Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP M. FETHULLAH GULEN TENTANG HERMENEUTIKA PERADABAN ISLAM KOSMOPOLITAN Imam Maksum
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2014.9.1.205-222

Abstract

Tulisan ini coba melihat Konsep M. Fethullah Gulen tentang hermeneutika peradaban Islam kosmopolitan. Menurutnya bahwa pluralitas merupakan realitas yang niscaya, dalam bentuk apa dan di mana kita berada. Konsekuensinya, muncul berbagai konflik, ketidakadilan, penjajahan termasuk konflik antaragama. Untuk itu, berarti sikap inklusivisme itu pun menjadi suatu keniscayaan yang pada gilirannya membuat dialog menjadi niscaya pula. Dialog antaragama menjadi sarana terpenting untuk tidak hanya menumbuhkan saling menghormati, pengertian dan saling memahami antarumat beragama (toleransi). This article discusses thought of contemporary Turkish scholar, M. Fethullah Gulen. It focuses on his idea on Islamic cosmopolitanism. Throughout his writing, Gulen argues that plurality is an unavoidable fact in every place in this wordly life. Conflict due to diversity comes along. In some cases, conflict leads to the emergence of brutalism and anarchy. To answer these problems, he offers inclusivism by which dialogue could be possibly carried out, particulary among religious observant. Dialogue is a wise method to respect and understand one to another and to maintain tolerance.
KONSEP M. FETHULLAH GULEN TENTANG HERMENEUTIKA PERADABAN ISLAM KOSMOPOLITAN Imam Maksum
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2014.9.1.205-222

Abstract

Tulisan ini coba melihat Konsep M. Fethullah Gulen tentang hermeneutika peradaban Islam kosmopolitan. Menurutnya bahwa pluralitas merupakan realitas yang niscaya, dalam bentuk apa dan di mana kita berada. Konsekuensinya, muncul berbagai konflik, ketidakadilan, penjajahan termasuk konflik antaragama. Untuk itu, berarti sikap inklusivisme itu pun menjadi suatu keniscayaan yang pada gilirannya membuat dialog menjadi niscaya pula. Dialog antaragama menjadi sarana terpenting untuk tidak hanya menumbuhkan saling menghormati, pengertian dan saling memahami antarumat beragama (toleransi). This article discusses thought of contemporary Turkish scholar, M. Fethullah Gulen. It focuses on his idea on Islamic cosmopolitanism. Throughout his writing, Gulen argues that plurality is an unavoidable fact in every place in this wordly life. Conflict due to diversity comes along. In some cases, conflict leads to the emergence of brutalism and anarchy. To answer these problems, he offers inclusivism by which dialogue could be possibly carried out, particulary among religious observant. Dialogue is a wise method to respect and understand one to another and to maintain tolerance.