Fakhrina Fahma
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta Jl. Ir. Sutami 36 A Kentingan Surakarta *) Email : fakhrina09@gmail.com

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) PENGOLAHAN PASCA PANEN RIMPANG TANAMAN OBAT DAN IDENTIFIKASI GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) DI KLASTER BIOFARMAKA KARANGANYAR Fakhrina Fahma; Wahid A. Jauhari; Pungky Nor Kusumawardhani
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini banyak masyarakat yang beralih dari mengkonsumsi obat kimia ke obat herbal yang berasal dari tanaman obat (biofarmaka). Perubahan pola konsumsi obat ini dikarenakanobat herbal memiliki risiko efek samping yang minim apabila digunakan secara tepat. Produk biofarmaka yang salah satunya berasal dari tumbuhan sangat berpotensi untuk pengembangan Industri Obat Tradisonal (IOT) dan kosmetika (Purnaningsih, 2008). Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah telah mengembangkan beberapa klaster biofarmaka salah satunya di Karanganyar.  Meskipun Karanganyar dikenal sebagai daerah yang berpotensi besar dalam produk biofarmaka, masih terdapat banyak masalah yang menghambat pengembangan biofarmaka terutama yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas supply produk yang dipanen. Masalah tersebut muncul dikarenakan tidak adanya suatu sistem penjaminan  mutu dari hasil panen tanaman-tanaman biofarmaka. Untuk menjamin mutu produk dari klaster perlu adanya dokumentasi terkait budidaya dan proses produksi. Sistem pendokumentasian mutu dapat berupa Standard Operating Procedure (SOP) dari budidaya tanaman hingga pasca panen dan GMP (Good Manufacturing Practices) Planyang mengatur agar hasil pengolahan proses produksi nantinya sesuai dengan standar mutu dan  aman untuk dikonsumsi. SOP disusun berdasarkan studi kasus di Kelompok Tani Sumber Rejeki I dan studi lapangan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT).  Metode yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan ketua dan pengurus klaster, ketua dan anggota kelompok tani, dan pihak-pihak terkait lainnya yaitu dinas pertanian dan B2P2TO-OT.  SOP ini dapat digunakansebagai SOP percontohan di kelompok-kelompok tani lainnya. SOP ini sebagai standarisasi untuk meminimalkan variasi proses budidaya dan pasca panen antar kelompok tani, sehingga dapat menjamin mutu produk biofarmaka yang dihasilkan. Pengembangan dan penggunaan SOP dapat meminimasi variasi output dan meningkatkan kualitas melalui implementasi yang konsisten pada proses atau prosedur di dalam organisasi (U.S. Environmental Protection Agency, 2007).  SOP yang tersusun nantinya dapat diimplementasikan sehingga tercapai cara penanganan dan pengolahan pangan hasil pertanian yang baik melalui Good Manufacturing Practices (GMP). Dengan adanya sebuah sistem dokumentasi GMP (GMP Plan) diharapkan klaster memiliki sebuah pedoman untuk dapat mengimplementasikan proses pasca panen yangbaik, sehingga dapat menghasilkan produk yang aman dan dapat memenuhi standar penerimaan baik pasar maupun perusahaan jamu. Kata kunci: Klaster biofarmaka, SOP, GMP, Rimpang Biofarmaka
PENETAPAN HARGA POKOK PRODUKSI (HPP) PRODUK RIMPANG TEMULAWAK MENGGUNAKAN METODE FULL COSTING SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA JUAL (STUDI KASUS : KLASTER BIOFARMAKA KABUPATEN KARANGANYAR) Fakhrina Fahma; Murman Budijanto; Ayu Purnama
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan sentra produksi biofarmaka terbesar di Jawa Tengah dengan luas area lahan 270 hektar dan  jumlah produksi mencapai 1.390.700 kg (Balitpang Provinsi Jawa Tengah, 2010). Demi membantu pengembangan biofarmaka pemerintah Kabupaten Karanganyar membentuk lembaga Klaster Biofarmaka yang beranggotakan 10 kelompok tani. Produk unggulan klaster yang banyak diminati oleh konsumen adalah rimpang temulawak, simplisia temulawak, dan serbuk temulawak. Harga tawar produk yang ditentukan oleh Klaster Biofarmaka kepada petani cenderung rendah, sehingga petani lebih memilih menjual produknya ke tengkulak. Hal ini  terjadi karena rendahnya pengetahuan petani mengenai cara menetapkan harga jual produk sehingga petani tidak memiliki daya tawar produk yang baik. Untuk menghindari adanya kesalahan dalam perhitungan harga pokok produksi temulawak dan untuk menghasilkan biaya yang efisien diperlukan penerapan suatu metode yang tepat untuk menghitung penetapan harga pokok produksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode full costing. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditunjukkan bahwa hasil dari perhitungan harga pokok produksi (HPP) dengan menggunakan metode full costing untuk produk temulawak basah adalah Rp 2.116 per kilogram, produk simplisia temulawak adalah Rp 21.278, dan produk serbuk temulawak adalah Rp 47.557. Kata kunci: biofarmaka, klaster, temulawak, harga.