Latar belakang: Pemeriksaan fisik merupakan bagian integral dalam menegakkan diagnosis. Teknik pemeriksaan fisik yang biasanya dilakukan praktisi kesehatan adalah inspeksi (melihat dan mengamati), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk), dan auskulltasi (mendengar). Kurangnya objektivitas pada pemeriksaan fisik menimbulkan risiko perbedaan hasil diagnosis antar pemeriksa, sehingga banyak dokter mulai beralih ke pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis. Metode: Dibuat desain sistem untuk mengobjektifikasi dan menguantifikasi pemeriksaan fisik, yang terdiri dari empat komponen: pemindaian tubuh pasien secara 3 dimensi, perancangan sarung tangan dengan sensor IMU, stetoskop perekam suara, serta perkusor akustik. Pemindaian 3 dimensi tubuh manusia dilakukan dengan pemindai laser, di mana dihasilkan data berupa awan titik. Data ini kemudian diubah menjadi model 3 dimensi berbentuk mesh. Sensor IMU yang terdapat di sarung tangan memungkinkan pemeriksa untuk menandai bagian tubuh yang diperiksa saat inspeksi dan palpasi. Perkusor akustik berfungsi untuk mengemulasi ketukan jari pada organ tubuh yang diperkusi. Mikrofon pada stetoskop memungkinkan perekaman suara perkusi dan auskultasi, yang kemudian dapat diproses oleh komputer menjadi data kuantitatif. Laporan akhir, beserta model 3D-nya dapat dikirim untuk perujukan, atau dapat disimpan sebagai dokumentasi untuk perbandingan pemeriksaan selanjutnya. Diskusi: Biaya pembuatan sebuah sistem adalah sekitar Rp 9.000.000,00 (US$ 600). Penerapan sistem ini di setting pelayanan kesehatan primer diharapkan mampu mengurangi penggunaan pemeriksaan penunjang, dengan demikian biaya kesehatan tahunan per kapita bisa diturunkan sebesar Rp 728.000,00 (US$ 49). Kesimpulan: Sistem objektifikasi dan kuantifikasi pemeriksaan fisik mampu menekan pengeluaran kesehatan, namun butuh investigasi lebih lanjut untuk memerbaiki keterbatasannya.Kata kunci: pemeriksaan fisik, pemindai 3 dimensi, bioinformatika, teknologi kesehatan, teknik biomedik