Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INSIDEN DAN PROFIL MELASMA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI 2014 SAMPAI DESEMBER 2014 Ni Kadek Setyawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.456 KB)

Abstract

Melasma yang juga diketahui sebagai “chloasma” atau “mask of pregnancy” merupakan penyakit hipermelanosis yang paling sering ditemui dan biasanya terdapat pada bagian wajah yang paling sering terkena paparan sinar matahari. Faktor-faktor lain seperti kosmetik, alat kontrasepsi, dan lain-lain juga dapat berpengaruh terhadap timbulnya melasma. Kegiatan luar rumah tidak luput dari paparan sinar matahari, tidak terkecuali di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insiden terjadinya melasma dan bagaimana profil melasma di Bali, sehingga diambilah sampel dari kartu registrasi melasma di Poli Klinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian profil ini digolongkan berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, lokasi lesi, pola lesi, riwayat pemakaian kosmetik, pengobatan yang didapat, dan keterangan tambahan yang didapat dari sumber penelitian. Insiden melasma di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari 2014 sampai Desember 2014 adalah 54 kasus, dan hanya ditemukan satu kasus laki-laki. Tidak ditemukan kasus pada usia 1-24 tahun dan diatas 65 tahun, 59,2% kasus ditemukan pada usia 25-44 tahun dan 40,8% pada usia 45-64 tahun. Berdasarkan lokasi ditemukan 38,9% pada epidermal, 11,1% pada dermal, 50% pada campuran. Kasus tertinggi berdasarkan pekerjaan ditemukan pada pegawai yaitu 75,9%. Berdasarkan polanya ditemukan 37% sentrofasial, 59% malar, dan 4% mandibular. Dilihat dari riwayat pemakaian kosmetik didapatkan 50% tanpa riwayat, 38,9% kosmetik lain, dan 11,1% kosmetik dari dokter. Didapatkan juga keterangan tambahan dari sumber yang merupakan faktor risiko terjadinya melasma seperti paparan sinar matahari, obat anti hamil, obat hormon, saat hamil, pemakaian kontrasepsi, dan pasca inflamasi. Kata kunci: Melasma, Insiden, Faktor Risiko, Kosmetik
Media Video Pembelajaran Tri Hita Karana Untuk Meningkatkan Daya Serap Siswa Kelas V Sekolah Dasar Ni Kadek Setyawati; I Gusti Ngurah Japa; I Ketut Gading
MIMBAR PGSD Undiksha Vol. 10 No. 3 (2022): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpgsd.v10i3.52820

Abstract

Rendahnya daya Serap pada materi pembelajaran yang membuat hasil belajar siswa menjadi rendah yang diakibatkan karena siswa memerlukan penjelasan secara berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media video pembelajaran berbasis Falsafah Tri Hita Karana pada muatan materi masuknya bangsa eropa ke Indonesia untuk siswa kelas V SD yang telah teruji validitas isi serta telah mendapatkan respon dari guru dan siswa. Jenis penelitian ini yaitu pengembangan dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Subjek penelitiannya adalah 4 orang dosen sebagai ahli, 2 orang guru, dan 12 orang siswa. Sedangkan objek penelitiannya adalah rancang bangun, validitas isi, respon guru dan siswa terhadap media video pembelajaran berbasis Falsafah Tri Hita Karana pada muatan materi masuknya bangsa Eropa ke Indonesia yang dikembangkan. Data yang dihasilkan dibagi menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif yang dikumpulkan melalui wawancara, studi dokumen, dan angket/kuisioner. Instrumen pengumpulan data yang digunakan meliputi rating scale, lembar observasi dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriftif kualitatif. Hasil penelitian yaitu produk yang dihasilkan adalah media video pembelajaran dengan muatan materi IPS yaitu masuknya bangsa Eropa ke Indonesia berbasis Falsafah Tri Hita Karana yang telah dinyatakan valid dengan indeks validasi Aiken Tinggi yang berada pada rentang 0,75-1,00 serta mendapat respon sangat baik dari guru dengan persentase 84% dan mendapat respon siswa secara perseorangan dengan persentase 97% serta dari siswa secara kelompok kecil sebesar 99%. Disimpulkan media video pembelajaran dengan muatan materi IPS layak digunakan dalam pembelajaran.
Glucocorticoid-induced hyperglycemia (GIH) in pemphigus vulgaris patient at Bangli District General Hospital: A case report Ni Kadek Setyawati; A. A. I. A. Nindya Sari; Pande Agung Mahariski
Bali Dermatology Venereology and Aesthetic Journal BDVJ - Vol. 2 No. 2 (December 2019)
Publisher : Explorer Front

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/b53b1w20

Abstract

Background: Pemphigus vulgaris (PV) is an autoimmune disease characterized by mucocutaneous blistering and erosion. This is rare, but greatly affects the patient’s life quality and often cause complication of disease and therapy. Hyperglycemia is a complication due to steroid use called glucocorticoid-induced hyperglycemia (GIH). This case report describes hyperglycemia in PV treatment, which later can be a consideration of PV management. Case: A 44-year-old male patient complained of painful lesions on almost the whole body with a form of bullae, erosion, crusting, brittle, the Nikolsky sign (+), and Asboe-Hansen sign (+). The patient was diagnosed with PV. After he had supportive therapy and high-doses of methylprednisolone, his blood sugar is increased. Patients diagnosed by hyperglycemia state due to steroid use, then given insulin as therapy. The patient diagnosed with PV based on history taking and physical examination, but the histopathologic examination wasn’t done due to lack of modality at the hospital. The steroid was given as an immunosuppressive. Be the main therapy for PV, steroids lead hyperglycemia due to disruption of glucose metabolism, thereby increasing insulin resistance in tissues. The diagnosis of hyperglycemia due to steroid use is made in a patient with a normal sugar level before PV therapy. It occurred within the first 1-2 days of therapy. In these patients, diagnosis confirmed by increasing pre-prandial, 2 h post-prandial, and any-time glucose level, after two days methylprednisolone administration. Collaboration with internal medicine colleagues is needed. Conclusion: PV treatment with steroids can induce hyperglycemia, which is dangerous. The understanding mechanism is needed to make early detection and provide therapy properly.