Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI TERHADAP MAKANAN TRADISIONAL JAWA TIMUR: STUDI AWAL TERHADAP MAHASISWA PERGURUAN TINGGI SWASTA DI SURABAYA Priskila Adiasih; Ritzky K.M.R. Brahmana
KINERJA Vol. 19 No. 2 (2015): Kinerja
Publisher : Faculty of Business and Economics Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/kinerja.v19i2.538

Abstract

Traditional food seems to not have a big appeal for students and that it is not as good as modern food. Interestingly, the students can not define which one is the traditional food. The lack of the knowledge of the traditional food makes them confused since in their own household they are never given the information about it. Although the traditional food is being offered at a unique restaurant with a good atmosphere and good visual, they do not think it is enough for them to choose the traditional food over modern food.Keywords: indonesia, traditional food, consumer perceptions
INOVASI VENUE DAN BUDAYA: PENDEKATAN HIBRIDA UNTUK PENGEMBANGAN MICE DAN PARIWISATA BERKELANJUTAN DI BALI Priskila Adiasih; Gunawan Tanuwidjaja; Michael Brahmantyo Murgito; Paramesti Yasminastiti; Fellicia Natalia Mewandy; Janice Rieger
Seminar Nasional Ilmu Terapan Vol 9 No 1 (2025): Vol 9 No 1 (2025): Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) 2025
Publisher : Universitas Widya Kartika Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mengusulkan model arsitektur hibrida untuk mengembangkan pariwisata Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) atau Pertemuan, Insentif, Konferensi, dan Pameran yang berkelanjutan di Bali dengan mengintegrasikan warisan budaya dan desain ramah lingkungan. Berlandaskan kosmologi Bali (Tri - Niskala, yang merupakan interaksi antara dunia nyata dan gaib), penelitian ini mengidentifikasi kelemahan pada fasilitas existing melalui penelitian etnografis, penilaian aksesibilitas, dan analisis acara hibrida. Temuan menunjukkan bahwa infrastruktur MICE saat ini di Denpasar menghadapi tantangan dalam adaptabilitas ruang, kualitas akustik, dan inklusivitas, yang membatasi kemampuannya untuk menyelenggarakan acara modern dan hibrida. Wawasan etnografis dari pemangku kepentingan lokal menyoroti pentingnya simbolisme ruang suci dan akustik alami dalam tradisi pertunjukan Bali. Pada saat yang sama, penilaian aksesibilitas lima venue menyoroti kelemahan sistemik dalam desain universal. Desain yang diusulkan di penelitian ini mengintegrasikan zonasi Tri Mandala—memisahkan zona publik, transisi, dan suci—dengan strategi berkelanjutan seperti ventilasi alami, pengumpulan air hujan, dan tata letak modular. Infrastruktur digital yang siap hibrida diintegrasikan tanpa mengorbankan keaslian budaya, memastikan kesesuaian dengan tren MICE global. Desain ini menekankan kolaborasi pemangku kepentingan, menunjukkan bagaimana arsitek, penampil, dan pembuat kebijakan dapat bersama-sama menciptakan venue yang tangguh yang menyeimbangkan kelayakan ekonomi, tanggung jawab lingkungan, dan pelestarian budaya. Melalui integrasi filsafat Bali dan arsitektur hijau, studi ini menyajikan sebuah kerangka kerja yang dapat diadopsi oleh kawasan pariwisata untuk melakukan inovasi dan menjaga identitas lokal. Temuan-temuan ini mendorong insentif kebijakan yang mendukung infrastruktursiap hibrida dan proses desain partisipatif, dengan menempatkan integritas budaya sebagai landasan utama pengembangan pariwisata berkelanjutan.