dan solum dangkal = 2,03), berada pada kisaran normal/cukup (kisaran K/P seimbang: 2,04-2,12). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur P merupakan unsurpaling dominan yang dibutuhkan tanaman mangga di lokasi tersebut, menyusul unsur N dan K. Terdapat hubunganantara nisbah hara N/P, N/K, dan K/P terhadap pertumbuhan, produksi, dan produktivitas tanaman, di mana bilamasing-masing nisbah hara tersebut berada dalam kisaran seimbang, maka pertumbuhan dan produksi tanamanjuga menjadi lebih baik. Model DRIS dapat direkomendasikan untuk membantu pengelolaan pemberian hara yangefisien sesuai kebutuhan tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2010. Determination Macro Nutrient Index on Mango by DRIS Method. Mango ispriority commodity to increase export and as fruit agroindustry in Indonesia. Up till now fertilization on mango hasbeen done based on farmer’s pratices. Diagnosis and Recommendation Integrated System (DRIS) is a method todetermine nutrient requirement by analyzing nutrient ratio in pairs whitin plant tissue. To obtain the efficiency infertilization this method was better than other method. The experiment was carried out in 10 years age of mangoorchard of cv. Arumanis at PT Trigatra Rajasa Situbondo, East Java, from January 2004 until December 2005. Selectionof sample location was based on soil solum depth that were shallow solum (<75 cm), intermediate solum (75-150cm), and deep solum (>150 cm). Twelve trees at each soil solum depth were chosen as sample units determinedby purposive random sampling. The results showed that P was the most dominant nutrient element required by theplant in all location, followed by Mg and N for intermediate and deep solum, while for shallow solum the dominantnutrient was P followed by N. Kalium and Ca nutrient in were efficient all location. N/P nutrient balanced ratio fordeep solum was 6.85, 6.90 for intermediate solum and the normal range was N/P value : 6.29-6.92. For shallowsolum the N/P nutrient balanced ratio was 6.07 at low deficiency range (N/P value: 5.99–6.29). For N/K ratio value(deep solum = 3.23, intermediate solum = 3.38, and shallow solum = 3.02), all solums had balance range (N/Kbalanced value : 3.09-3.33). Similarly for K/P ratio (deep solum = 2.15, intermediate solum = 2.06 and shallowsolum = 2.03), all solums had balanced range (K/P balanced ratio : 2.04-2.12). Results of this study described that Pwas the most dominant nutrient required by the plant in the location. There was relationship between N/P, N/K, andK/P ratio on growth, production, and productivity. If each nutrient ratio was at balance condition it would be obtainedthe optimum growth and production of the plant. Diagnosis and Recommendation Integrated System model could beused to issue recommendation of efficient soil fertilization as it is matched with plant requirement.