Hari Darmawan
Departemen/Bagian Dermatologi Dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya / Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Moh. Hoesin, Palembang, Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Isolasi dan Identifikasi Spesies Dermatofita Penyebab Tinea Kruris di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer Inda astri aryani; Fifa Argentina; Sarah Diba; Hari Darmawan; Grady Garfendo
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V7I1.7761

Abstract

Dermatofita merupakan kelompok jamur yang mampu menginvasi keratin (kulit, kuku, rambut). Dermatofitosis di pangkal paha, genitalia, pubis, perineum, dan perianal disebut tinea kruris. Diagnosis ditegakkan berdasarkan klinis dan diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis dan biakan. Isolasi spesies jamur dilakukan dengan agar dekstrosa Saboraud dan identifikasi dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik menggunakan lactophenol cotton blue. Penelitian menggunakan metode observasional deskriptif dengan rancangan potong lintang dilakukan pada pasien tinea kruris di pusat kesehatan primer Palembang pada 60 subjek penelitian yang termasuk kriteria inklusi. Berdasarkan hasil biakan, ditemukan 25 biakan jamur positif. Insidensi terbanyak pada usia kisaran 15-24 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Sebagian besar pasien memiliki riwayat higienitas kurang baik dan tidak memiliki hewan peliharaan. Jamur Tricophyton rubrum diisolasi dari sebagian besar biakan (56%).
The Role Protein Sonic Hedgehog in Carcinoma Basal Cell Yulia Farida Yahya; Radema Maradom; Hari Darmawan; Theresia L. Toruan; Ika Kartika
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 5 No. 2 (2021): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v5i1.210

Abstract

A B S T R A C TIntroduction: Basal cell carcinoma (KSB) is a non-melanoma skin cancer (KKNM),which is most commonly found compared to other skin cancers. KSB originates fromstem cells in the bulk of hair follicles or inter-follicular epidermis, through the Sonichadgehog (SHH) activation pathway, an increase in Sonic hadgehog (SHH) proteinexpression, involving Patches protein (PTCH), smothened protein (SMO), in the formof increased protein transcription activation Glia (GLI) in the nucleus, binds to DNAto initiate tumor-aggressive growth and tissue. Objective: to determine therelationship between Sonic hadgehog (SHH) expression and non-aggressive andaggressive basal cell carcinoma. Methods: The study was carried out in anobservational laboratory with 35 primary KSB patients, the tissue was taken usingelliptic biopsy technique, made paraffin block specimens for histopathologicalexamination of the subtype of KSB consisting of 20 non-aggressive KSB patients,namely nodular and superficial KSB; 15 patients with aggressive KSB werepigmented KSB; Infiltrates KSB, micronodular KSB, metypical KSB (basosquamousKSB) and SHH immunohistochemical (CPI) examination using SHH antibodies, inthe Anatomy Pathology section, FK Unsri / RSMH Palembang. The characteristics ofKSB patients were recorded, namely sex, age, occupation based on the length ofexposure to BC, namely exposure <3 hours / day, exposure 3-6 hours / day,exposure ≥ 6 hours / day. The data were processed using the Statistical AnalysisSoftware Package (SPSS) version 20.0 (IBM Corporation), tested with Pearsoncorrelation test and chi square test and presented in the form of diagrams, andnarrative tables. Results: Pearson's test showed a significant correlation betweenthe clinical features of KSB and the histopathologic features of non-aggressive andaggressive types of KSB (p 0.020), there was a significant relationship between thesubtypes of histopathologic features of KSB with non-aggressive and aggressivetypes of KSB (p 0.000), there was a significant relationship between strong SHHexpression and BCC aggressive compared to non-aggressive KSB, p 0.000 (p <05α),and r = 732 Conclusion: There is a relationship between SHH expression and KSBaggressiveness. The increase in strong SHH expression shows the aggressiveness ofKSB, SHH expression can be used as a biological gene target both as a prognosticindicator and can be used as a target for treatment of aggressive KSB, especially inthe elderly.
Sindrom Stevens-Johnson Diduga akibat Siprofloksasin Hari Darmawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 6 (2014): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i6.1132

Abstract

Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi mukokutaneus yang ditandai trias kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel/bula, dan dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium, serta mata. Sindrom ini dapat bermanifestasi mulai dari gejala ringan hingga gejala berat yang dapat mengancam nyawa. Dilaporkan satu kasus SSJ diduga akibat siprofloksasin pada laki-laki usia 48 tahun. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah, denyut nadi dan frekuensi pernapasan dalam batas normal namun terdapat demam (suhu 38oC), vesikel dan bula berdinding kendur pada regio femur dan lumbal yang mengalami erosi dan ekskoriasi, krusta kehitaman pada regio labialis dan genital, serta dry eye. Tes Nikolsky positif. SCORTEN pada kasus ini 1. Luas daerah yang terlibat 6 %.Stevens-Johnson syndrome (SJS) is a group of clinical symptoms of mucocutaneous eruption, characterized by triad signs: erythema, vesicle/bullae, and can be followed with purpura which affects skin, orificial mucous membrane and eyes. This syndrome consists of various symptoms from low-risk to life-threatening. We report a case of SJS in a 48-years old male, suspected to be induced by ciprofloxacin. The blood pressure, arterial pulse, and respiratory rate were normal but there was fever (38oC); vesicle and bullae with flaccid wall were found in femoral and lumbal regions and already had been eroded and excoriated, and with dark crusts in labial and genital regions. Nikolsky’s sign was positive. SCORTEN in this case was 1. The body surface area involved was 6%. 
Diagnosis Eksantema Akibat Infeksi Hari Darmawan; Rusmawardiana -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i3.366

Abstract

Eksantema merupakan manifestasi erupsi kulit makulopapular eritem difus disebabkan virus atau bakteri. Erupsi kulit terjadi karena kerusakan sel akibat mikroorganisme, toksin, dan respon imun pejamu. Morbili, rubela, roseola, demam skarlatina, dan hand-foot and mouth disease (HFMD) adalah lima penyakit eksantema terbanyak. Kelainan ini sering sulit dibedakan satu sama lain dan dengan erupsi obat tipe makulopapular. Diagnosis berdasarkan anamnesis, gejala prodromal, gambaran erupsi kulit, dan manifestasi klinis khas. Pemeriksaan laboratorik dan serologik membantu diagnosis. Sebagian besar eksantema bersifat self-limiting sehingga terapi hanya suportif. Exanthema is maculopapular skin eruption of diffuse erythematous caused by viral or bacteria. Skin eruptions occur due to cell damage caused by microorganisms, toxin, and host immune response. Morbili, rubella, roseola, scarlet fever, and hand-foot and mouth disease (HFMD) are the five most common exanthema diseases. The disease is difficult to distinguish from each other and with drug eruption. Diagnosis is based on history, prodromal symptoms, skin eruption, and typical clinical manifestation. Laboratory and serologic examinations help establish diagnosis. Most exanthemas are self-limiting and only need supportive therapy.
Sifilis Pada Kehamilan Hari Darmawan; Izazi Hari Purwoko; Mutia Devi
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 3 No. 1 (2020): Vol 3, No 1, 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/sjm.v3i1.67

Abstract

Sifilis adalah penyakit infeksi menular seksual disebabkan bakteri Treponema pallidum dapat ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, dan vertikal dari ibu ke janin. Jika perempuan hamil menderita sifilis dapat terjadi infeksi transplasenta ke janin sehingga menyebabkan keguguran, lahir prematur, berat badan lahir rendah, lahir mati, atau sifilis kongenital. Diagnosis sifilis pada kehamilan ditegakkan berdasar anamnesis, manifestasi klinis, pemeriksaanlaboratorik, dan serologik. Skrining pada trimester pertama dengan tes non-treponema seperti rapid plasma reagin(RPR) atau venereal disease research laboratory (VDRL) kombinasi dengan tes treponema seperti treponema pallidum hemagglutination assay (TPHA) merupakan hal penting pada setiap perempuan hamil. Manifestasi klinis sifilis ke janin bergantung pada usia kehamilan dan stadium sifilis maternal serta respons imun janin. Deteksi dini dan terapi adekuat penting untuk mencegah transmisi infeksi sifilis dari ibu ke janin.
Pustulosis Eksantema Generalisata Akut Hari Darmawan; Sarah Diba
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3856

Abstract

Pustulosis eksantema generalisata akut (PEGA) adalah salah satu erupsi obat alergi berat ditandai pembentukan pustul steril nonfolikular cepat dengan dasar eritem, umum disebabkan penggunaan obat-obatan terutama antibiotik. Pasien mengalami demam mendadak disertai pustulosis dan leukositosis dalam 48 jam setelah konsumsi obat kemudian resolusi spontan dalam 2 minggu dengan gambaran histopatologik khas. Insiden PEGA menurut EuroSCAR sebesar 1-5 kasus persatu juta individu setiap tahun dan dapat terjadi pada semua umur. Diagnosis ditegakkan berdasar skor EuroSCAR. Prognosis PEGA baik karena bersifat self limiting disease dengan menghentikan penggunaan obat pencetus.  
Sumber dan cara penularan Mycobacterium leprae Hari Darmawan; Rusmawardiana Rusmawardiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7860

Abstract

Mycobacterium leprae (M. leprae) merupakan kuman basil tahan asam penyebab penyakit kusta bersifat obligat intraseluler dan tidak dapat dibiakkan pada media buatan. M. leprae hidup di makrofag dan sel Schwann serta tumbuh pada jaringan bersuhu dingin seperti kulit, mukosa hidung, dan saraf tepi. Insidens penderita baru kusta tidak menurun, meski prevalens kusta terus menurun seiring dengan program pemberantasan kusta secara masal dengan metode multi drugs therapy (MDT) WHO. Hal ini diperkuat dengan banyak kasus baru ditemukan tanpa ada riwayat kontak. Salah satu penyebab diduga ada sumber nonmanusia dari basil kusta terus menjadi sumber infeksi seperti hewan dan lingkungan. Cara penularan penyakit kusta masih belum diketahui pasti, namun diperkirakan melalui kontak langsung dari penderita kusta tipe lepromatosa ke orang lain.
Hubungan penggunaan kosmetik bedak padat terhadap kejadian akne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Aenun Azkiya Inayati; Hari Darmawan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 4 No. 1 (2022): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i2.17524

Abstract

Akne Vulgaris merupakan penyakit kulit yang sering terjadi di kalangan dewasa muda. Kejadian tertinggi akne vulgaris dijumpai pada usia 17-21 tahun. Faktor penyebabnya dapat dikarenakan penggunaan kosmetik seperti bedak padat. Kosmetik jenis bedak padat yang bersifat bahan komedogenik dan aknegenik akan memicu terjadinya komedo dan menyebabkan akne vulgaris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan kosmetik bedak padat dan hubungannya terhadap kejadian akne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Metode yang digunakan pada studi ini adalah analitik dengan desain potong lintang dengan pengisian kuesioner dan diagnosis akne vulgaris diklarifikasi oleh dokter spesialis kulit kelamin (Sp. KK). Sampel diambil secara purposive non-probability sampling, kemudian dianalisa menggunakan uji chi-square. Studi ini didapatkan sebanyak 80 responden dengan pengguna bedak padat yang menderita akne vulgaris sebesar 46 (57,50%) dengan frekuensi penggunaan bedak padat terbanyak kurang dari 3 kali sehari dan mayoritas durasi penggunaan 5-6 jam. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,057 yang menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan bedak padat terhadap kejadian akne vulgaris.
HUBUNGAN OLIGOMENOREA TERHADAP AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Maria Stefanny Setiawan; Hari Darmawan
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/qtdb6440

Abstract

Pendahuluan akne vulgaris (AV) adalah penyakit kulit kronis umum yaitu peradangan unit pilosebasea dapat muncul sebagai lesi inflamasi dan lesi non-inflamasi. AV dimulai pada usia 12-15 tahun dan puncak keparahan di usia 17-21 tahun. Pada masa remaja peningkatan hormon androgen dan ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur sehingga dapat menyebabkan peningkatan jumlah AV. Metodologi penelitian ini adalah penelitian analitik dengan analitik observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, pada bulan Januari sampai dengan Desember 2021. Sampel akan diambil secara non-probability sampling jenis purposive sampling. Data univariat akan disajikan dalam bentuk tabel (persentase, nilai mean dan standar deviasi). Data bivariat akan ditampilkan dalam bentuk tabel 2x2 dan dianalisis dengan uji statistik chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan jumlah sampel sebanyak 131 sampel mahasiswi dengan rentang usia 17-26 tahun. Usia menarche dalam rentang usia 9 hingga 18 tahun dengan nilai rata-rata 12,58 tahun. Sebanyak 61,1% mengalami siklus menstruasi yang teratur, 89,3% mengalami lama menstruasi 3-7 hari, dengan volume pendarahan yang normal (84,7%) dan pendarahan berwarna coklat/ merah tua (55,0%). Didapatkan AV derajat I sebanyak 69,5%, derajat II 12,2%, derajat III 2,3% dan yang tidak terdapat lesi inflamasi dan non-inflamasi 16,0% dan tidak ditemukan AV derajat IV pada responden. Sebanyak 16 (22,9%) mahasiswi mengalami oligomenorea. Pada penelitian ini didapatkan nilai p-value 0,427 (p-value > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak adanya hubungan yang signifikan antara oligomenorea terhadap akne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
HUBUNGAN OLIGOMENOREA TERHADAP AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Maria Stefanny Setiawan; Hari Darmawan
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/qtdb6440

Abstract

Pendahuluan akne vulgaris (AV) adalah penyakit kulit kronis umum yaitu peradangan unit pilosebasea dapat muncul sebagai lesi inflamasi dan lesi non-inflamasi. AV dimulai pada usia 12-15 tahun dan puncak keparahan di usia 17-21 tahun. Pada masa remaja peningkatan hormon androgen dan ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur sehingga dapat menyebabkan peningkatan jumlah AV. Metodologi penelitian ini adalah penelitian analitik dengan analitik observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, pada bulan Januari sampai dengan Desember 2021. Sampel akan diambil secara non-probability sampling jenis purposive sampling. Data univariat akan disajikan dalam bentuk tabel (persentase, nilai mean dan standar deviasi). Data bivariat akan ditampilkan dalam bentuk tabel 2x2 dan dianalisis dengan uji statistik chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan jumlah sampel sebanyak 131 sampel mahasiswi dengan rentang usia 17-26 tahun. Usia menarche dalam rentang usia 9 hingga 18 tahun dengan nilai rata-rata 12,58 tahun. Sebanyak 61,1% mengalami siklus menstruasi yang teratur, 89,3% mengalami lama menstruasi 3-7 hari, dengan volume pendarahan yang normal (84,7%) dan pendarahan berwarna coklat/ merah tua (55,0%). Didapatkan AV derajat I sebanyak 69,5%, derajat II 12,2%, derajat III 2,3% dan yang tidak terdapat lesi inflamasi dan non-inflamasi 16,0% dan tidak ditemukan AV derajat IV pada responden. Sebanyak 16 (22,9%) mahasiswi mengalami oligomenorea. Pada penelitian ini didapatkan nilai p-value 0,427 (p-value > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak adanya hubungan yang signifikan antara oligomenorea terhadap akne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.