Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penggunaan sistem informasi geografis untuk pemetaan sebaran kasus dan faktor risiko kejadian penyakit tb. Paru bta (+) di kabupaten majene Wasliah Hasan
Jurnal Sistem Informasi Kesehatan Masyarakat Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Minat Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6646.23 KB) | DOI: 10.22146/jisph.25863

Abstract

 Latar Belakang : Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sampai saat ini merupakan masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Dalam Global TB Report Tahun 2015 terdapat 9,6 juta orang  jatuh sakit dengan tuberculosis, 1,5 juta orang meninggal, terdiri dari 890.000 laki-laki, 480.000 perempuan dan 140.000 anak-anak, termasuk 0,4 juta orang yang positif HIV/AIDS. Kabupaten Majene merupakan kabupaten dengan angka penemuan kasus TB Paru tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat selama 5 tahun, dari tahun 2010 s/d 2014.Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Menggunakan SIG untuk pemetaan dan mengetahui pola sebaran kasus TB Paru  BTA (+).  Terdiri dari 240 responden yang merupakan penderita  TB Paru BTA (+) yang tercatat di layanan kesehatan dari bulan Januari s/d Desember 2016 untuk pemetaan dan 244 responden yang merupakan suspek TB dari bulan Januari s/d Desember 2016 untuk mengetahui hubungan kejadian TB Paru  BTA (+) dengan faktor risiko. Menggunakan software geoda dan stata 13 untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan kejadian TB Paru BTA (+) dan Analisis purely spatial scan statistik menggunakan SaTScan untuk mengetahui adanya cluster kasus.Hasil : Secara statistik terdapat hubungan positif antara ventilasi (p = 0,011), pencahayaan (p = 0,013), kepadatan hunian (0,001), curah hujan (p = 0,05 dan p = 0,001), status gizi kurang (p = 0,000) dan kemiskinan (p = 0,000) dengan kejadian TB Paru BTA (+). Terdapat 3 cluster (nilai p 0,026, 0,027 dan 0,029) pada area dengan rumah tidak sehat tinggi, status gizi kurang tinggi dan kemiskinan yang tinggi.Kesimpulan : Kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Majene memiliki hubungan positif dengan faktor lingkungan dan faktor sosio-ekonomi serta cluster terdapat pada area dengan faktor risiko yang tinggi. Pemetaan kasus dan faktor risiko serta identifikasi cluster diharapkan dapat membantu dalam program pengendalian TB.Kata Kunci : SIG, Faktor Risiko TB Paru BTA (+)