AM Hermien Kusmayati
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Spiritualitas Budaya Jawa dalam Seni Tari Klasik Gaya Surakarta Pamardi, Silvester; Haryono, Timbul; -, R.M. Soedarsono; Kusmayati, A.M. Hermien
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.118

Abstract

ABSTRACT Javanese classical dance has grown dynamically in line with the history of the palaces in Central Java, especially after the fifteenth century that began in the era of the kingdom of Demak. It has lived and thrived in the court of Mataram Islam since the period of Panembahan Senapati at Kotagede, the time of Sultan Agung in the palace Plered, until the moving of the palace of Mataram to Kartasura.This research methods is focused on the use of qualitative data with the questions of ‘why’ and ‘how’ to unravel the mystery behind of the phenomenon. This actions are carried out with approach of multi- disciplinary such as science of history, social science, and choreography.The events of Gianti agreement in 1755 did not give only influence and impact on the power of the king of Mataram to had to be split into two regions, namely the region of Surakarta and Yogyakarta Sul- tanate region, but also had implications to the life of Javanese culture. The culture of Javanese which was originally derived from the one kingdom, namely  Mataram Kasunanan, then divided into two styles, namely Javanese culture of Surakarta and Yogyakarta. Fortunately, in the palace of Kasunanan Surakarta as well as in the Kasultanan Yogyakarta palace is still being developed classical Javanese arts based on cultural and adiluhung values; respectivelly developed in the different patterns or styles. The values of spiritual ‘Javanese’ is remained as a source of reference. Keywords: the art of dance, classical, spirituality of Javanese  ABSTRAK Seni tari klasik Jawa telah berkembang secara dinamis seiring dengan sejarah perkembang- an keraton-keraton di Jawa Tengah, terutama setelah abad XV yang dimulai pada era kerajaan Demak. Seni tari klasik Jawa hidup dan berkembang di lingkungan istana Mataram Islam sejak periode Panembahan Senapati di Kotagede, atau jaman Sultan Agung di keraton Plered sampai dengan berpindahnya keraton Mataram ke Kartasura.Metode penelitian ini konsentrasi utamanya pada penggunaan data kualitatif dengan per- tanyaan-pertanyaan ’mengapa’ dan ’bagaimana’ untuk mengungkap misteri yang berada di belakang fenomena yang ada. Tindakannya dilakukan dengan pendekatan multi disiplin dari ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan koreografi.Peristiwa perjanjian Gianti pada tahun 1755 tidak saja berpengaruh dan berdampak pada kekuasaan raja Mataram yang harus membagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Kasunanan Surakarta dan wilayah Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga berimplikasi pada kehidupan ke- budayaan Jawa. Kebudayaan Jawa yang semula bersumber dari satu kerajaan, yaitu Mataram Kasunanan, kemudian menjadi dua corak, yaitu kebudayaan Jawa Surakarta dan Yogyakarta. Namun demikian, baik di istana Kasunanan Surakarta maupun istana Kasultanan Yogyakarta tetap mengembangkan kesenian klasik Jawa berdasarkan nilai-nilai budaya adiluhung walau- pun dalam corak atau gaya yang berbeda. Nilai-nilai spiritualitas ‘kejawen’ tetap menjadi sum- ber acuannya. Kata kunci: seni tari, klasik, spiritualitas Jawa
ROKAT PANḌHÂBÂ SEBAGAI PERTUNJUKAN BUDAYA MASYARAKAT MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Rahayu, Eko Wahyuni; Ch.R., Wisma Nugraha; Kusmayati, A.M Hermien
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rokat pan?hâbâ adalah ritual tradisi dalam kehidupan masyarakat Madura yang diselenggarakan bagi orang pan?hâbâ, yaitu orang-orang yang kelahirannya identik dengan pandawa (Jawa: wong sukerta). Dalam mitos masyarakat Madura, orang-orang yang termasuk dalam kategori orang pan?hâbâ diyakini dalam perjalanan kehidupannya akan mendapatkan kesialan atau tertimpa kemalangan. Rokat pan?hâbâ dilaksanakan pada intinya bertujuan untuk membebaskan orang pan?hâbâ dari ancaman yang dapat mengganggu kehidupan, baik kehidupan secara individu maupun keluarga. Tulisan ini akan mengungkap keunikan penyelenggaraan rokat pan?hâbâ sebagai peristiwa budaya masyarakat Madura khususnya di wilayah Kabupaten Sumenep. Hasil analisis menunjukkan, bahwa pelaksanaan rokat pan?hâbâ dalam tradisi masyarakat Madura di Sumenep dilakukan dengan rangkaian bermacam ritual dan perlengkapan sesaji baik berupa bahan-bahan makanan yang masih mentah, makanan siap saji, perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan busana, serta menghadirkan seni pertunjukan sebagai sarana ritual utama. Adapun rangkaian kegiatan ritual secara inti meliputi empat tahap yaitu, (1) pergelaran topèng ?hâlâng lakon Murwakala (Bathara Kala), (2) ritual bersuci, (3) ritual pembayaran ijab kabul, dan (4) ritual penebusan. Penyelenggaraan rokat pan?hâbâ dengan berbagai elemen pendukung dan segala tata cara pelaksanaannya merupakan gejala sosial atau sebuah peristiwa ?pertunjukan? atau lebih tepatnya sebagai ?pertunjukan budaya? sebagaimana yang terkonsepsikan oleh Milton Singer.Kata kunci: rokat pan?hâbâ, pertunjukan budaya, Madura.
Aksiologi Musikal pada Pertunjukan Tari Tradisional Linda dalam Ritual Adat Keagamaan Karia di Daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Firmansyah, Firmansyah; Lastoro Simatupang, GR Lono; Kusmayati, AM Hermien; Sushartami, Wiwik
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3817

Abstract

Esensi dari penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai musikal yang melekat di balik pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual adat keagamaan Karia di daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal yang unik dalam penelitian ini adalah alat musik yang digunakan dalam pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual Karia, para pemusik yang mayoritas dilakoni oleh kaum perempuan Muna, konsep musik yang sedikit berbeda dengan konsep musik pada umumnya karena cenderung disharmoni, dan perspektif orang Muna yang mayoritas beragama Islam terhadap musik. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa, musik mempunyai nilai-nilai khusus tersendiri dalam sudut pandang orang Muna.Musical Axiology in Linda's Traditional Dance Performance in the Traditional Karia Religious Ritual in the Muna Regency, Southeast Sulawesi Province. The essence of this research is to reveal the musical values inherent behind Linda's traditional dance performance in the traditional Karia religious rituals in the Muna Regency area of Southeast Sulawesi Province. What is unique in this study is the musical instrument used in Linda's traditional dance performances in the Karia ritual, the musicians who are predominantly performed by Muna women, the concept of music is slightly different from the concept of music in general because it tends to be disharmony, and the perspective of the majority of Muna people Muslim towards music. From the results of the study concluded that, music has its own special values in the point of view of the Muna people.Keywords:  music; linda traditional dance; ritual karia
ROKAT PANḌHÂBÂ SEBAGAI PERTUNJUKAN BUDAYA MASYARAKAT MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Rahayu, Eko Wahyuni; Ch.R., Wisma Nugraha; Kusmayati, A.M Hermien
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p9-22

Abstract

Rokat panḍhâbâ adalah ritual tradisi dalam kehidupan masyarakat Madura yang diselenggarakan bagi orang panḍhâbâ, yaitu orang-orang yang kelahirannya identik dengan pandawa (Jawa: wong sukerta). Dalam mitos masyarakat Madura, orang-orang yang termasuk dalam kategori orang panḍhâbâ diyakini dalam perjalanan kehidupannya akan mendapatkan kesialan atau tertimpa kemalangan. Rokat panḍhâbâ dilaksanakan pada intinya bertujuan untuk membebaskan orang panḍhâbâ dari ancaman yang dapat mengganggu kehidupan, baik kehidupan secara individu maupun keluarga. Tulisan ini akan mengungkap keunikan penyelenggaraan rokat panḍhâbâ sebagai peristiwa budaya masyarakat Madura khususnya di wilayah Kabupaten Sumenep. Hasil analisis menunjukkan, bahwa pelaksanaan rokat panḍhâbâ dalam tradisi masyarakat Madura di Sumenep dilakukan dengan rangkaian bermacam ritual dan perlengkapan sesaji baik berupa bahan-bahan makanan yang masih mentah, makanan siap saji, perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan busana, serta menghadirkan seni pertunjukan sebagai sarana ritual utama. Adapun rangkaian kegiatan ritual secara inti meliputi empat tahap yaitu, (1) pergelaran topèng ḍhâlâng lakon Murwakala (Bathara Kala), (2) ritual bersuci, (3) ritual pembayaran ijab kabul, dan (4) ritual penebusan. Penyelenggaraan rokat panḍhâbâ dengan berbagai elemen pendukung dan segala tata cara pelaksanaannya merupakan gejala sosial atau sebuah peristiwa “pertunjukan” atau lebih tepatnya sebagai “pertunjukan budaya” sebagaimana yang terkonsepsikan oleh Milton Singer.Kata kunci: rokat panḍhâbâ, pertunjukan budaya, Madura.
Aksiologi Musikal pada Pertunjukan Tari Tradisional Linda dalam Ritual Adat Keagamaan Karia di Daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Firmansyah Firmansyah; GR Lono Lastoro Simatupang; AM Hermien Kusmayati; Wiwik Sushartami
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3817

Abstract

Esensi dari penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai musikal yang melekat di balik pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual adat keagamaan Karia di daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal yang unik dalam penelitian ini adalah alat musik yang digunakan dalam pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual Karia, para pemusik yang mayoritas dilakoni oleh kaum perempuan Muna, konsep musik yang sedikit berbeda dengan konsep musik pada umumnya karena cenderung disharmoni, dan perspektif orang Muna yang mayoritas beragama Islam terhadap musik. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa, musik mempunyai nilai-nilai khusus tersendiri dalam sudut pandang orang Muna.Musical Axiology in Linda's Traditional Dance Performance in the Traditional Karia Religious Ritual in the Muna Regency, Southeast Sulawesi Province. The essence of this research is to reveal the musical values inherent behind Linda's traditional dance performance in the traditional Karia religious rituals in the Muna Regency area of Southeast Sulawesi Province. What is unique in this study is the musical instrument used in Linda's traditional dance performances in the Karia ritual, the musicians who are predominantly performed by Muna women, the concept of music is slightly different from the concept of music in general because it tends to be disharmony, and the perspective of the majority of Muna people Muslim towards music. From the results of the study concluded that, music has its own special values in the point of view of the Muna people.Keywords:  music; linda traditional dance; ritual karia
Memahami Lelangan Beksan Banjaransari melalui Elemen Musikal Karawitan Hermien Kusmayati; Raharja Raharja
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.42 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i1.3510

Abstract

Karya tari klasik Pura Pakualaman Yogyakarta diciptakan dengan memasukkan unsur gerak, busana, alur cerita, dan musik pendukung yang sarat makna. Demikian pula dengan Lelangen Beksan Banjaransari yang digali dari Babad Segaluh. Permasalahan timbul pada upaya masyarakat untuk memahami pesan yang termuat dalam karya tari tersebut. Berpijak pada pengamatan yang dilakukan menunjukkan bukti, bahwa masyarakat belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang karawitan tari. Tulisan ini mengungkap melalui aspek musikal dan non-musikal yang diperlukan untuk memahami tarian yang dimaksud. Cara tersebut, juga diharapkan dapat dipergunakan sebagai landasan untuk memahami tarian lainnya.Understanding Lelangan Beksan Banjaransari through Karawitan Musical Elements. Classical dance of Pakualaman palace of Yogyakarta was created by incorporating meaningful elements of motion, costume, storyline and music. Likewise with Lelangen Beksan Banjaransari excavated from Babad Segaluh. Problems arise in the community’s efforts to understand the message contained in the dance work. Based on observations shows evidence, that the community does not have enough knowledge about dance music. This paper reveals through the musical and non-musical aspects needed. This method is also expected to be used as a basis to understand other dances.Keywords: dance; Pakualaman; beksan Banjaransari; karawitan
EKSISTENSI SASTRA LISAN MAMACA DI KABUPATEN PAMEKASAN, MADURA AM Hermien Kusmayati; Suminto A Sayuti
LITERA Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v13i1.1914

Abstract

This study aims to describe the existence and functions of the mamaca oral literaturein Pamekasan Regency, Madura. The data source was the “Rukun Sampurna” mamacaoral literature community in Jalmak Village, Pamekasan, Madura. The data were collectedthrough observations and interviews. They were analyzed by means of the emic and eticapproaches. These two approaches were simultaneously employed to attain the objectivityof research findings. The findings are as follows. First, the mamaca oral community isdeveloped by the “Rukun Sampurna” community through regular performances andfulfillment of the community’s requests or invitations for special events. Second, themamaca oral community stimulates the community to move to a better condition throughthe delivered messages. The audience will get inspiration for life spirit, optimism,enlightenment, and happiness.
KARAKTER DALAM TARI GAYA SURAKARTA Silvester Pamardi; Timbul Haryono; R.M. Soedarsono; AM. Hermien Kusmayati
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.366 KB) | DOI: 10.33153/glr.v12i2.1533

Abstract

This writing is aimed at explaining characters in Surakarta style dance rooted at the palace. In Indonesiandance knowledge it is known as classic dance. Surakarta style dance has developed so long that has builtsystematized patterns of move and been fully fledged based on pakem beksa containing with many rules andtechniques of movements of palace dance. Javanese society believes that palace dance is a cultural heritagecontaining both values of guidance and entertainment as well. The concept of beauty of palace dance hasthree norms. Those are Hastakawaca, Kawaca, and Hastakawaca Gendhing. The norms show that the dancehas soul and movement such as container and content unified in inner and outer life. The masters (empu) ofJavanese dance believe that dance movement expressed through the body of dancer will produce innerattitude. Some people are able to find its philosophy at the time of dance appreciation. This paradigm can bedefined as an implementation of functional values of palace dance giving characters guidance and good soul.Identified through dance forms perspective, palace dance is a collective soul expression. In relation tomovement, palace dance expresses the soul of Javanese personality. In the sense of being a collective expression related to customary structures, the movement of palace dances covering the whole body meansbuilding up good soul. The character of palace dances is constructed with typology, temperament, and dispositionderived from or transformation of the forms of shadow play. The forms of shadow play have physical size(typology), motion puppet play (temperament), and wanda (character) in different visual appearance for eachcharacter or role. The characters structured in the forms of dance movement serves as the values of guidancethrough appreciation towards the values of nature and the roles of motion expressing bad and good teaching.Keywords: dance, character, philosophy, aesthetic, Surakarta style
Spiritualitas Budaya Jawa dalam Seni Tari Klasik Gaya Surakarta Silvester Pamardi; Timbul Haryono; R.M. Soedarsono -; A.M. Hermien Kusmayati
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.161 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.118

Abstract

ABSTRACT Javanese classical dance has grown dynamically in line with the history of the palaces in Central Java, especially after the fifteenth century that began in the era of the kingdom of Demak. It has lived and thrived in the court of Mataram Islam since the period of Panembahan Senapati at Kotagede, the time of Sultan Agung in the palace Plered, until the moving of the palace of Mataram to Kartasura.This research methods is focused on the use of qualitative data with the questions of ‘why’ and ‘how’ to unravel the mystery behind of the phenomenon. This actions are carried out with approach of multi- disciplinary such as science of history, social science, and choreography.The events of Gianti agreement in 1755 did not give only influence and impact on the power of the king of Mataram to had to be split into two regions, namely the region of Surakarta and Yogyakarta Sul- tanate region, but also had implications to the life of Javanese culture. The culture of Javanese which was originally derived from the one kingdom, namely  Mataram Kasunanan, then divided into two styles, namely Javanese culture of Surakarta and Yogyakarta. Fortunately, in the palace of Kasunanan Surakarta as well as in the Kasultanan Yogyakarta palace is still being developed classical Javanese arts based on cultural and adiluhung values; respectivelly developed in the different patterns or styles. The values of spiritual ‘Javanese’ is remained as a source of reference. Keywords: the art of dance, classical, spirituality of Javanese  ABSTRAK Seni tari klasik Jawa telah berkembang secara dinamis seiring dengan sejarah perkembang- an keraton-keraton di Jawa Tengah, terutama setelah abad XV yang dimulai pada era kerajaan Demak. Seni tari klasik Jawa hidup dan berkembang di lingkungan istana Mataram Islam sejak periode Panembahan Senapati di Kotagede, atau jaman Sultan Agung di keraton Plered sampai dengan berpindahnya keraton Mataram ke Kartasura.Metode penelitian ini konsentrasi utamanya pada penggunaan data kualitatif dengan per- tanyaan-pertanyaan ’mengapa’ dan ’bagaimana’ untuk mengungkap misteri yang berada di belakang fenomena yang ada. Tindakannya dilakukan dengan pendekatan multi disiplin dari ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan koreografi.Peristiwa perjanjian Gianti pada tahun 1755 tidak saja berpengaruh dan berdampak pada kekuasaan raja Mataram yang harus membagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Kasunanan Surakarta dan wilayah Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga berimplikasi pada kehidupan ke- budayaan Jawa. Kebudayaan Jawa yang semula bersumber dari satu kerajaan, yaitu Mataram Kasunanan, kemudian menjadi dua corak, yaitu kebudayaan Jawa Surakarta dan Yogyakarta. Namun demikian, baik di istana Kasunanan Surakarta maupun istana Kasultanan Yogyakarta tetap mengembangkan kesenian klasik Jawa berdasarkan nilai-nilai budaya adiluhung walau- pun dalam corak atau gaya yang berbeda. Nilai-nilai spiritualitas ‘kejawen’ tetap menjadi sum- ber acuannya. Kata kunci: seni tari, klasik, spiritualitas Jawa
H. Sastro sebagai Penggerak Mamaca di Pamekasan Madura Dana, I Wayan; Kusmayati, A. M. Hermien
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v19i2.4133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami Mamaca dan menjelaskan peran H. Sastro sebagai penggerak Mamaca di Madura. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi. Mamaca berarti membaca suatu kisah yang bersumber dari naskah tertentu. Tuntunan dalam Mamaca antara lain mengetengahkan pengetahuan tentang tahapan-tahapan kehidupan manusia sejak lahir, masa kanak- kanak, saat dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia. Mamaca sebagai wujud seni pertunjukan, selain memuat aspek-aspek yang bernilai tatanan dan tuntunan, juga menyajikan aspek-aspek estetik yang ditampilkan oleh suatu tontonan. Berdasar penelitian dapat disimpulkan bahwa H. Sastro memiliki peran sebagai penjaga dan penggerak seni pertunjukan Mamaca di Pamekasan Madura yang tergabung dalam kelompok Mamaca “Rukun Sampurna”. Mamaca selalu berkembang dan memiliki peran penting dalam pendidikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Pamekasan.ABSTRACTH. Sastro, a Mover of Mamaca in Pamekasan Madura. This study aims to understand Mamaca and explain the role of H. Sastro as a mover of Mamaca in Madura. Data were obtained by carrying out the interview and observation. Mamaca means reading a story that comes from a certain script. The guidance in Mamaca, among others, presents knowledge about the stages of human life from birth, childhood, adulthood, and finally death. Mamaca is as a form of performing arts, besides containing aspects that are of value order and guidance, it also presents the aesthetic aspects displayed by a spectacle. Based on the research, it can be concluded that H. Sastro has a role as the guardian and mover of the Mamaca performing arts in Pamekasan Madura which is a part of the Mamaca group “Rukun Sampurna”. Mamaca is always developing and has an important role in the values education of the Pamekasan community.Keywords: mamaca; pamekasan; the art of recitation