Sumarjono Sumarjono
DINAS KESEHATAN KABUPATEN KULONPROGO

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendampingan sebagai alternatif penanganan balita kurang energi protein di masyarakat: pengalaman intervensi gizi Sumarjono Sumarjono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.745 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40133

Abstract

Sampai saat ini permasalahan Kurang Energi Protein  (KEP) di  DIY masih diambang batas permasalahan gizi masyarakat (cut of point 10%.).  Data Pemantauan Status Gizi Kabupaten Kulonprogo Tahun 2015-2017, sebesar 10, 96 %, 12,14 %, 12,22 %. Sedangkan KEP  di Puskesmas Temon I tahun 2016 - 2017 sebesar 12,26  % dan  13,07 %. Sehingga dalam perencanan di tingkat puskesmas masih menjadi prioritas untuk ditangani. Permasalahan KEP berkaitan dengan asupan makanan dan penyakit, sedangkan faktor yang menyebabkan kedua  tersebut sangat beragam. Sehingga untuk penanganan  dibutuhkan kegiatan yang melibatkan program lain (lintas program) bahkan sektor lain dengan tidak meninggalkan sentuhan dan pendekatan sosial kemasyarakatan. Selama ini untuk penanganan KEP adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT). PMT diberikan dalam bentuk pemberian makan dan atau bahan makanan tanpa ada pendampingan secara khusus.Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan, sikap dan merubah perilaku serta memberi  tambahan gizi kepada balita KEP.Pada awalnya kegiatan intervensi ini dilakukan pada 10 balita terpilih dengan melibatkan orang tua, kader, dan pemegang program lain di  puskesmas, namun kegiatan berikutnya disesuaikan dengan jumlah kasus KEP yang ada.  Sebelum kegiatan dilaksanakan diawali dengan advokasi dan sosialisasi di masyarakat.  Selanjutnya kegiatan meliputi kegiatan memasak bersama makan bersama, penyuluhan dan konsultasi, cuci tangan, berdoa, evaluasi, pemeriksaan kesehatan, pemberian bahan makanan, pemantaun berat badan, diskusi perencanaan.   Programer yang terlibat antara lain gizi, kia, farmasi, dokter, promkes, surveilan, imunisasi. Kegiatan intervensi ini selanjutnya dinamakan PENDAMPINGAN. Sampai saat ini penulis sudah mengadakan kegiatan PENDAMPINGAN beberapa kali di wilayah Kokap dan Temon, serta konsultan kegiatan di Girimulyo.Hasil yang diperoleh adalah perbaikan status gizi dan perbaikan status pertumbuhan, peningkatan pengetahuan gizi kesehatan , adanya kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Kata Kunci : PMT, KEP, Pendampingan
Gambaran Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga (PIS-PK) di Puskesmas Temon I Sumarjono Sumarjono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.523 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40224

Abstract

Program Indonesia Sehat merupakan salah sati\u program dari agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Sasaran dari program ini adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta pelaksanaan kegiatan ini di mulai tahun 2017 dengan sasaran pada 30 puskesmas lokasi khusus.  Puskesmas Temon I merupakan salah satu dari 30 puskesmas tersebut dan 3 dari puskesmas yang ada di Kulon Progo yang dijadikan lokasi khusus. Sebagai program yang baru tentu saja perlu disosialisasikan baik internal maupun eksternal.  Puskesmas merupakan pelaksana dalam program diharapkan mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi  dan memanfaatkan serta mengimplentasikannya. Tujuan penulisan ini adalah  memberikan gambaran tentang pelaksanaan dan perkembangan Program Indonesia Sehat melalaui Pendekatan Keluarga di wilayah Puskesmas Temon I. Metode penulisan ini adalah paparan/eksplorasi tentang PIS-PK di Puskesmas Temon I yang  bersumber pada data primer.dan sekunder. Data primer meliputi input, proses, keluaran, dan dampak PIS-PK, sedangkan data sekunder untuk melengkapi data primer  diperoleh dari wawancara kepala puskesmas, karyawan, dan masyarakat. Hasil : Berdasarkan data primer dan  wawancara dengan kepala puskesmas diperoleh informasi bahwa Puskesmas Temon I telah melaksanakan kegiatan PIS-PK sejak tahun 2017, dimulai dengan pembentukan tim,  dan berlanjut sampai saat ini. Pencapaian hasil kunjungan rumah sudah mencapai 100 %, artinya semua rumah/kepala keluarga sudah terkunjungi sampai dengan tahun 2018. Capaian Indeks Keluarga Sehat (IKS) sampai dengan 2018 awal sebesar 0.173. Data IKS sudah dimanfaatkan untuk data dasar pelaksanaan program perkesmas dan program lain.
Optimalisasi pemantauan pertumbuhan sebagai salah satu upaya pencegahan stunting pada anak balita Sumarjono Sumarjono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.24 KB) | DOI: 10.22146/bkm.43847

Abstract

Latar belakang: Anak balita (0-2 tahun) merupakan periode yang rawan terhadap kegagalan pertumbuhan, baik yang berkaitan dengan berat badan atau panjang badan. Untuk mengetahui pertumbuhannya perlu dilakukan pemantauan secara rutin dan terus menerus oleh petugas. Pemantauan pertumbuhan meliputi pengukuran berat badan dan panjang badan, pencatatan, interpretasi, dan tindak lanjutnya. Jika pemantauan pertumbuhan dilakukan sesuai prosedur maka permasalahan akan lebih awal diketahui dan lebih mudah ditanggulangi. Tujuan: Penelitian ini mengeksplorasi upaya pencegahan stunting terkait persoalan pemantauan pertumbuhan pada anak balita di posyandu dan puskesmas. Eksplorasi dilakukan dengan pengamatan pada pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di posyandu dan Puskesmas Temon I. Hasil: Pertama sumber daya manusia terkait pemantauan pertumbuhan masih rendah. Kedua, sumber daya sarana terutama alat pengukur panjang badan sebagian besar tidak memenuhi syarat. Ketiga, Kepatuhan terhadap prosedur pemantauan pertumbuhan pada langkah rujukan sebagain besar tidak dilakukan. Kempat, petugas tidak mentaati penggunaan 3 indikator status gizi (BB/U, BB/PB, PB/U) untuk memantau pertumbuhan. Simpulan: Hasil diatas menunjukkan pentingnya pemerintah memikirkan peningkatan sumber daya manusia, sarana prasarana dan kepatuhan prosedur pemantauan pertumbuhan pada anak balita. Pemantauan pertumbuhan pada nak balita akan berperan penting dalam pencegahan stunting. Posyandu dan puskesmas perlu memiliki sumber daya manusia dan sarana prasarana yang cukup serta optimalisasi rujukan jika ditemukan masalah pertumbuhan.
Peranan kader dalam meningkatkan kemandirian pada orang dengan gangguan Jiwa Sumarjono Sumarjono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.212 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44236

Abstract