Singgih Tri Sulistiyono
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SEJARAH DAN PENCERAHAN MASYARAKAT: Paradigma Pengajaran Sejarah di Persimpangan Jalan Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.531 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i1.763

Abstract

Penelititan dan penulisan sejarah telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa dalam era reformasi ini. Berbagai kontroversi dalam penulisan sejarah menyebabkan dunia pengajaran sejarah di sekolah menghadapi dilema. Penulisan sejarah dan kesadaran sejarah memiliki kaitan yang sangat erat. Guru sejarah mampu memberikan pencerahan sosial kepada murid-muridnya melalui pengajaran sejarah. Pengajaran sejarah dengan paradigma yang sesuia dengan hakekat sejarah akan membebaskan masyarakat dari belenggu mitos masa lampau. Penulisan sejarah akan menjadi salah satu sarana untuk menciptakan kesadaran sejarah. Penulisan sejarah bersifat sangat terbuka sesuai dengan penemuan-penemuan bukti baru, interpretasi baru, dan tentu saja juga kepentingan-kepentingan baru. Tidak ada yang kekal dalam penulisan sejarah kecuali penulisan kembali sejarah itu sendiri Peran guru sejarah dalam melakukan pencerahan sosial melalui pengajaran sejarah di sekolah tidak perlu disangsikan lagi. Para penyusun kurikulum dan bahan ajar ini lah yang banyak mewarnai paradigma pengajaran sejarah di sekolah. Pengajaran sejarah yang memiliki nilai pencerahan sosial merupa-kan pengajaran sejarah yang sejauh mungkin menghindari narasi yang banyak memuat pola-pola oposisi biner hitam putih.
CONTROVERSY IN HISTORY EDUCATION: EXPERIENCES OF JAPAN AND INDONESIA Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.569 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i2.705

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk membandingkan kontroversi sejarah yang terjadi di Jepang dan di Indonesia. Meskipun kedua negara ini memiliki masalah yang sama dalam kaitannya dengan kontroversi penulisan dan pengajaran sejarah, namun ada beberapa aspek yang berbeda. Kontroversi sejarah Jepang terkait dengan negara-negara tentangga khusunya Korea dan Cina dalam kaitannya dengan kekejaman-kekejaman Jepang selama Perang Dunia, sedangkan kontroversi sejarah dan pembelajaran sejarah di Indonesia terkait dengan masalah internal bangsa khususnya yang berhubungan dengan peristiwa Gerakan 3 September tahun 1965. Tulisan ini akan menganalisis pengalaman kedua negara tersebut dalam menangani kontroversi tersebut dan termasuk di dalamnya pengalaman guru dan murid.
Book Review: Understanding the Economic Growth of Indonesia Singgih Tri Sulistiyono
Lembaran Sejarah Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.978 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.23776

Abstract

Paradigma Maritim dalam Membangun Indonesia: Belajar dari Sejarah Singgih Tri Sulistiyono
Lembaran Sejarah Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.853 KB) | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.33461

Abstract

This article discusses the importance of the maritime paradigm in Indonesian national development. The maritime paradigm or what was once called as the maritime concept (wawasan bahari) or archipelagic concept (wawasan nusantara) is a development concept based on Indonesian identity as a maritime nation. The reinterpretation of this maritime paradigm is important in the context of the present period. First, to develop a clear conceptual and legal basis to the idea of the maritime state. Second, to implement in a practical manner the idea of the maritime state in the economic, political, social and cultural developments. By revitalizing and reinterpreting the maritime paradigm that is in line with the national identity it is hoped that national development based on the maritime state framework could achieve an optimal result.
The Consolidation of The Colonial State and Resistance in Gorontalo, 1908–1942 Joni Apriyanto; Yety Rochwulaningsih; Singgih Tri Sulistiyono; Haryono Rinardi
PURBAWIDYA Vol. 15 No. 1 (2026): Vol. 15(1) Juni 2026
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2026.14339

Abstract

This article focuses on the study of the strengthening of the Dutch colonial state in Gorontalo, the accompanying dynamics of local conflict, and the forms of resistance carried out by nationalist movement groups during the period 1908–1942. The aim of this study is to explain why and how the process of colonial state consolidation took place in Gorontalo, while also analyzing the relationship between repressive colonial policies, local conflicts, and the emergence of resistance by nationalist movements within the context of Indonesia’s national awakening. The method employed in this article is the historical method, which includes the stages of heuristics (source collection), source criticism, interpretation, and historiography, in order to analytically reconstruct colonial dynamics and the socio-political responses of Gorontalo society. The findings of this study indicate that the strengthening of the Dutch colonial state in Gorontalo occurred alongside the implementation of modern administrative systems, economic commercialization, and hegemonic colonial social stratification. These policies not only triggered local conflicts but also opened spaces for political mobilization and education, which were utilized by nationalist movement groups to build resistance, both through organizational activities and collective actions. These findings are significant because they demonstrate that local dynamics in Gorontalo constitute an integral part of Indonesia’s national historical process. The resistance of nationalist movements in Gorontalo represents a local articulation of opposition to colonial hegemony, while simultaneously affirming Gorontalo’s position in the history of the formation of national consciousness and the collapse of Dutch colonial rule.