Ratna Farida Sunarto
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Prosedur Pemasangan TPM, Evakuasi Abses Otak dan Pintas BT pada Anak Usia 6 tahun dengan TOF yang Belum Dikoreksi Sersia Gillianthi Susantio; Ratna Farida Sunarto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v6i2.7723

Abstract

Latar Belakang: Tetralogi Fallot mencakup sebanyak 6% dari seluruh penyakit jantung kongenital. Pasien dengan penyakit jantung kongenital sianotik berisiko tinggi menderita komplikasi neurologis. Peningkatan viskositas darah akibat polisitemia, hipoksemia berat kronis, dan asidosis metabolik menyebabkan kekurangan perfusi otak.Kasus: Seorang anak laki-laki 6 tahun masuk rumah sakit dengan sakit kepala, demam, dan mual muntah selama 2 minggu. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang, ditegakkan diagnosis abses otak, tetralogi Fallot, dan gizi kurang. Dari diskusi multi disiplin diputuskan untuk melakukan kateterisasi jantung dan pemasangan TPM, burr-holing, serta pemasangan Blalock-Taussig shunt. Evaluasi tim anestesi menentukan pasien ASAIV. Selama TPM pasien mendapat midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV dan ketamin 0,3 mg/kg/ IV. Premedikasi dengan atropin 0,01 mg/kg/BB/IV, midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV, metilprednisolon 10 mg/kg/BB/IV, ranitidin 1 mg/kg/BB/IV, dan ondansentron 0,1 mg/kg/ BB/IV. Induksi dengan titrasi ketamin 1,5 mg/kg/BB/IV, fentanyl 2 mcg/kg/BB/IV, dan pancuronium 0,2 mg/kg/BB/IV. Kedalaman anestesi dicapai dengan sevoflurane (0,8-1,5%), dan dipertahankan selama operasi. Operasi selesai dalam waktu 90 menit. Post op pasien dibawa ke ICU. Weaning dilakukan bertahap. Ekstubasi dilakukan pada hari berikutnya dan pasien pindah ke ruang rawat inap.Ringkasan: Right-to-left shunt pada TOF diperburuk dengan meningkatnya PVR, menurunnya SVR, serta spasme infundibular. Teknik anestesi bertujuan untuk mencegah hipoksemia dan spasme infundibular. Tujuan ini dapat dicapai dengan: mempertahankan kecukupan cairan dan SVR, mengurangi PVR, denyut jantung terkontrol dan depresi ringan myokardial, mengurangi peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba.