This Author published in this journals
All Journal Juke
Shinta Nareswari
Bagian Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Cutaneous Larva Migrans yang Disebabkan Cacing Tambang Shinta Nareswari
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.668 KB)

Abstract

Cutaneous larva migrans yang disebabkan cacing tambang adalah suatu penyakit kulit akibat parasit yang disebabkan oleh migrasi dari larva cacing tambang binatang pada epidermis kulit manusia. Larva ini tidak mampu melakukan penetrasi membrana basalis dari kulit manusia, sehingga mereka tidak mampu berkembang dan melanjutkan siklus hidupnya. Cutaneous larva migrans yang disebabkan cacing tambang merupakan self-limiting disease. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, kelainan kulit dapat menetap selama berbulan-bulan. Penularan terjadi ketika kulit terbuka berkontak dengan tanah yang terkontaminasi. Diagnosis ditegakkan secara klinis. Hal ini didukung dengan riwayat perjalanan dalam waktu dekat dan kemungkinan paparan. Gejala klinis berupa papula kecil berwarna kemerahan yang diikuti degan jalur kemerahan, berbentuk garis, sedikit menonjol menjalar pada kulit. Rasa gatal timbul makin lama semakin sering. Infeksi sekunder oleh bakteri dapat terjadi sebagai akibat dari menggaruk. Obat pilihan pada penyakit ini yaitu ivermektin dalam dosis tunggal. Pemberian albendazol dalam dosis berulang merupakan alternatif terbaik pada negara di mana tidak tersedia ivermektin. Pemberian albendazol secara topikal dapat dipertimbangkan bagi orang-orang yang dikontraindikasikan terhadap ivermektin dan albendazol oral. Untuk mengontrol cutaneous larva migrans yang disebabkan cacing tambang pada level komunitas, perlu dilakukan pengobatan berkala kepada anjing dan kucing dengan obat anti helmintik. Hewan harus dijauhkan dari pantai dan area bermain. Untuk perlindungan pada level individu, kulit yang tidak terlindung harus jauh dari kontak dengan tanah yang kemungkinan terkontaminasi. [JuKe Unila 2015; 5(9):129-133]