Warih Andan Puspitosari
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks Warih Andan Puspitosari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1502

Abstract

The need of the appropriate comprehension of the human sex essentials for adolescents is urgently required. The facts show that adolescents fre¬quently do not know where to go in finding the right information about sexu¬ality; hence they seek information to resources who do not certainly provide the right information. This could mislead them to go on the wrong path. In fact, the information about the right sexual issues can be provided through sex education. The understanding that sex education is only a mere knowledge of sexual intercourse will result the rejection of many people to provide sex education for the adolescents. The stigma in the society that sex education is a taboo should be eliminated, hence the adolescents could obtain the right informa¬tion. An open-minded point of view that sex issues can be politely and well discussed has to be arised, hence not causing rejections from many people. The best sex education is the one provided by the parents as the closest people, in relaxing condition, with heart-to-heart approach. Therefore, it re-quires appropriate comprehension of the parents on those issues.Kebutuhan akan pemahaman yang benar tentang hakekat seksualitas manusia bagi remaja kian mendesak untuk dipenuhi. Kenyataan menunjukkan bahwa remaja sering tidak tahu ke mana mereka bisa mendapatkan informasi yang benar tentang seksualitas, sehingga mereka mencari informasi pada pihak-pihak yang belum tentu memberikan pengertian secara benar. Hal ini justru bisa menyesatkan para remaja. Sebenarnya, informasi tentang masalah seks yang benar dapat diberikan melalui pendidikan seks. Pemahaman bahwa pendidikan seks hanyalah pengetahuan tentang hubungan seks semata-mata menyebabkan banyak pihak menolak untuk memberikan pendidikan seks kepada remaja. Stigma yang ada di masyarakat bahwa pendidikan seks adalah sesuatu yang tabu harus dihapus, sehingga remaja bisa mendapatkan informasi yang benar. Perlu dibuka sebuah wacana bahwa masalah seks bisa didiskusikan secara sopan dan baik, sehingga tidak menimbulkan penolakan dari berbagai pihak. Pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sebagai orang terdekat, dalam suasana santai dengan pendekatan dari hati ke hati, sehingga dibutuhkan pemahaman yang benar dari orang tua tentang masalah tersebut.
Perbandingan Tingkat Kecemasan Ibu Menyusui Bekerja dan Tidak Bekerja Warih Andan Puspitosari; Andhika Bintang Prasetya
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1659

Abstract

Anxiety is dependence, uncomforting feel, appear apprehensive, because something sense of unhappy feeling, but the most source cannot know and the cause is from inside. The women who has breastfeeding is more easy to feel anxiety, this problem cause by hormonal and environment factor. The aim of this research is to be able compare of anxiety levels from breastfeeding mother which occupation and breastfeeding mother which inoccupation. The research was accomplished in Posyandu on Dukuh Sidorejo, Ngestiharjo from February until May 2008 with use cross sectional method. The total sample in this research is 68 respondents with age between 17-40 years old. The data analysis using t-test paired sample. The results of this research showed that breastfeeding mother which occupation, mean value of anxiety level is 17,09, even though breastfeeding mother which inoccupation, mean value of anxiety level is 15,76, so the difference is 1,324. The value result acquire t count is 1,619 and a = 0,05 with probability 0,115. Because the probability 0,115 0,05 therefore Ho accepted so can be made the conclusion that the compare of anxiety level from breastfeeding mother which occupation and breastfeeding mother which inoccupation is relative same.Kecemasan adalah ketergantungan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul, karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam. Wanita yang sedang menyusui lebih rentan dengan gejala kecemasan, hal itu karena didominasi oleh faktor lingkungan dan hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan pada ibu yang menyusui dengan membandingkan ibu yang menyusui dengan bekerja dan ibu menyusui yang tidak bekerja. Penelitian dilakukan di Posyandu yang berada di Dukuh Sidorejo, Ngestiharjo selama bulan Februari sampai bulan Mei 2008 dengan menggunakan metode cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 68 responden dengan rentang usia 17- 40 tahun. Analisis data menggunakan uji t-test paired sample. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ibu menyusui yang bekerja memiliki rata-rata nilai tingkat kecemasan 17,09, sedangkan yang tidak bekerja memiliki nilai tingkat kecemasan 15,76, jadi perbedaan meannya 1,324. Didapatkan hasil nilai t hitung adalah 1,619 dan a=0,05 dengan probabilitas 0,115. Karena probabilitas 0,115 0,05, maka Ho diterima sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perbandingan tingkat kecemasan pada ibu menyusui yang bekerja maupun yang tidak bekerja adalah relatif sama.
Hubungan antara Kecanduan Online Game dengan Depresi Warih Andan Puspitosari; Linaldi Ananta
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1592

Abstract

In psychological aspect, bad relation between online game addict to their families and friends usually causes isolation from the community, which can induce some psychiatric disorder for example depression. The purposes of this research are to identify depression score in online game addict and analyze the relation between the addiction to online game and depression. This study is a descriptive non-experimental study, uses cross sectional method. Data analysis uses SPSS 16 with Spearman non-parametric correlation method. The subject are 64 people from online gamer in Genesis game centre attain the age of 17-24 year old. Subjects are asked to fill the questionnaire of online game addiction from Astuti and depression score determined with Beck Depression Inventory (BDI). Result of this study showed that from 64 subjects, 35 subjects (54,7%) are low addiction, and then 29 subjects (45,3%) are high addiction. Moreover, about depression, from 64 subjects 39 subjects (60,9%) are normal and 16 subjects (25%) suffer mild depression, 8 subjects (12,5%) suffer moderate depression, and 1 subject (1,6%) suffers severe depression. Analysis result by Spearman non-parametric correlation test and Sugiyono correlation strength table showed weak correlation between online game addicts and depression (sig 0,005; correlation coefficient 0,348). The conclusion of this study is there’s weak correlation between online game addiction and depression.Kecanduan online game membawa dampak negatif, baik dari aspek fisik maupun psikologis. Dari aspek psikologis, buruknya hubungan sosial dengan keluarga dan teman, menyebabkan pecandu online game seringkali terisolasi dari masyarakat dan rentan menderita gangguan psikiatri, salah satunya adalah depresi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui skor depresi pada pecandu online game dan menganalisis hubungan antara kecanduan online game dengan depresi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional study. Analisis data dilakukan dengan alat bantu program komputer dengan metode analisis korelasi Spearman. Subyek penelitian adalah pemain online game di game centre Genesis Yogyakarta, berusia 17-24 tahun, sebanyak 64 orang. Subyek diminta untuk mengisi kuesioner online game addict dan kuesioner depresi. Kuesioner online game addict yang digunakan adalah kuisioner dari Astuti (2005), sedangkan untuk menilai skor depresi digunakan Beck Depression Inventory Scale (BDI). Hasil penelitian menunjukkan bahhwa dari total subyek sebanyak 64 orang, 35 orang (54,7%) merupakan low addiction, sedangkan 29 orang (45,3%) merupakan high addiction. Sejumlah 39 subyek (60,9%) termasuk kategori tidak depresi, 16 orang (25%) depresi ringan, 8 orang (12,5%) depresi sedang, dan 1 orang (1,6%) depresi berat. Hasil analisis menggunakan teknik korelasi non- parametrik Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan online game dengan depresi. (p 0,005), dengan kekuatan hubungan lemah yaitu 0,348. Oleh karena itu dapat disimpulkan terdapat hubungan yang lemah antara kecanduan online game dengan depresi.
Terapi Kognitif dan Perilaku pada Gangguan Obsesif Kompulsif Warih Andan Puspitosari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1607

Abstract

The prevalence of Obsessive Compulsive Disorder about 2-3%, mostly happened on male teenagers. The causes are multifactors including biological, behavior and psychosocial factor, so the treatment needs farmacotherapy and psychotherapy. The combination of SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) and Cognitive Behavioral Therapy is the first choice to manage Obsessive Compulsive disorder. The aim of this case report is to reporting the treatment of Obsessive Compulsive disorder by using the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy. A patient, male, 18th years old was brought by his mother to the Psychiatry outpatient department for doing something repeatedly. It was annoyed him and other person. The mental status examination showed that he always thought repeatedly and did something, so that he will felt released. His neurological and psysical status were within normal limite. After he was treated with the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy for 5 sessions, he is getting better.Prevalensi Gangguan ObsesifKompulsif berkisar antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor biologi, perilaku dan psikososial, sehingga penatalaksanaannya memerlukan farmakoterapi dan psikoterapi. Kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku merupakan pilihan pertama. Terapi kognitif perilaku memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan, berdasarkan pengalaman praktek yang terjadi di Indonesia, sulit dilakukan karena terlalu lama, rumit, dan faktor biaya. Dicoba modifikasi untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil penatalaksanaan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi. Seorang pasien, laki-laki, berusia 18 tahun diantar oleh ibunya ke poliklinik jiwa karena sering mengulang-ulang suatu perbuatan, yang sudah mengganggu pasien dan orang lain. Pemeriksaan status mental didapatkan adanya pikiran berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega. Pada status internus dan status neurologikus belum ditemukan adanya kelainan. Setelah dilakukan penatalaksanaan dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi, pasien mengalami perbaikan gejala klinis.
Perbedaan Skor Kecerdasan Emosi dan Kecemasan Siswa Kelas Akselerasi dan Kelas Reguler Warih Andan Puspitosari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1564

Abstract

Acceleration is designedfor students with extraordinary capabilities. They are expected to graduate earlier, but on the other side the full schedules and minimum social interactions would bring negative consequences, such as low emotional quotient and hight level of anxiety. It S said that success determined by 20% of IQ and the rest by emotional quotient (EQ). The aims of this research is identify the difference of emotional quotient score and anxiety score between acceleration students and regular students in Muhammadiyah 1 Highschool in Yogyakarta. This is a cross-sectional analytic descriptive study. It’s conducted at Muhammadiyah 1 Highschool in Yogyakarta on August-October 2008. The study took two populations. Sample taken were all of acceleration students 45 and regular students. Instruments used include BarOn Emotional Quotient Inventory-YV, Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) Data were analyzed with independent t-test There is significant difference of anxiety score but no significant difference of EQ score between acceleration students and regular students (p=0,024, p=0,646). Conclusions this research are : (l)Acceleration students have higher score of anxiety than regular students. (2)There is no significant difference of EQ score between acceleration students and regular students.Program kelas akselerasi diperuntukkan bagi siswa yang memiliki kemampuan luar biasa, agar bisa menyelesaikan studi lebih cepat dan mengembangkan kemampuannya secara optimal. Padatnya kegiatan dan terbatasnya interaksi serta kesempatan bersosialisasi dikhawatirkan akan berdampak buruk pada siswa, dintaranya adalah rendahnya kecerdasan emosi dan tingginya tingkat kecemasan. Rendahnya kecerdasan emosi dan tingginya tingkat kecemasan justru akan menurunkan produktifitas siswa. Kesuksesan seseorang lebih 80% ditentukan oleh kecerdasan emosinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan skor kecerdasan emosi dan kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional deskriptif analitik. Penelitian dilakukan di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta pada bulan Agustus-Oktober 2008. Populasi penelitian adalah siswa kelas akselerasi dan siswa kelas regular. Jumlah sampel untuk kelas akselerasi 45 siswa dan kelas reguler 58 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuestioner kecerdasan emosi BarOn Emotional Quotient Inventory-YV, kuestioner kecemasan Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Data dianalisis dengan Independent t-Test. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecemasan siswa kelas akselerasi dan regular dengan p=0,024. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecerdasan emosi siswa kelas akselerasi dan regular dengan p=0,646. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : 1) Skor kecemasan siswa kelas akselerasi lebih tinggi dibanding siswa kelas regular, 2) Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor kecerdasan emosi siswa kelas akselerasi dan regular