Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN CEDERA BAHU PADA PEMAIN BULUTANGKIS DI KOTA SEMARANG Indah Nurul Maghfiroh; Sigit Muryanto; M.Riza Setiawan
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Aktivitas olahraga banyak menggunakan kemampuan lengan secara berlebihan dan berulang- ulang dan dengan frekuensi tinggi. Peralatan olah raga yang tidak ergonomis akan menyebabkan timbulnya otot bekerja berlebihan. Pemain bulutangkis sangat rentan terhadap terjadinya cedera pada bahuTujuan : Menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian cedera pada bahu pemain bulutangkis di kota Semarang.Metode: Survai cross sectional analitik ini melibatkan 80 responden yang diambil secara acak proporsional dari30 klub bulutangkis di kota Semarang. Data faktor risiko diambil melalui wawancara dengan kuesioner, Tekhnik pengambilan sampel dengan proporsional random sampling, dimana didapatkan sebanyak 80 sampel. Data dianalisis menggunakan program komputer.Hasil : Cedera bahu dialami oleh 67,5% pemain, 48,1% karena kurang pemanasan, 88,9% karena teknikkeliru, 20,4% karena kebugaran rendah, dan 14,8% karena nutrisi kurang seimbang. Sedangkan jenis cedera yang sering terjadi yaitu spasme otot (45%), sprain (8,8%), strain (6,3%), dislokasi (5%), subluksasio (1,3%) dan ruptur ligamentum (1,3%). Hasil analisis bivariat dengan chi square didapatkan hasil, ada hubungan yang signifikan antara kurang pemanasan dengan kejadian cedera bahu (p = 0,000), ada hubungan yang signifikan antara teknik keliru dengan kejadian cedera bahu (p = 0,000), ada hubungan yang signifikan antara kebugaran rendah dengan kejadian cedera bahu (p = 0,013), ada hubungan yang signifikan antara nutrisi kurang seimbang dengan kejadian cedera bahu (p = 0,039). Sedangkan analisis multivariat didapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian cedera bahu dalam penelitian ini adalah kurang pemanasan, dimana diperoleh nilai p = 0,003 dan OR = 11.573.Kata kunci: Faktor risiko, cedera bahu, olahraga bulutangkis
Korelasi Tehnik Bermain dengan Cidera Bahu pada Pemain Bulu Tangkis Muhammad Riza Setiawan; Sigit Muryono; Indah Nurul Maghfiroh
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 4 (2015): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.991 KB)

Abstract

Latar Belakang: Olahraga bulutangkis merupakan suatu usaha untuk menjatuhkan shuttlecock didaerah permainan lawan dan berusaha agar lawan tidak memukul shuttlecock kembali dan menjatuhkannya di daerah permainan sendiri. Bulutangkis merupakan olahraga yang banyak menggunakan kemampuan lengan dimana penggunaan lengan secara berlebihan dan berulang-ulang dan dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan timbulnya otot bekerja berlebihan, tidaklah mengherankan apabila dalam olahraga bulutangkis seorang pemain bulutangkis sangat rentan terhadap terjadinya cedera. Cedera menjadi suatu risiko bagi siapa saja yang berolahraga baik pemain biasa ataupun atlet.Tujuan :Menganalisis korelasi antara teknik bermain dengan cedera pada bahu (cingulum membri superioris) akibat aktivitas olahraga bulutangkis di Kota Semarang.Metode:Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik deskriptif atau survey analitik, dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan retrospektif. Penelitian ini dilaksanakan di tiga puluh klub bulutangkis di Kota Semarang.Tekhnik pengambilan sampel dengan proporsional random sampling, dimana didapatkan sebanyak 80 sampel. Seluruh proses pengolahan dan analisis data menggunakan program komputer.Hasil :Berdasarkan 80 sampel pemain bulutangkis, sebanyak 54 pemain (67.5%) pernah mengalami cedera bahu. Dan dari 54 pemain yang mengalami cedera bahu, sebanyak 48 (88.9%) disebabkan karena teknik keliru. Untuk hasil bivariat dengan chi square didapatkan hasil, ada hubungan yang signifikan antara teknik keliru dengan kejadian cedera bahu (p = 0,000). Sedangkan jenis cedera yang sering terjadi yaitu spasme otot (45%), sprain (8.8%), strain (6.3%), dislokasi (5%), subluksasio (1.3%) dan ruptur ligamentum (1.3%).Simpulan : Teknik bermain yang salah pada olahraga bulu tangkis mempengaruhi terjadinya cidera bahu.Kata kunci:Teknik Bermain, cedera bahu (cingulum membri superioris), olahraga bulutangkis
Conservative Management of Non-Traumatic Spontaneous Bilateral Deep Intracerebral Hemorrhage: Neurological Perspectives from Two Cases Indah Nurul Maghfiroh
The International Journal of Medical Science and Health Research Vol. 34 No. 2 (2026): The International Journal of Medical Science and Health Research
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/4zjqf123

Abstract

Introduction: Non-traumatic spontaneous bilateral intracerebral hemorrhage (PISBNT) is a rare subtype of hemorrhagic stroke and is often perceived as having a poor prognosis. Accurate etiological assessment and appropriate management are critical to guide clinical decision-making. Case Illustration: We report two cases of PISBNT. The first involved a 34-year-old man presenting with acute right-sided hemiparesis and dysarthria, found to have bilateral lentiform nucleus hemorrhages. The second was a 65-year-old woman with left-sided hemiparesis and dysarthria, with bilateral thalamic hemorrhages. Both patients presented with elevated blood pressure. Non-contrast CT confirmed bilateral deep intracerebral hemorrhage, while CT angiography excluded secondary vascular causes. No mass effect or intraventricular extension was observed. Discussion: Both patients were managed conservatively with strict blood pressure control and comprehensive stroke unit care. Structured etiological reasoning supported hypertension as the primary cause. Despite bilateral involvement, neurological status improved progressively during hospitalization. Follow-up imaging at six months demonstrated complete hematoma resorption, and both patients achieved favorable functional outcomes (mRS 1). Conclusion: PISBNT does not inevitably predict poor outcome. When guided by systematic neurological assessment and conservative management, selected patients can achieve excellent recovery. These cases highlight the importance of individualized clinical reasoning in managing rare bilateral intracerebral hemorrhage.