Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERANAN SAREKAT ISLAM (SI) DAN MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN POLITIK DAN PENDIDIKAN PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL Iyus Jayusman; Oka Agus Kurniawan Shavab
Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/candrasangkala.v7i2.3669

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran peranan Sarekat Islam dan Muhammadiyah di bidang politik dan pendidikan pada masa pergerakan nasional Tahuun 1911-1942. Organisasi perjuangan Sarekat Islam (1911) dan Muhammadiyah (1912) menjadi organisasi yang melakukan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan agama sebagai landasan perjuangannya. Kedua organisai ini sama-sama berjuang demi terciptanya kemerdekaan Indonesia, namun dengan jalan dan ideologinya masing-masing dimana perjuangan Muhammadiyah lebih terkonsentrasi di bidang pendidikan, sementara Sarekat Islam di Bidang Politik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan tahapan-tahapannya, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan Historiografi. Bentuk peranan Sarekat Islam pada masa pergerakan nasional khususnya di bidang politik adalah melalui gerakan buruh, volksraad, dan kritik langsung terhadap pemerintah melalui kongres nasional yang diadakan setiap tahun. Lain halnya dengan organisasi Muhammadiyah yang tidak terlibat secara langsung dengan gerakan-gerakan politik yang muncul pada saat itu, namun organisasi ini mendukung perjuangan gerakan politik yang meperjuangkan aspirasi masyarakat Islam. Pada masa ini, Muhammadiyah juga banyak terlibat dalam bidang pendidikan terutama dengan mendirikan sekolah-sekolah binaan Muhammadiyah.
PERANAN ORANG CINA DALAM PERDAGANGAN DI JAWA PADA ZAMAN VOC ABAD XVII Iyus Jayusman
BIHARI: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN ILMU SEJARAH Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.445 KB)

Abstract

Jauh sebelum kedatangan orang Eropa khususnya bangsa Belanda di Nusantara, etnik Cina sudah melakukan aktivitas perdagangannya di tanah Jawa, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa, khususnya di daerah Tuban dan Surabaya yang saat itu sudah ramai dikunjungi oleh para pedagang mancanegara yang kebanyakan dari mereka datang dari belahan bumi sebelah barat dan timur. Peran para pedagang Cina saat tersebut lebih spesifik sebagai pedagang perantara (middleman) antara penguasa pribumi dengan penguasa pribumi, juga antara penguasa pribumi dengan rakyat. Sekaitan obyek masalah yang akan diteliti kejadian masa lalu, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode historis yang tahapannya meliputi pengumpulan sumber tulisan, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Memasuki abad ke-16, yaitu periode awal kedatangan bangsa Eropa di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, peran orang Cina tetap sebagai middleman artinya peran etnik Cina belum mengalami perubahan dalam perannya sebagai pedagang, yaitu masih sebagai pedagang perantara. Demikian pula, ketika orang Belanda mendirikan kongsi dagang (VOC), peran orang Cina masih seperti sedia kala sebagai pedagang perantara antara para pengusaha VOC dengan para penguasa pribumi dan para pengusaha pribumi. Namun pada periode VOC, etnik Cina di samping sebagai pedagang perantara, juga bekerja sebagai buruh di perkebunan-perkebunan yang dikelola oleh pemodal-pemodal VOC. Hanya perannya sebagai pedagang perantara tetap dominan jika dibandingkan dengan peran-peran yang lainnya. Pada masa kekuasaan VOC, kendatipun orang Cina keberadaannya sangat dicurigai oleh pihak penguasa, namun orang Cina oleh para penguasa VOC, secara hati-hati sering kali dijadikan mitra dagang. Para pejabat VOC merasa lebih senang berhubungan dengan orang Cina, ketimbang harus berhubungan dengan rakyat pribumi yang kental kultur feodalistiknya.