Articles
Situs Ngurawan Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun (Latar Sejarah Dan Upaya Pelestariannya)
Ike Fuadillah;
Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 02 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (723.719 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v6i02.1041
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tentang upaya pelestarian situs Ngurawan Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun serta sebagai media pembelajaran lokal bagi pendidikan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber datar primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu di Desa Ngurawan Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun terdapat Desa Wurawan yang meupakan sebutan kuno dari sebuah wilayah yang sekarang berada di daerah Madiun selatan, tepatnya sebuah dusun di Desa Dolopo Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun, yaitu Dusun Ngrawan. Penduduk Dusun Ngrawan mayoritas mata pencahariaan adalah petani. Selain itu berternak, berkebun dan sebagian membuat batu bata. Dalam aktivitas kesehariannya warga sering menemukan berbagai jenis benda purbakala, bahkan di dusun ini batu kuno berukuran besar terlihat banyak berserakan. Hal ini merupakan bukti bahwa dusun Ngrawan adalah sebuah dusun tua dan pusat peradaban pada masa kerajaan dahulu kala. Dari beberapa peneliti dan berbagai sumber sejarah yang ada menegaskan bahwa dusun Ngrawan adalah pusat kerajaan Glang-Glang i bumi Ngurawan di masa Singhasari dan Kadipaten Gegelang di Masa Kerajaan Majapahit.
Pengaruh Peristiwa Gerakan 30 September 1965 Terhadap Kondisi Sosio psikologis Masyarakat Kelurahan Wungu Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun 1965-1998
Mathory Aquarta;
Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 02 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (739.475 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v4i02.830
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peristiwa gerakan 30 September 1965 terhadap kondisi psikologi sosial masyarakat Kelurahan Wungu Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun pada tahun 1965-1998. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui bagaimana pengaruh peristiwa tersebut dalam aspek ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengaruh peristiwa gerakan 30 September 1965 terhadap kondisi psikologi sosial masyarakat Kelurahan Wungu Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun pada tahun 1965-1998, adalah adanya beberapa warga masyarakat Kelurahan Wungu yang ikut menjadi tahanan politik dan menghilang setelah ditangkap oleh intel tentara pemerintah. Mayoritas warga masyarakat yang terdiri dari petani dan pedagang saat itu masih berpendidikan rendah sehingga mudah didekati oleh oknum-oknum PKI Muncul rasa takut dan was-was pada sebagian besar warga masyarakat Kelurahan Wungu karena takut disebut atau dituduh sebagai anggota PKI. Pada masa Orba, warga Kelurahan Wungu rasa takut dan was-was ini masih sangat besar ketika bertemu tentara, polisi, dan orang asing yang tidak dikenal. Hingga masa sekarang masih ada rasa takut pada sebagian warga apabila diwawancara yang berhubungan dengan sejarah PKI di Kelurahan Wungu.
Cerita Sejarah Dan Penanaman Nilai-Nilai Moral (Studi Kasus Di Desa Pandean Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun)
Ari Frianti Ristiana;
Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 01 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (606.812 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v4i01.821
Penelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral dari pesan yang ada dalam cerita kepada anak-anak usia dini antara 1-6 tahun di Desa Pandean sehingga selain membacakan cerita, para orangtua di Pandean juga mendidik anak-anak mereka dengan cerita. Cerita bisa mendorong minat baca anak untuk membaca khususnya anak usia dini, sehingga dengan membaca cerita anak juga bisa mengimplementasikan pesan moral yang ada dalam cerita di lingkungan belajarnya. Selain itu, penelitian ini dapat bermanfaat untuk dijadikan bahan ajar oleh orangtua atau para tenaga pendidik kepada siswanya, dan menjadi metode dalam mendidik anak-anak pada usia dini.Penelitian ini mengambil tehnik sampel purposive karena bertujuan untuk mengambil data dari sebagian populasi TK yang ada di Pandean. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengambilan sampel yang lebih efisien dan efektif. Penelitian ini menggunakan angket yang disebarkan kepada ibu-ibu di TK Pembina. Peneliti menyebarkan angket dan 30 menit kemudian data dari angket tersebut dikumpulkan dan diteliti secara cermat dan tepat apakah ada kekurangan dalam pengumpulan data. Penelitian ini juga dilakukan bagi ibu-ibu di sekitar Pandean yang mempunyai anak umur 1-6 tahun. Selain itu, peneliti menggunakan metode observasi kepada anak-anak dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 627 KK di Kelurahan Pandean yang mempunyai anak antara usia 1-6 tahun yaitu 73 KK, dan peneliti mengambil data sebanyak 50% dari ibu-ibu di Pandean telah membacakan cerita sejarah atau cerita dongeng kepada anaknya baik itu sebelum tidur atau di waktu senggang. Dari 36 responden, terdapat 26 responden yang membacakan cerita untuk anak-anaknya. Jadi hanya 35% orangtua di Pandean yang membacakan cerita untuk anaknya. Tujuan para orangtua untuk membacakan cerita sejarah ini kepada anak agar anak memiliki wawasan luas tentang dunia nyata, anak akan mempunyai imajinasi dengan bercerita, mendorong anak untuk belajar membaca buku dari usia dini, dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam cerita sejarah/dongeng. Menurut para orangtua di Pandean, mereka berusaha untuk meluangkan waktu untuk membacakan cerita bagi anak-anak mereka walaupun mereka sibuk baik di rumah dan di luar rumah. Sebagian besar orangtua di Pandean membacakan cerita rakyat Malin Kundang kepada anak mereka karena di dalam cerita Malin Kundang terdapat nilai luhur bagi anak usia dini yaitu tidak boleh durhaka kepada orangtua, sayang kepada orangtua, bekerja keras jika ingin berhasil.
Pengembangan Wedus Gembel (Wayang Kardus Gembira Dan Belajar) Sebagai Media Membangun Jiwa Nasionalisme Sejak Dini Pada Siswa TKK Santo Yusuf Kota Madiun
Oktavianto Nugroho Saputro;
Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (809.039 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.897
Pendidikan menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita, melalui pendidikanah kita dapar melanjutkan kehidupan dan menatanya dengan baik untuk masa depan yang baik pula. Melalui diunia pendidikan banyak hal yang bisa didapat, tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan, namun juga pelajaran-pelajara diluar itu. Kehidupan sosial, bagaimana kita menempatkan diri ditengah masyarakat, bersikap baik, sopan santun, cinta tanah air, semua hal tersebut juga dapat terbentuk melalui lembaga pendidikan. Semua hal yang baik dalam kehidupan ini akan lebih baik jka mulai dikenalkan sejak dini melalui lembaga pendidikan paling dasar, sebut saja PAUD. Penananman cinta tanah air dengan karakter-karakter pada anak akan lebih cepat mereka serap dan ingat jika dalam penyampaiaannya menggunakan media ajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa sebagai alat bantu penyampai pelajaran.
PERAN PENDIDIKAN SEJARAH DALAM PENGEMBANGAN PENGAJARAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR DI LPTK
Soebijantoro Soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (421.664 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v1i1.121
Karakteristik masyarakat Indonesia dapat ditunjukkan dengan keragaman, baik suku, bahasa, agama, budaya maupun adat istiadat. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, maka kesadaran akan sifat humanis, pluralis dan demokratis di atas keragaman merupakan sebuah tuntutan. Kristalisasi budaya atas sifat-sifattersebut telah tercatat dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia. Pendidikan multikultur di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) diharapkan dapat menumbuhkan empati bagi calon-calon guru yang melihat bahwa keragaman adalah sebuah kenyataan, bukan sesuatu yang harus dihindari. Pendidikan sejarah diharapkan dapat mengantarkan kesadaran itu melalui pengembangan pembelajaran berbasis kultural dengan acuan pengalaman kolektif bangsa Indonesia.
Upacara Adat Ruwatan Bumi Di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun (Latar Sejarah, Nilai-Nilai Filosofis, Dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal)
Ilham Abadi;
Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (666.044 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v6i01.883
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan latar belakang sejarah upacara adat ruwatan bumi, nilai-nilai filosofis, dan potensinya sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal, lokasi penelitian ini berada di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi/arsip. Sedangkan validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Analisis data menggunakan model interaktif Milles dan Huberman. Dari penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan hasil bahwa upacara adat ruwatan bumi di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun sudah ada sejak jaman kerajaan Mataram, karena Madiun merupakan daerah kekuasaan kerajaan tersebut. Tradisi tersebut kemudian selalu diperingati setiap satu tahun sekali berkenaan dengan pelestarian kebudayaan nenek moyang dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan upacara adat ruwatan bumi tersebut memiliki nilai-nilai filosofis ditinjau dari prosesi dan perlengkapan yang digunakannya, diantaranya semangat bekerja keras, hemat, rasa syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa, pelestarian kebudayaan nenek moyang. Upacara adat ruwatan bumi di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun memiliki sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal, dikarenakan pengetahuan yang dapat diambil dari kegiatan tersebut, ditinjau dari beberapa aspek dapat disesuaikan dengan materi pembelajaran sejarah yang ada dalam dunia pendidikan.
Dampak Kunjungan Wisatawan Terhadap Pelestarian Museum Trinil Tahun 2010-2013
Yuli Astutik;
Soebijantoro soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (853.261 KB)
|
DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.889
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kunjungan wisatawan terhadap pelestarian Museum Trinil tahun 2010-2013. Lokasi penelitian ini berada di Musuem Trini dan sekitarnya Dukuh Pilang Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber datar primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Sedangkan analisis data menggunakan analisi model interaktif miles dan hubbermain. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu semakin banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Museum Trinil yang terjadi pada tahun 2010 hingga 2013 menyebabkan Museum Trinil semakin tidak lestari. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya dampak negatif kuat daripada dampak positif. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa keinginan dari sebagian besar wisatawan asing untuk memiliki benda-benda cagar budaya yang asli bukan replika buatan manusia sebagai sebuah souvenir. Sehingga hal ini menyebabkan sebagian besar koleksi-koleksi yang ada di Museum Trinil hanya sebuah replika atau tiruan dari fosil yang sebenarnya yang dapat mengurangi keaslian bukti peninggalan sejarah yang ada Kabupaten Ngawi khususnya di Museum Trinil itu sendiri. Sedangkan wisatawan lokal sering meninggalkan sampah disekitar Museum Trinil khususnya di taman belakang yang lokasinya jauh dari pengawasan pengelola museum. Selain itu, banyaknya coretan-coretan menggunakan aerosol semprot benda-benda yang ada di sekitar Museum Trinil. Terbukti dari banyaknya coretan pada replika hewan-hewan purba yang ada di taman belakang gedung serta pada tugu peresmian berdirinya Museum Trinil. Meskipun peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi mulai tahun 2010 hingga 2013 membawa dampak positif dengan perenovasian gedung Museum Trinil yang dilakaukan oleh Pemerintah Pusat, dampak negatif akan tetap ada dan kemungkinan juga akan merusak hasil perenovasian tersebut apabila tidak diimbangi dengan peraturan-peratuan yang jelas untuk para wisatawan baik asing maupun lokal.
Implementasi Lesson Study pada Pengajaran IPS Kelas Tinggi
Soebijantoro Soebijantoro
Jurnal Pendidikan Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Pendidikan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.484 KB)
The graduation ratio of Electronics I subject passes 95% and more than 75% of the students get B. The Electronics I subject, which mainly discusses diode and transistor, has become the prerequisite one for the next Electronics II containing underlying theories for the advanced apllication of them. It is prdicted that the students have perceived a strong basis for the understanding of Electrobics II materials. This assumption leads to an idea of developing the students independence in learning Electronics II subject. The strategy is taken up by giving independent tasks so as to present them before the class. The students’ proficiency can be noted from the discussion process. The result of analysis shows that the students can achieve good result almost without lecturers assistence. In each of presentation, 80% of the arising problems can be resolved well without lectrer’s assistence, which then means that the students independence can be achieved under this learning technique. The pasasing grade of the subject can be proudly acheived by 98.72% of the students. Out of 78 students, 8 of them (10.26%) get A, 59% of them (76.92%) get B, and 10 of them (12.82%) get C, and 1 student (1.28) gets D. The overall achievement shows that independent learning can be built upon presentation technique.
Revitalisasi Pengajaran Sejarah dan Upaya Menuju Profesionalisme Guru-Guru Sejarah
Soebijantoro Soebijantoro
Jurnal Pendidikan Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : Jurnal Pendidikan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (63.697 KB)
Teaching of history is one out of that of other subjects in schools, which activity includes the implementation of nurturing societal values from one generation to another. Nurturing societal values to students in class can in turn empower their awareness of the past through a systematic learning design. Teachers of history should consequently understand their duty – not only carrying out the proper instructional design, but also nurturing those societal values to students. That duty can only be realized by developing both instructional strategy and value acquisition, so as to contribute as professional history teachers who implement the long life education.
KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP MELALUI PENGAJARAN GEOGRAFI SEJARAH DI LPTK
Soebijantoro Soebijantoro
Jurnal Pendidikan Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Pendidikan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ecosystem has been one target of the UNO's millenium development goals. The decision is sited because the safety of the ecosystem is regarded to be critical around the development of science and technology of 20th century which result in not only well-being but also disaster for human mankind, pertaining to complicated problems. The role of technology has shifted along the way with the development of human history, from the support system to power which determines the cosietal behaviour and interaction.Technology is always coined with science, since technlogy is the embodiment of the science. Hence, technology will only develop in the assistance of the cultural behaviour which contributes strategic advantage for human being. The development of technology inavitably requires the deep structure of ethics, moral and commitment to establish the basis of a nation's culture. The most responsible institution to nurture such values is educational institution.One of the objectives of teaching historical geography is to nurture students awareness against the significance of ecosystem, thorugh the historical cultural and geographical approaches, around and within human life and living.