Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS STABILITAS LERENG DAERAH SENGI MENGGUNAKAN SLOPE/W SEBAGAI REFERENSI KELAYAKAN PEMINDAHAN CANDI LUMBUNG SENGI N. K. Wiguna; A. Rifa’i; S. Siswosukarto
JURNAL TEKNIK SIPIL ITP Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil (JTS) ITP
Publisher : LP2M ITP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.02 KB)

Abstract

Peninggalan sejarah budaya yang terdapat di Indonesia merupakan salah satu anugerah keanekaragaman yang harus dilestarikan. Candi Lumbung Sengi merupakan peninggalan sejarah kerajaan Hindu yang terdapat di Jawa Tengah. Kaki lereng pada tempat awal berdirinya candi mengalami erosi yang disebabkan oleh banjir lahar dingin hasil erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Dilakukan penelitian tentang lapisan bawah permukaan tanah, jenis tanah di lapangan, serta stabilitas lereng pada lokasi awal berdirinya candi. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini berguna sebagai referensi kelayakan pemindahan candi. Penyelidikan tanah di lapangan menggunakan metode Cone Penetration Test (CPT) dan pengujian Geolistrik 2D menggunakan alat NANIURA model NRD 300 HF untuk mengetahui pola perlapisan bawah tanah. Klasifikasi jenis tanah di lapangan menggunakan sistem klasifikasi tanah Unified dan untuk analisis stabilitas lereng menggunakan Limit Equilibrium Method metode Morgenstern-Price dengan bantuan software SLOPE/W 2012. Konfigurasi yang digunakan untuk pengujian Geolistrik 2D adalah Wenner-Schlumberger. Dari pengujian tanah di laboratorium, didapatkan 3 jenis tanah yaitu SM, SP, dan SW. Gempa menjadi salah satu parameter yang dimasukkan ke dalam analisis stabilitas lereng. Faktor keamanan lereng untuk kondisi di lapangan menunjukkan angka aman yang stabil yaitu sebesar 2,877. Ketika parameter gempa dimasukkan dalam analisis, faktor keamaan lereng turun menjadi 2,024 dan ketika simulasi kaki lereng terendam air faktor keamaan lereng menjadi 2,582. Terdapat beberapa pemodelan yang dianalisis dalam penelitian ini, sehingga dapat diketahui pemodelan yang bagaimana yang dapat memenuhi kriteria angka aman dalam SNI 03-1962-1990 tentang Tata Cara Penanggulangan Longsor sebagai dasar perencanaan.Kata kunci: faktor keamanan, klasifikasi tanah, sengi
UNJUK KERJA SISTEM DRAINASE POROUS DALAM PENANGANAN GENANGAN DI HALAMAN CANDI PRAMBANAN BERDASARKAN SIMULASI NUMERIK F. A. Putri; A. Rifa’i; S. Siswosukarto
JURNAL TEKNIK SIPIL ITP Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil (JTS) ITP
Publisher : LP2M ITP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.615 KB)

Abstract

Candi Prambanan merupakan situs bersejarah yang terletak di daerah dengan curah hujan tinggi, DIY. Genangan air sering yang terbentuk pada halaman candi setelah terjadi hujan terjadi karena kurang efektifnya tanah dalam menginfiltrasi air. Sistem drainase berpori telah dirancang sebagai solusi permasalahan genangan di halaman Candi Prambanan yang terdiri dari drainase bawah permukaan dan paving block di permukaan tanah menggunakan material beton berpori. Beton berpori yang digunakan merupakan jenis beton non pasir dengan Bantak Merapi dan abu vulkanik sebagai agregatnya. Pembuatan beton tanpa menggunakan pasir menyebabkan meningkatnya pori-pori beton hingga mencapai 20-25% dengan koefisien permeabilitas sebesar 1.3 × 10-3 m/s, jauh lebih besar dari tanah pasir pada halaman candi yang sebesar 1.2 × 10-5 m/s. Sistem drainase dimodelkan dengan mewakilkan kondisi di halaman candi menjadi tiga potongan melintang menggunakan software Seep/W untuk melihat keefektifan saluran drainase dalam mengalirkan air. Fungsi hujan jam-jaman kondisi ekstrim dengan kala ulang 10 tahun sebesar 146.894 mm dan kala ulang 15 tahun sebesar 155.409 mm serta hujan bulanan pada bulan terbasah yaitu pada Februari 2013 digunakan pada kondisi awal saluran drainase. Dari fungsi hujan jam-jaman maksimum dapat dilihat bahwa ketika hujan, permukaan paving menjadi jenuh air, namun tidak membentuk genangan air. Sedangkan dari hasil simulasi hujan bulanan, dapat dilihat bahwa ketika terjadi hujan, paving dan saluran drainase menjadi jenuh. Namun setelah hujan berhenti, air dapat dengan cepat terinfiltrasi dari permukaan paving ke daluran drainase dan kemudian dilanjutkan ke dalam tanah. Sehingga penggunaan sistem drainase berpori dinilai efektif dalam mempercepat infiltrasi air hujan dan mencegah terbentuknya genangan.Kata Kunci: drainase berpori, genangan, hujan, Seep/W