Siti Aminah Tri Susilo Estri
Bagian Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemilihan Terapi pada Kutil Genital Siti Aminah Tri Susilo Estri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1667

Abstract

Genital warts (GC) is one of the most common STDs and associated with cervical cancer or genital cancer. This paper will explain the various treatment modalities and how to vote on the GC. GC could be spontaneous resolution, making it one of the treatment options and treatment will be given if clinically visible or enlarged lesions. Treatment modality of GC are grouped into 3, antitumor (cytotoxic andphysical ablative), immunomodulatory and antiviral. Election of treatment modalities is influenced by various factors, like the number, size and place of the lesion, the shape of the lesion, patient preference, cost, side effects, physician experience and specific conditions of patient such as pregnancy, children and immunocompromised patients.Kutil genital (KG) merupakan salah satu PMS yang paling sering terj adi dan berhubungan dengan kanker servik atau kanker genital. Tulisan ini akan menj elaskan berbagai modalitas dan cara pemilihan terapi pada kutil genital. KG dapat mengalami resolusi spontan, sehingga salah satu pilihan terapi dengan membiarkan dan terapi hanya diberikan jika secara klinis tampak atau lesi membesar. Modalitas terapi KG dikelompokkan menjadi 3, yaitu preparat antitumor (sitotoksik dan ablatif fisik), dan imunomodulator dan antivirus. Pemilihan terapi KG dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: jumlah, ukuran dan tempat lesi, bentuk lesi, kesukaan pasien, biaya, efek samping dan pengalaman dokter serta kondisi khusus pasien seperti kehamilan, anak-anak dan penderita imunokompromais.
Selulitis Fasialis dengan Trombosis Sinus Kavernosus Siti Aminah Tri Susilo Estri; Sunardi Radiono
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1.1698

Abstract

Facial cellulitis is a facial bacterial infection that spread progressively with serious complication. This is report a 12 aged-years boys with facial cellulitis and cavernous sinus thrombosis. Diagnosed based on the physical examination, erythema and oedema on the right face and palpebra, with pain, opthalmoplegia, pareses of the right n. III and left n. VI. Laboratory examination showed lecocytosis, increasing of C-reactive protein and growth of S. Aureus from blood culture. He was treated with ceftriaxone and amycacine intravenously, analgesic and non-steroid anti-inflammation drugs and physiotherapy. Pareses of the ocular nerves improved within 3 months by physiotherapy.Selulitis fasialis (SF) merupakan infeksi bakteri pada wajah yang dapat cepat meluas dengan komplikasi serius. Tulisan ini melaporkan seorang anak laki-laki 12 tahun dengan selulitis fasialis disertai trombosis sinus kavernosus. Diagnosis ditegakkan berdasar gambaran klinis berupa edem dan eritem fasial dan palpebra bagian kanan, teraba hangat dan nyeri tekan, optalmoplegi, parese n. III kanan dan n. VI kiri, dan hasil pemeriksaan laboratoium yaitu leukositosis, peningkatan C-reactive protein dan dari kultur darah tumbuh S.aureus. Penderita diberikan terapi seftriakson dan amikasin intravena, analgetik dan antiinflamasi non-steroid dengan fisioterapi. Parese saraf mata membaik setelah 3 bulan fisioterapi.
Pola Penyebab dan Rekurensi Dermatitis Numularis Siti Aminah Tri Susilo Estri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2 (s).1616

Abstract

The prevalence of nummular dermatitis (ND) was increased and varies from one region to another. Numular dermatitis was associated with a suspected causes of bacterial colonization, contact dermatitis to nickel, and cobalt khromat; physical trauma or chemical, environmental, and emotional stress. The study would report the pattern of causes and factors that may affect the relapse cases ND. The case consists of 9 people, 6 women and 3 men, aged between 15-73 years. Frequency of visits to the clinic varied between 0-6 times. The time between initial and subsequent visits varied between 1 until 22 months. The main complaint was an itching and rash. The diagnosis ND established based on anamnesis and dermatological examination with the characteristic lesion and appropriate areas. The cause or recurrence of cases of DN in this report associated with low air humidity (in all cases), the colonization of S. aureus (in the case of the 6th, 7th and 9 th), age or skin xerotic (in the case of the 1, 2, 3) and contact history (in the case of the 2 and 4), without ignoring the possibility of other factors.Prevalensi dermatitis numularis (DN) semakin meningkat dan berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Penyebab DN diduga berhubungan dengan kolonisasi bakteri, dermatitis kontak terhadap nikel, khromat dan kobalt; trauma fisik atau kimia, lingkungan, serta stres emosional. Pada tulisan ini dilaporkan pola penyebab dan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi kekambuhan kasus DN. Kasus terdiri atas 9 orang, terdiri atas 6 wanita dan 3 orang laki-laki, umur antara 15-73 tahun. Frekuensi kunjungan ke Poliklinik bervariasi, antara 0-6 kali. Waktu antara kunjungan awal dan berikutnya bervariasi antara 1 minggu sampai 22 bulan. Keluhan utama rasa gatal dengan bercak merah. Diagnosis DN ditegakkan berdasarkan gambaran klinisnya yaitu anamnesis, ujud kelainan kulit dengan daerah predileksi yang sesuai. Penyebab atau rekurensi berbagai kasus DN pada tulisan ini berhubungan dengan kelembaban udara yang rendah (pada semua kasus), kolonisasi S. aureus (pada kasus ke-6, 7 dan 9), usia atau xerotic skin (pada kasus ke-1, 2, 3) dan riwayat kontak (pada kasus ke-2 dan 4), tanpa mengabaikan kemungkinan faktor lainnya.
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Pekerjaan terhadap Pemilihan Kosmetik Pencerah Kulit pada Wanita Rr. Nadya Anditia Sari; Siti Aminah Tri Susilo Estri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1045

Abstract

Jenis kosmetika yang banyak dipakai saat ini ialah kosmetika jenis pencerah kulit atau lightening cream. Pemilihan pemakaian kosmetik pencerah kulit membutuhkan pemikiran yang kritis sebelum menggunakannya karena efek sampingnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan status pekerjaan terhadap pemilihan produk pencerah kulit pada wanita. Penelitian merupakan penelitian non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional di Desa Tamantirto, Dusun I Geblakan RW 01 RT 04 Tegalwangi Bantul. Sampel penelitian ini adalah wanita berusia 22-55 tahun yang sudah menikah yang ada atau menetap pada dusun tersebut sebanyak 32 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif lemah (r= -0,056) yang tidak signifikan dengan nilai p = 0,761 (p0,05) antara tingkat pendidikan dengan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada wanita, sedangkan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif kuat (r = 0,460) yang signifikan dengan nilai p=0,008 (p0,05) antara status pekerjaan dengan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada wanita. Disimpulkan bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak menentukan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada seseorang seutuhnya. Status pekerjaan seseorang menentukan perilaku pemiilihan produk pencerah kulit di mana wanita yang bekerja lebih banyak menggunakan produk pencerah kulit daripada wanita yang tidak bekerja. Types of cosmetics that is widely used today is kind of lightening cosmetics or skin lightening cream. The selection of skin lightening cosmetics usage requires critical thinking before using it because of its side effects. This study aims to determine the relationship between educational levels and occupational status of skin lightening product selection in women. This study is a non-experimental, cross sectional approach undertaken in the village of Tamantirto, Hamlet I Geblakan RW 01 RT 04, Bantul, Yogyakarta. Samples were taken from women aged 22-55 years who are married or who have settled in the hamlet of 32 people who meet the criteria for inclusion and exclusion. Spearman correlation test analyze showed that there was poor negative correlation (r= -0,056) which wasn’t significant with p value=0,761 (p0,05) between educational level and enlightenment skin cosmetic electoral behavior in women. While Spearman correlation test analyze showed that there was strong positive correlation (r= 0,460) which was significant with p value=0,008 (p0,05) between employment statues and enlightenment skin cosmetic electoral behavior in women. It was concluded that educational level of someone doesn’t determine enlightenment skin cosmetic electoral behavior in someone completely. Employment statues of someone determines enlightenment skin cosmetic electoral behavior where employed women uses skin lightening cosmetic more than unemployed women.