Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Study of Potential Vinasse Compost as Fertilizer and Application on Cocoa (Theobroma Cacao L.) Seedlings Galuh Banowati
Jurnal Agrivet Vol 23, No 2 (2017): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v23i2.4739

Abstract

This study aims to identify the content of macro nutrients vinasse compost, and the effect of application on the growth of cocoa seedlings. The study was conducted in Politeknik LPP greenhouse, from June to October 2016. The study was preceded by composting vinasse, then applied as fertilizer on cocoa seedlings. The design used was CRD, both to compare fresh vinasse with 10, 20, and 30 days composting, as well as comparing application with NPK and Organic Liquid Fertilizer. Compost application were splashed on the ground and sprayed to the leaves. Nutrient content were observed: organic matter, N, P, K, and pH. Growth parameters measured were: increases height diameter of the trunk. Data were analyzed using ANOVA 95%. The results showed the total N increased significantly in compost 10 days, organic matter and P decreased significantly, and K, pH increased significantly with increasing days of composting. No difference height and diameter of the trunk at all treatment applications. It was concluded that the compost vinasse potential as liquid fertilizer enhancer Potassium and serves as ameliorantKeywords: vinasse compost, cacao seedling
PENGARUH UMUR BUAH KELAPA TERHADAP RENDEMEN MINYAK VCO (Virgin Coconut Oil) Effect of Coconut age on VCO (Virgin Coconut Oil) oil yield Galuh Banowati; Annisa Risqiana Nurhidayati
MEDIAGRO Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.238 KB) | DOI: 10.31942/mediagro.v17i1.3687

Abstract

Abstrak VCO mengandung berbagai jenis asam lemak yang juga merupakan bagian terbesar dari komposisi kandungan kimia pada semua jenis lemak dan minyak. Selain asam lemak yang merupakan komponen mayor, juga mengandung komponen minor berupa senyawa senyawa fenolik. Guna mendapatkan komposisi minor yang optimal, diduga dapat dipengaruhi salah satunya oleh umur panen kelapa yang digunakan. Untuk itu telah dilakukan penelitian pengaruh umur buah kelapa terhadap rendemen minyak VCO, dimana umur buah ditentukan melalui pendekatan tampilan visual kelapa tua, yaitu belum membentuk haustorium (T) dan sudah membentuk haustorium (ST). Penelitian ditujukan untuk mengetahui perbedaan rendemen minyak yang dihasilkan melalui proses pemancingan, adapun penelitian menggunakan metode eksperimental dengan 1 perlakuan, yaitu umur buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik endosperm (T) cenderung lebih tebal 2,7% dibandingkan endosperm (ST), akan tetapi persentase kanil cenderung lebih sedikit 3% pada satuan bobot yang sama. Hasil pemancingan minyak VCO menunjukan rendemen minyak yang dihasilkan dari kelapa T (haustorium belum terbentuk) 3,33% lebih tinggi dibandingkan dari kelapa ST (haustorium sudah terbentuk). Untuk itu untuk mendapatkan minyak VCO metode pemancingan, sebaiknya menggunakan bahan baku kelapa tua yang belum membentuk haustorium yang secara fisik ditandai dengan buah yang telah mengering dan belum tumbuh tunas. Kata kunci : rendemen VCO; umur buah Abstract VCO contains various types of fatty acids which are also the largest part of the chemical composition of all types of fats and oils. Beside fatty acids which are major components, they also contain minor components in form of phenolic. In order to get the optimal minor components, can be influenced by the age of the coconut is used. For this reason, research has been carried out on the effect of coconut fruit age on VCO oil yield, where age of the fruit is determined through the visual appearance approach of old coconut, which has not yet formed a haustorium (T) and has formed a haustorium (ST). Research was aimed to know the difference in yield of oil produced through fishing process, and it used experimental methods with 1 (one) treatment, the age of fruit. The results showed that physically endosperm (T) 2.7% thicker than endosperm (ST), but the percentage of coconut cream less than 3% from same weight endosperm. The results of VCO oil fishing show that the yield of oil produced from T coconut (haustorium has not been formed) is 3.33% higher than from ST coconut (haustorium has not been formed). For this reason, to get VCO oil with fishing method, should use old coconut raw materials that have not formed a haustorium which is physically marked by dried fruit and no buds have grown. Key notes : VCO yield; fruit age
Kajian Pembentukan Fruit set Kelapa Sawit Pada Lahan Gambut dan Pasiran Muhammad Aji Wiranda; Galuh Banowati
Jurnal Pengelolaan Perkebunan (JPP) Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Politeknik LPP Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.423 KB) | DOI: 10.54387/jpp.v3i2.20

Abstract

Fruit set merupakan istilah yang digunakan dalam kelapa sawit untuk menggambarkan rasio buah yang jadi terhadap keseluruhan buah pada satu tandan termasuk buah yang partenokarpi/mantel. Fruit set yang baik pada tanaman kelapa sawit adalah diatas 75%. Semakin tinggi nilai fruit set, maka berat, kualitas dan ukuran tandan akan semakin meningkat, sedangkan ukuran buah semakin kecil. Pada jenis tanah yang berbeda dapat menimbulkan perbedaan ketersediaan air dan hara untuk mencukupi kebutuhan tanaman, khususnya pada masa pembentukan organ-organ generatifnya, dimana selanjutnya dapat mempengaruhi pembentukan fruit set. Kajian ini ditujukan untuk mempelajari pembentukan fruit set pada lahan gambut dan pasiran di PT Sumur Pandan Wangi-Hanau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Berdasarkan hasil yang didapat, menunjukkan bahwa rata-rata nilai fruit set pada tipe lahan gambut sebesar 58,21%, dan nilai fruit set pada lahan pasiran sebesar 54,08 %, bila diklasifikasikan nilai fruit set tergolong kedalam kelas 3 (50 -74%). Hasil uji t diperoleh (1,83), pembentukan fruit set pada lahan gambut dan lahan pasiran tidak menunjukkan perbedaan nyata. Perbedaan karakter antara lahan gambut dan lahan pasiran di PT Sumur Pandan Wangi-Hanau, Kabupaten Seruyan, provinsi Kalimantan Tengah, menunjukkan tidak ada perbedaan potensi pembentukan fruit set yaitu pada kelas 3. Rendahnya kelas pembentukkan fruit set diduga dikarenakan karakter lahan yang masing-masing tidak dapat menyediakan kebutuhan nutrisi yang diperlukan dan kondisi curah hujan tinggi (tidak terdapat bulan kering pada tahun 2020) mempengaruhi agresivitas serangga penyerbuk dan menggumpalnya serbuk sari.
Pemetaan Kesehatan Kebun Kelapa Sawit Berdasarkan Nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Menggunakan Citra Landsat-8 Di Kebun PT. Wanapotensi Guna Nur Hadi Ageng Pangestu; Galuh Banowati
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 7 No 1 (2023): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v7i1.513

Abstract

Komoditas kelapa sawit memberikan sumbangan devisa terhadap negara sangat besar, rata-rata pertahun US$ 22-23 miliar. Bahkan ditahun 2021, devisa yang dihasilkan dari ekspor komoditas kelapa sawit mencapai US$ 30 miliar, rekor tertinggi selama ini. Faktor kesehatan tanaman menjadi sangat penting untuk diperhatikan agar tanaman menghasilkan sesuai potensi genetisnya. Berbagai metode yang cepat dan akurat dikembangkan untuk melakukan analisis kesehatan tanaman, mengingat lahan pengusahaannya bersifat hamparan dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index merupakan metode yang digunakan dalam membandingkan tingkat kehijauan vegetasi yang berasal dari citra satelit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi kesehatan tanaman kelapa sawit dengan menggunakan metode NDVI dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan Citra Landsat 8 L2 C2 yang direkam pada 07 Oktober 2021. Nilai NDVI yang diperoleh dijadikan acuan untuk menilai tingkat kesehatan tanaman, dan untuk komparasi nilai NDVI yang diperoleh dikorelasikan dengan hasil LSU (Leaf Sampling Unit) unsur Nitrogen. Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilaksanakan di PT. Wanapotensi Guna yang terletak di Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya dari total wilayah tengah II PT. Wanapotensi Guna menunjukkan, 0.1% tergolong non vegetasi, 0.2% tergolong tanaman tidak sehat, 50.12% tergolong tanaman normal dan 49.58% tergolong tanaman sehat dengan korelasi nilai NDVI dengan data LSU N memiliki korelasi yang kuat dengan nilai 0.7214.
Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu (Saccharum officinarum L.) menjadi gula pasir dan gula semut: Studi kasus petani mitra PG di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Malang Galuh Banowati; Vina Angelina
Jurnal Pengelolaan Perkebunan (JPP) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Politeknik LPP Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54387/jpp.v5i2.51

Abstract

Secara umum gula semut (brown sugar) adalah gula merah palma (palm sugar) yang dikristalkan. Selama ini, yang disebut gula semut terbuat dari bahan nira palma, namun gula semut juga bisa dibuat dari tebu. Selama ini bahan baku gula merah juga banyak yang berasal dari tebu. Gula merah tebu sebagian besar diserap oleh industri kecap. Gula putih yang diproduksi dari tebu dan bit, sekarang mulai tidak disukai oleh masyarakat menengah ke atas, karena alasan kesehatan. Gula putih dianggap mengandung banyak bahan kimia, yang terikut pada waktu proses pembuatannya. Gula semut kurang dikenal luas oleh masyarakat, karena harganya relatif mahal dan ketersediaannya di pasar tidak selalu ada. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pendapatan petani tebu yang lebih menguntungkan antara diolah menjadi gula pasir oleh PG, dan diolah menjadi gula semut oleh perusahaan gula semut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi komparatif. yaitu membandingkan variabel R/C dan B/C. Data yang dikumpulkan yaitu data pembiayaan produksi dan penerimaan usaha tani tebu di Berbah, Sleman, Yogyakarta dan Bantur, Malang, Jawa Timur. Hasil penelitian yang didapat yaitu: pendapatan apabila tebu diolah menjadi gula putih di PG. Madukismo memiliki nilai R/C 1,56 dan B/C 0,57, diolah di PG. Krebet Baru memiliki nilai R/C 1,98 dan B/C 0,99, diolah menjadi gula semut di PT. Tlogo Kelang memiliki nilai R/C 2,12 dan B/C 1,12. Namun perbedaan nilai R/C dan B/C untuk PG juga dipengaruhi oleh pola bagi hasilnya, rendemen, dan juga disebabkan oleh perbedaan produktivitas tiap daerah