Afifah Nasyahta Dila
KMPK FKKMK, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Intervensi berbasis sekolah sebagai pengembangan program buku harian anak terhebat Afifah Nasyahta Dila
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.825 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37653

Abstract

Buku Harian Anak “Terhebat” (Terbiasa Hidup Bersih dan Sehat) atau BHAT merupakan buku harian yang harus diisi siswa kelas 4 dan 5 SD tentang PHBS harian di rumah, tabel konsumsi anak harian dan pada akhir buku berisi tentang PHBS mingguan di rumah. Sejak diluncurkan pada bulan Agustus 2016, capaian indikator PHBS di rumah tercapai sebesar 85%. Namun, masih ada sekolah yang menganggap sebagai “kegiatan dinkes” semata, bukan sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan. Hal tersebut menjadi ancaman tidak berlanjutnya program BHAT dan tidak tersampaikannya tujuan program ke sasaran. Penelitian ini bertujuan mempertahankan sustainbilitas program BHAT dan meningkatkan peran sekolah dalam menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Studi kasus ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari observasi laporan BHAT dan wawancara pemegang program. Intervensi berbasis sekolah merupakan bentuk tindak lanjut program BHAT dan sekaligus integrasi kegiatan UKS. Data dan informasi dari laporan BHAT setelah dilakukan pemantauan, pelaporan dan analisis, disampaikan kembali pada sekolah dan melibatkan sekolah dalam melakukan upaya kesehatan untuk anak didiknya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan Dinkes Kabupaten Lumajang yaitu melobi Bupati dan lintas sektor untuk mendukung integrasi BHAT dan UKS dalam bentuk intervasi berbasis sekolah, melakukan negoisasi dengan Puskesmas dan Sekolah dalam merancang kegiatan dan anggaran serta mendeskripsikan tupoksi masing-masing sektor, memberikan capacity building bagi petugas UKS atau guru serta merumuskan kebijakan terkait implementasi intervensi berbasis sekolah di Kabupaten Lumajang. Intervensi berbasis sekolah merupakan strategi promosi kesehatan yang efektif untuk membentuk perilaku anak dan mempertahankan sustaibilitas program BHAT serta salah satu upaya pencapaian masyarakat yang sehat dan mandiri.
Kurikulum pendidikan kesehatan di sekolah sebagai upaya meningkatkan kesadaran hidup sehat sejak dini Afifah Nasyahta Dila
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.117 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37658

Abstract

Intervensi kesehatan terkait PHBS harus semakin berkembang terutama pada anak dan remaja selaku aset bangsa. Permasalahan perilaku tidak sehat terkait personal hygiene, kebiasaan sehat dan asupan gizi belum teratasi secara sempurna. Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang berupaya mengatasi masalah PHBS dan merokok pada anak melalui program Buku Harian Anak Terhebat (BHAT). Namun program ini hanya menjangkau siswa kelas 4 dan 5 SD serta belum menentukan strategi sustainabilitas program dan pencapaian harapan. Sedangkan masalah kesehatan bagi anak dan remaja semakin meluas. Kebiasaan merokok, pesta miras, penyalahgunaan narkoba, perilaku seks bebas, balapan liar hingga penggunaan media sosial yang menyimpang merupakan ancaman bagi anak dan remaja di Kabupaten Lumajang. Pemerintah seharusnya mulai merancang intervensi kesehatan untuk mencegah perilaku menyimpang dan tidak sehat bagi seluruh tingkat pendidikan di Lumajang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk menciptakan kota ramah anak melalui pembentukan kurikulum pendidikan kesehatan. Pemerintah Kabupaten Lumajang dapat memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media penyampaian intervensi kesehatan karena berpotensi tinggi untuk diterima secara berkelanjutan oleh anak dan remaja dari berbagai etnis dan tingkat sosial ekonomi. Intensitas penyampaian intervensi kesehatan di sekolah mempengaruhi efektifitas dari pesan kesehatan, sehingga jika setiap minggu siswa menerima pendidikan kesehatan selama 1 jam pelajaran dan diberikan sejak tingkat SD hingga SMA maka upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini telah tercapai secara sustainabilitas. Pembuatan kurikulum pendidikan kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dinas Kesehatan berperan sebagai middle manager melakukan lobbying terhadap Bupati untuk menyetujui program tersebut serta meminta dukungan lintas sektor. Dinas Pendidikan dan Kementerian agama sebagai technostructure merancang kurikulum pendidikan kesehatan di SD hingga SMA. Dinas Kesehatan juga memberikan sosialisasi dan capacity building bagi operating core yaitu Puskesmas dan sekolah terkait penyampaian pesan kesehatan yang efektif kepada anak dan remaja.