Abraham Nurcahyo
IKIP PGRI MADIUN

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengaruh Partai Golkar Terhadap Dinamika Kehidupan Politik Di Kabupaten Madiun Tahun 1999-2009 Alfi Hafidh Ishaqro; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 02 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.992 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i02.1466

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh partai golkar terhadap dinamika kehidupan politik di Kabupaten Madiun tahun 1999-2009. Lokasi Penelitian di DPD Golkar Kabupaten Madiun yang bertempat di jalan Raya Solo Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Penelitian ini berbentuk diskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan selama tiga bulan. Sumber data dari penelitian ini adalah dari informan, arsip dan dokumen. validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data dengan menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Sedangkan analisis data menggunakan analisis model interaktif yang menggunakan tiga teknik yakni reduksi data, sajian data dan verivikasi atau penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan diperoleh hasil sebagai berikut: Partai Golkar pada tahun 1999-2011 mengalami perkembangan politik yang dinamis di Kabupaten Madiun. Partai Golkar hingga saat ini masih bertahan, tidak hanya diperhitungkan tetapi menjadi partai Politik yang disegani oleh kawan ataupun lawan. Partai Golkar yang semula menjadi sasaran hujatan dan intimidasi kini menjadi partai yang cukup dinamis dan disegani oleh banyak pihak. Dalam waktu sepuluh tahun Partai Golkar mampu membangun pengaruh di masyarakat Madiun, menjadi partai yang memiliki pengaruh dalam dinamika kehidupan Politik Kabupaten Madiun dari awal reformasi hingga tahun 2009.
MUSEUM TROWULAN DAN HISTORIOGRAFI MAJAPAHIT PENGUAT IDENTITAS BANGSA Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.925 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i1.132

Abstract

Museum Indonesia selama ini kaya koleksi, tetapi miskin informasi. Pengunjung hanya menikmati benda kuno, bukan gagasan, pengetahuan atau pesan yang bermanfaat untuk saat ini. Founding father paham benar, pentingnya mewarisi kejayaan Majapahit. Mewarisi tinggalan sejarah merupakan bagian dari mewarisi sejarah itu sendiri. Informasi terpadu berupa data tertulis, digital, gambar maupun peninggalan pada masa Majapahit dapat diakses secara lengkap pada Pusat Informasi Majapahi. Dalam struktur pemerintahan Majapahit, raja memegang otoritas tertinggi dan dianggap sebagai penjelmaan Dewa di dunia. Pola pemerintahannya menganut konsep kosmogoni, penggabungan pengaruh dua kekuatan ajaran Hinduisme dan Budhisme. Menurunnya kecintaan bangsa ini pada tanah air bermula dari hilangnya kesadaran sejarah, geografis, dan budaya kita. Penguatan identitas bangsa akan lebih efektif jika semua lapisan masyarakat terlibat didalamnya serta diperlukan kemauan politik oleh pengambil kebijakan. 
Relevansi Budaya Patriarki Dengan Partisipasi Politik Dan Keterwakilan Perempuan Di Parlemen Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.284 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i01.878

Abstract

Bentuk penentangan perempuan atas kuasa laki-laki tidak terlepas dari sistem patriarki yang tidak adil. Menempatkan perempuan sebagai bayang-bayang laki-laki. Masyarakat patriarki sejak awal menganggap bahwa laki-laki lebih kuat dibandingkan perempuan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Budaya patriarki dan nilai-nilai sosial di Indonesia menuntut perempuan untuk tidak berpartisipasi di ranah politik maupun pemerintahan. Sistem dan arah kebijakan pemerintah terhadap isu perempuan kian responsif jender. Namun demikian, posisi perempuan tetap rentan terhadap berbagai bentuk manipulasi politik dan sering dipakai sebagai alat legitimasi. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan, bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai warga negara adalah setara. Kuota minimal 30% keterwakilan perempuan diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Kurangnya keseimbangan gender di sektor politik dan pemerintahan dapat  menghambat partisipasi perempuan dalam ranah publik. Dalam perspektif perempuan, politik haruslah mencakup seluruh kehidupan baik di ranah publik maupun privat.
Pengaruh Candi Cetho Sebagai Obyek Wisata Sejarah Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Danang Finantoko; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 02 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.605 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i02.888

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Candi Cetho sebagai obyek wisata sejarah terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Tahun 2001-2012. Penelitian dilakukan selama 6 bulan, mulai Februari sampai dengan bulan Juli. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara observasi dan dokumentasi. Dalam menganalisis data digunakan metode Analisis Interaktif dengan berpegangan pada tiga komponen yaitu: Reduksi data, Sajian data, kesimpulan-kesimpulan: penarikan/verifikasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh gambaran beberapa pengaruh Candi Cetho sebagai obyek wisata sejarah terhadap kehidupan sosial ekonomi di Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar. Sebelum dijadikannnya Candi Cetho sebagai obyek wisata sejarah, kehidupan sosial ekonomi masyarakat masih sangat rendah karena masyarakat masih tergantung dari bertani. Setelah Candi Cetho dijadikan sebagai obyek wisata pada masa orde baru. Berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi dalam memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sehingga meningkatkan kesejahteraan dan juga potensi desa. Tetapi kurangnya perhatian pemerintah dalam pengembangan Candi Cetho sebagai obyek wisata mengakibatkan pembangunan yang kurang bisa merata dan belum bisa dirasakan oleh masyarakat Desa Gumeng. Perbaikan jalan harus lebih diperhatikan oleh pemerintah agar memudahkan pengunjung untuk datang ketempat obyek wisata. Perkembangan sosial ekonomi masyarakat Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar juga meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari pendapatan perkapita penduduk yang relatif naik dari tahun ke tahun dan bertambahnya jumlah keluarga sejahtera dalam rentang waktu tahun 2001-2012.
RITUAL LARUNG SESAJI TELAGA NGEBEL PONOROGO (STUDI HISTORIS DAN BUDAYA) Maulana Mitanto; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.292 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1459

Abstract

Ritual larung sesaji merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya bangsa. Larungan sesaji adalah sebuah tindakan religi dengan paham animisme dan dinamisme dimana mitos dan magi tetap lekat dalam pribadi Jawa di Desa Ngebel. Tradisi larung sesaji di Telaga Ngebel selalu digelar rutin setiap malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa dan tradisi tersebut masih eksis hingga saat ini. Di dalam kegiatan ritual terdiri dari beberapa rangkaian acara yang setiap tindakan memiliki makna simbolik. Tindakan-tindakan simbolis dalam setiap prosesi memiliki arti atau tujuan walaupun dengan berbagai macam cara yang berbeda, namun pada akhirnya tetap bermuara pada permohonan kepada Sang Pencipta. Sejarah larung sesaji berpangkal dari mitos sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jawa yang masih sulit dipisahkan dalam pola pemikiran hingga saat ini. Eksistensi ritual larung sesaji dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu : aspek pendidikan, aspek religi, aspek mata pencaharian, aspek budaya, aspek ekonomi.
Studi Perkembangan Aliran Kebatinan Kerohanian Sapta Darma Di Kabupaten Magetan Tahun 1956-2011 Andriawan Bagus Hantoro; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 02 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.126 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i02.828

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan aliran kebatinan kerohanian Sapta Darma di Kabupaten Magetan Tahun 1956-20011. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengambilan data menggunakan dua sumber yaitu sumber data primer dari hasil wawancara dengan informan, kemudian sumber data sekunder dari foto dan dokumen yang ada di Persada Kabupaten Magetan yaitu Desa Milangasri. Validasi yang dipergunakan untuk menguji kebenaran data yaitu menggunakan validasi sumber. Menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang didalamnya terdapat 3 tahapan yaitu melalui proses reduksi data, sajian data dan verifikasi atau proses penarikan kesimpulan.Sapta Darma telah ada di Kabupaten Magetan sejak tahun 1957. Sapta Darma itu sendiri terjadi melalui wahyu yang di terima oleh Hardjosapoero dari Kediri pada tahun 1956. Selanjutnya Hardjosapoero bergelar Panuntun Agung Sri Gutama dan menyebarkan ajarannya ke seluruh wilayah di Indonesia. Dalam penyebarannya di Kabupaten Magetan, Sri Gutama melakukan peruwatan di beberapa tempat, di antaranya adalah Telaga Sarangan, Air Terjun dan Hargo Dalem Gunung Lawu, dibantu oleh Sri Pawenang dan berhasil menuntun sujud masyarakat Magetan.
Pengaruh Dinamika Politik Indonesia Terhadap Eksistensi Harian Kompas (1965-2012) Andik Kurniawan; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 01 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.253 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i01.904

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menemukan asal-usul dan peran tokoh pendiri Kompas; 2) mendapatkan gambaran sejarah cara bertahan Kompas dalam melewati Orde Baru; 3)  mendapatkan pemahaman sejarah bagaimana strategi Kompas menempatkan diri di kultur politik era reformasi. Penelitian dilaksanakan dengan metode historis. Digunakan jenis penulisan kajian pustaka untuk mendapatkan hasil fakta sejarah yang diinginkan, yakni: asal-muasal berdiri, tokoh pendiri, serta strategi dan taktik yang dilakukan Kompas dalam menjaga eksistensinya di dunia pers Indonesia dan di dalam konteks sejarah politik tanah air. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari peraturan perundang-undangan, dokumen kerja lembaga, jurnal ilmiah, publikasi internet, dan buku-buku. Teknik yang digunakan dalam mendapatkan sumber adalah teknik studi pustaka. Diseleksi sejumlah dokumen primer dan publikasi-publikasi pendukung lainnya yang valid dan relevan dengan permasalahan guna mencapai tujuan penelitian. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada metodologi historis yang sistematikanya dimulai dari pertama, tahap heuristik, atau pencarian sumber. Kedua, kritik sumber, atau seleksi fakta. Ketiga, interpretasi, atau pemaknaan dari serangkaian bukti sejarah yang didapat. Keempat, penulisan hasil akhir dalam suatu bentuk narasi penjelasan sejarah. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan timbal-balik antara dinamika politik nasional dengan strategi umum yang menjadi kebijakan Dewan Redaksi Kompas. Kompas berhasil melalui tiga jaman ini dengan baik dan mengalami perkembangan skala usaha dengan luar biasa. Prinsip jurnalisme kepiting, suatu cara jurnalisme santun dan cenderung bermain aman, membantu Kompas berhasil melalui tiga jaman ini dengan baik, sekaligus mengalami perkembangan skala usaha dengan luar biasa.
Rumah Adat Lakatuil Di Desa Bampalola Kecamatan Alor Barat Laut Kabupaten Alor NTT (Kajian Historis, Nilai Filosofi, Serta Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah) Amir Molbang; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 02 (2016)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.476 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v6i02.1040

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang sejarah Rumah Adat Lakatuil, nilaihistori, nilai filosofi, dan potensinya sebagai Sumber belajar sejarah. Lokasi penelitian ini berada di Desa Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor NTT. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Teknik pengumpul data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber. Sedangkan analisis data menggunakan analisis model interaktif H.B. Sutopo. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Rumah Adat Lakatuil adalah rumah panggung berdinding bambu diatapi rumput ilalang berbentuk kerucut. Pada bagian puncak berukiran ular naga yang sedang membuka mulut menjurus kearah timur atau terbitnya matahari. Ciri khas yang lain adalah sebuah tangga yang menghubungkan tanah dan rumah panggung juga terdapat naga yang membuka mulut pada bagian kanan sedangkan bagian kiri terdapat sebuah rantai yang berfungsi sebagai pegangan pada tangan kiri. Dalam Rumah adat tersebut juga banyak peninggalan-peninggalan pusaka seperti Moko dan Gong. Bagi masyarakat Bampalola atau pengunjung yang hendak memasuki rumah adat harus menanggal kasut atau alas kaki karena tempat itu suci dan tidak boleh berbicara dengan kata-kata kotor.  Setiap pengunjung yang hendak memasuki rumah adat tersebut harus mengawali langkahnya dengan kaki kanan dan tangan kanan dimasukkan kedalam mulut naga yang sedang terbuka sambil tangan kiri memegang rantai tali untuk berjalan menaiki tangga dan masuk kerumah adat. Keberadaan Rumah Adat Lakatuil mempunyai nilai-nilai histori dan filosofi dimana masyarakat Bampalola masih hidup dengan nilai-nilai adat serta menyatu dengan alam yang harmonis harus selalu diwariskan dan dilestarikan agar generasi yang akan datang tidak melupakan nilai-nilai sejarah yang ada. Nilai-nilai tersebuat dapat pula dijabarkan dalam pembelajaran IPS/Sejarah.
Perkembangan Surat Kabar Lokal Di Madiun Tahun 1999-2011 Aditya Nur Hanafi; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 01 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.635 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i01.820

Abstract

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis pendekatannya adalah pendekatan studi kasus. Penelitian studi kasus ini dapat membantu peneliti dalam mengungkap masalah yang terjadi dalam perkembangan surat kabar lokal yang ada di Madiun pada tahun 1999-2011. Sumber Data yang digunakan sumber data primer dan sekunder. Data Primer, dimana penelitian ini memperoleh informasi dari pimpinan redaksi, sekretaris dan koordinator lapangan dari masing-masing perusahaan surat kabar lokal yang ada di Madiun. Sedangkan data sekunder, dimana data ini digunakan untuk menguatkan teori yang digunakan dalam landasan peneliti dalam melakukan penelitian yang diperoleh dari referensi kepustakaan yang berfungsi menguatkan data yang diperoleh dari lapangan. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara (interview), dokumentasi dan observasi lapangan. Dalam menganalisis data menggunakan metode wawancara (interview) dan penelitian lapangan (research). Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang didalamnya terdapat 3 tahapan yaitu melalui proses reduksi data, sajian data dan verifikasi atau proses penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa perkembangan surat kabar lokal di Madiun dari tahun 1999-2011 mengalami perkembangan. Indikasi mengalami perkembangan adalah sudah tersebarnya surat kabar di wilayah Madiun secara merata, yang dulu hanya tersebar diwilayah kota saja. Informasi dari segala bidang (pendidikan, ekonomi, sosial budaya, politik dan kewirausahaan) dapat diperoleh oleh masyarakat dari berbagai golongan. Berkembang dan bertahanya surat kabar lokal di era modern ini juga merupakan bukti bahwa masyarakat juga masih percaya dengan surat kabar. Hasil penelitian yang lain menyebutkan bahwa surat kabar lokal memberikan pengaruh terhadap perkembangan Kota Madiun baik di bidang pendidikan, kewirausahaan, pemerintahan dan politik.
Peranan Mbah Wo Kucing Dalam Pelestarian Reog Dan Warok Di Kabupaten Ponorogo Reza Adi Primawan; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.706 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.896

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang Peranan Mbah Wo Kucing dalam pelestarian Reog dan Warok di Kabupaten Ponorogo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif-deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang berupa informan dan sumber data sekunder yang berupa sumber pustaka, arsib, wawancara, dan pengamatan lapangan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga macam yaitu: observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Sedangkan analisis data menggunakan analisis model interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dari penelitian yang dilaksanakan diperoleh gambaran, bahwa perkembangan Reog dan Warok Ponorogo tidak lepas dari campur tangan orang-orang yang peduli terhadap keberlangsungannya. Salah satu tokoh yang giat untuk melestarikan Reog dan Warok di Kabupaten Ponorogo adalah Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing). Kasni Gunopati (Mbah Wo Kucing) lahirpada tanggal 30 Juni 1934 di Desa Kauman Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Mbah Wo Kucing merupakan anak pertama dari empat bersaudara putra pasangan Martorejo dan Sutilah. Usaha Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing) dalam melestarikan budaya lokal Ponorogo adalah dengan mendirikan paguyuban Reog Ponorogo yang diberi nama Pujangga Anom. Paguyuban Reog Pujangga Anom berdiri pada tahun 1966 sampai Mbah Wo Kucing meninggal dunia Semasa hidup Mbah WO Kucing mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan Kesenian Reog Ponorogo dengan cara melatih murid-muridnya agar nilai-nilai karakter dalam kesenian Reog Ponorogo selalu ada dalam hati para penerusnya. Adapun peninggalan dan bukti konkret dari sepak terjang Paguyuban Pujangga Anom yang didirikan oleh Mbah Wo Kucing adalah dua dhadak merak sekaligus kepala barongannya, satu set gong, dua kendhang, satu slompret, dan pakaian-pakain menari milik murid-murid Mbah Wo Kucing. Selain itu dalam hidupnya Mbah Wo Kucing tetap menggunakan identitas Warok Ponorogo sebagai identitas dirinya. Sebagai masyarakat asli Ponorogo istilah Warok dan sebuah paguyuban Reog tidak bisa dipisahkan. Warok merupakan seorang pelaku seni sekaligus yang membahwahi sebuah paguyuban tersebut.