Titi Supriati
Puskesmas Girimulyo II, kabupaten Kulon Progo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menuju eliminasi malaria Kab. Kulon Progo: pendekatan social behavior change communication (SBCC) Titi Supriati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.502 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44648

Abstract

Tujuan: Kabupaten Kulon Progo merupakan daerah menoreh endemis malaria  dengan angka kesakitan yang fluktuatif. Dari data dinas Kesehatan DIY kasus selama tahun 2015 hingga 2018 terdapat 126 kasus tahun 2015, 95 kasus tahun 2016, 84 kasus tahun 2017 dan 8 kasus hingga Juli 2018(Dinkes DIY, 2017) Komitmen pemerintah Kabupaten Kulon Progo dalam upaya eliminasi malaria dengan Peraturan Bupati No. 67 tahun 2013 sebagai dasar eliminasi malaria tahun 2021.Metode: Penelitian menggunakan literature review dalam paparan prevalensi malaria dan dari berbagai hasil penelitian.Hasil: Faktor determinan menjadi kendala dalam pengendalian malaria, 1. perilaku masyarakat menganggap malaria bukan masalah kesehatan yang mengancam, dengan tingkat kewaspadaan masyarakat rendah; 2. Berdasarkan area transmisi sebagai low risk transmission, menuju zero malaria penanganan dan pengendalian pada perilaku tidaklah cukup. Perubahan social dengan pergeseran perilaku seluruh  komunitas, diperlukan untuk membangun  dan  memelihara budaya kewaspadaan terhadap malaria dengan cakupan tinggi akan melindungi komunitas. Pendekatan malaria SBCC (Social Behavior Change Comunication. 1. Peningkatan pengetahuan pada individu sebagai upaya pencegahan; 2. Pada tingkatan sosial masyarakat akan mengurangi hambatan yang terjadi di keluarga dan memberi dukungan dalam pengambilan keputusan saat pengobatan, pemeriksaan malaria pada anak yang demam dan antenatal ibu hamil; 3. Dan pada level regulator untuk menyediakan kebutuhan obat malaria terstandarisasi, pedoman pengobatan terkini untuk petugas kesehatan, menetapkan kebijakan surveillan migrasi lintas batas.Simpulan: Akselerasi menuju eliminasi malaria , dengan penanganan  secara holistic dari masyarakat, petugas kesehatan dan stakeholder terkait. Keberlanjutan penanganan malaria sangat bergantung pada kesadaran masyarakat terhadap penyakit malaria dan surveilan migrasi, ketrampilan dan kemudahan akses terhadap petugas kesehatan dan komitmen pemangku kebijakan terhadap penanganan bersama melalui kebijakan lintas batas menoreh berdasarkan daerah epidemiologi bukan administrasi
Pengendalian hipertensi melalui intervensi berbasis masyrakat Titi Supriati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.586 KB) | DOI: 10.22146/bkm.44654

Abstract

Tujuan: Peningkatan Penyakit Tidak Menular sudah menjadi masalah kesehatan dalam satu decade terakhir ini, terbukti dari hasil Riskesadas 2018 menunjukkan hipertensi meningkat dari 25,8 % menjadi 34,1 %, peningkatan prevalensi stroke dari 7 % menjadi 10,9 %. Hipertensi adalah kondisi penyakit yang dapat dicegah terkait dengan gaya hidup yang tidak sehat termasuk merokok dan kurangnya aktivitas fisik merupakan  faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, infark miokard dan stroke. Sebagian besar penyebab penyakit kardiovakular tejadi pada penderita hipertensi  akibat ketidakteraturan mengontrolkan tekanan darah, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi dan kurangnya interaksi dengan petugas kesehatan, terapi yang tidak adekuat dan faktor social economi.Metode: Penelitian ini menggunakan literature review dalam paparan prevalensi hipertensi dan dari berbagai hasil penelitian.Hasil: Hipertensi merupakan beban kesehatan masyarakat, sehingga membutuhkan strategi yang menekankan pada peningkatan kesehatan masyarakat di layanan kesehatan primer. Hambatan yang muncul dalam melakukan kontrol tekanan darah secara teratur diantaranya konseling yang kurang memadai, kurangnya pemahaman tentang penyakit, kesulitan mengakses dokter dan rendahnya kepatuhan pengobatan. Strategi yang dilakukan melalui intervensi berbasis masyarakat dalam mengendalikan hipertensi dengan melibatkan petugas kesehatan masyarakat dalam pencegahan hipertensi, perawatan berbasis tim untuk meningkatkan control tekanan darah dan skrining hipertensi melibatkan komunitas telah banyak mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovascular.Simpulan: pengendalian hipertensi melalui intervensi berbasis masyarakat yang menargetkan perubahan perilaku kesehatan dan kepatuhan pengobatan efektif mengurangi biaya perawatan kesehatan jangka panjang. Rekomendasi keberhasilan intervensi melalui penguatan sistem kesehatan pada layanan kesehatan primer dan melibatkan komunitas untuk memperluas layanan promotif dan preventif lebih efektif  berdampak terhadap ekonomi dan  keberlanjutan program.