Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENINGKATKAN KERJA FUNGSI GINJAL DENGAN KONSUMSI TEPUNG GANYONG (Canna edulis Kerr.) Grin Fariah; Endang Darmawan
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 10, No 2: September 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.441 KB) | DOI: 10.12928/mf.v10i2.1168

Abstract

Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada sendi dan jari. Ganyong dengan kandungan karbohidrat yang tinggi dapat meningkatkan fungsi kerja ginjal yang diujikan pada tikus yang mengalami hiperurisemia dengan melakukan diet fiber. Hiperurisemia adalah keadaan di mana terjadi peningkatan asam urat di dalam darah darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsumsi tepung ganyong pada tikus yang menderita penyakit gout terhadap fungsi ginjal. Penetapan kadar kreatinin plasma tikus menggunakan metode Jaffe (Creatinine FS). Perlakuan pemberian suspensi tepung ganyong tersebut dilakukan pada hari ke-1, 3,dan 7. Data kadar kreatinin rata-rata antar kelompok perlakuan dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskall-Wallis (non parametrik) dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung ganyong selama 7 hari dapat menurunkan kadar kreatinin rata-rata pada tikus yang diinduksi dengan kalium oksonat (p<0,05). Hal ini ditunjukan oleh nilai AUC kelompok pemberian tepung ganyong dosis 0,75; 1,5; 2,5 g/kgBB (p.o.) adalah secara berturut-turut sebesar 26,67 ± 3,96, 28,10 ± 4,80, dan 23,41 ± 4,84 (p<0,05),Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung ganyong selama 7 hari dapat menurunkan kadar kreatinin plasma tikus yang diinduksi dengan kalium oksonat, lebih lanjut dapat memperbaiki fungsi kerja ginjal.
EVALUASI PENGGUNAAN SEDIAAN PARASETAMOL PADA PASIEN PEDIATRI ISPA DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL YOGYAKARTA PERIODE 2018 Ulfa Dwi Rokhmaniah; Endang Darmawan
Pharmacoscript Vol. 3 No. 1 (2020): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v3i1.385

Abstract

Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat  di negara maju dan berkembang. Salah satu gejala infeksi adalah demam. Parasetamol merupakan pilihan pertama dalam mengurangi demam. Tujuan dari penelitian ini  untuk mengetahui penggunaan parasetamol sediaan sirup, injeksi, drop dan suppositoria berdasarkan penurunan suhu pasien pediatri ISPA di instalasi rawat inap RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta periode 2018. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif, desain penelitian cross-sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel yang diperoleh sebanyak 119 pasien dan 70 pasien yang memenuhi kriteria inklusi kemudian sampel dibagi menjadi 4 kelompok yang mendapat terapi parasetamol sediaan sirup ( n=42),  drop (n=9), injeksi (n=10) dan suppositoria (n=9). Hasil penelitian sebanyak 55,7% di dominasi oleh laki-laki, dan 51,4% yang berusia lebih dari atau 3 tahun serta 61,4% memiliki berat badan kurang dari 15 kg. Nilai p < 0,05 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara bentuk sediaan parasetamol terhadap suhu tubuh tiap 8 jam. Parasetamol sediaan injeksi paling cepat dalam menurunkan suhu tubuh. Kesimpulan yang di peroleh sediaan parasetamol yang paling banyak digunakan adalah sirup 60%. Ada perbedaan bermakna antara jenis sediaan dan suhu tubuh setip 8 jam setelah di terapi parasetamol. Rata-rata suhu tubuh menunjukkan parasetamol sediaan injeksi paling cepat dalam menurunkan suhu tubuh di bandingkan sediaan sirup, drop dan suppositoria.