Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BEBERAPA ASPEK HUKUM PERKAWINAN ISLAM DI INDONESIA, MESIR DAN PAKISTAN SUATU STUDI PERBANDINGAN Marzuki Marzuki
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 3, No 3: Oktober 1998
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.082 KB) | DOI: 10.21831/hum.v3i3.5367

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan aspek-aspek dalam hokum islam di Indonesia,Mesir dan Pakistan, khususnya aspek prosedur perkawinan, perceraian dan poligami. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkapkan sebab terjadinya keberagaman aplikasi hukum perkawinan Islam di ketiga Negara tersebut dalam ketiga aspek hukum perkawinan yang dimaksud.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan  metode komparatif dengan pendekatan sosiohistoris. Untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan(library research). Yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan prosedur perkawinan, perceraian, dan poligami yang terjadi di ketiga Negara di atas. Untuk mengungkap masalah masalah tersebut, penulis mengkaji beberapa undang-undang tentang hukum perkawinan atau hukum keluarga yang diberlakukan di ketiga Negara, disamping beberapa buku yang ditulis oleh para ahli yang berkaitan dengan kajian ini.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dalam ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan hukum perkawinan di Indonesia, Mesir dan Pakistan, khususnya dalam aspek prosedur perkawinan, perceraian dan poligami. Dalam aspek prosedur perkawinan ketiga Negara sama-sama memberikan perhatian dalam masalah persyaratan perkawinan, pencatatan adan tata caranya; dalam aspek prosedur perceraian ketiga Negara sama-sama menetapkan persyaratan yang ketat, dan ketiganya menetapkan bahwa setiap perceraian  harus dicatackan dan melalui siding pengadilan; dalamaspek poligami ketiga Negara sama-samam memperbolehkannya jika syarat-syaratnya terpenuhi. Sedang dalam perincian mengenai persyaratan perkawinan ketiga Negara memiliki perbedaan-perbadaan, misalnya dalam hal pelaksanaan tatacara perkawinan; dalam hal perceraian terjadi perbedaan dalam hal periincian persyaratan dan prosedurnya;perbedaan juga terjadi dalam hal  perincian persyaratan poligami dan tatacaranya. Perbedaan ini terjadi terutama karena perbedaan kondisi sosio-kultural dan madzhab yang dianut oleh ketiga Negara yang mempengaruhi hasil ijtihad para ulama hukum di masing-masing Negara tersebut.
MEMPOSISIKAN KEMBALI KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM SUNNAH NABI ANALISIS KRITIS HADIS-HADIS NABI YANG MISOGINIS Marzuki Marzuki
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 10, No 1: April 2005
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.896 KB) | DOI: 10.21831/hum.v10i1.6121

Abstract

Abstract The main problems in this research are how the woman status is depicted in prophet hood of Muhammad, how Muhammad’s hadiths posit the woman, and why the mysogyny hadiths emerges. Therefore,  the aims of this research are to explore an to find the answers of the problems above. The research uses content analysis approach. The object of the research is misogynic hadiths that show aversion to women. The selected hadiths are those which become the basis of ulama’s arguments about the position of women. The result of the research shows that, in general, the depiction of woman in Prophet’s hadiths tends to be different from that in Quran. It can be seen from ulama’s understanding that there is an imbalance position is a  lower than men’s.  the view is strengthened by misogynic hadiths showing dislike to women. Studying the problem with different approach from what ulama believe, the misogynic hadiths do not mean as what the ulama interpret. Using metaphoric (majazi) and contextual approach. Contextual approach puts the hadiths in its place, with the more appropriate meanings. Keywords: hadiths, misogyny, contextual