Samsul Ma'rif
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pola Penerapan Hukum Adat dalam Penyelenggaraan Pembangunan di Wilayah Pembangunan III Grime Kabupaten Jayapura-Papua Kristian V. Griapon; Samsul Ma'rif
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.382 KB) | DOI: 10.14710/jwl.4.1.13-28

Abstract

The Development Region III of Grime (the indigenous Dumutru territory) in Jayapura District has a problem on indigeneous land ownership system. The development process by the local government of Dumutru territory is off target and in conflict with the structures and cultural systems in the community. The study aims to assess and to identify the rules of customary law that can be synergized with the formal legal rules. The study is conducted by the qualitative method through qualitative descriptive analysis. The analysis shows that the problems of development in the Development Region III of Grime Jayapura District are because of lack of synergy of positive and customary laws. The development process needs to refer to the formal legal regulations governing land acquisition mechanism and rules of customary law.
POSISI WISATA WADUK TEMPURAN KABUPATEN BLORA BERDASARKAN TIPOLOGI Wahyu Yuliarto; Samsul Ma'rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.024 KB)

Abstract

Desa Tempuran salah satu tujuan wisata di Kabupaten Blora. Waduk Tempuran  merupakan tempat Wisata Alam yang berfungsi utama sebagai saluran irigasi serta pembinaan atlit dayung yang bertaraf internasional, disamping itu sebagai budidaya ikan karamba dan pemancingan. Tingginya tingkat permintaan harus di imbangi dengan penawaran yang sesuai agar Wisata Waduk Tempuran tersebut dapat memberikan pelayanan yang maksimal. Untuk itu perlunya penentuan Tipologi Pengembangan Wisata Waduk Tempuran yang tepat guna memenuhi permintaan dan penawaran. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian adalah mengetahui Tipologi Wisata Waduk Tempuran  pada Desa Tempuran Kecamatan Blora Kabupaten Blora sehingga dapat diketahui Potensi Pengembangan yang tepat guna mengantisipasi permintaan (demand) dan penawaran (supply) terhadap Wisata Waduk Tempuran  sehingga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan peningkatan pendapatan asli daerah. Demand memiliki nilai yang rendah dimana permintaan dari pengunjung masih lemah terhadap Wisata Waduk Tempuran, selain itu posisi Supply juga memiliki nilai yang tinggi sehingga penawaran dari Wisata Waduk Tempuran sudah memenuhi permintaan dari pengunjung, sehingga perlu dilakukan peningkatan Demand untuk menjadikan Wisata Waduk Tempuran memiliki daya saing yang tinggi dan selalu memunculkan atraksi wisata yang dapat menarik banyak pengunjung untuk berkunjung ke Wisata Waduk Tempuran.
ARAH PERKEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN PASCA BENCANA TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH Arief Akbar; Samsul Ma'rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.169 KB)

Abstract

Secara geografis Banda Aceh memiliki kerentanan terhadap potensi bencana gempa bumi dan tsunami, terbukti dengan adanya gempa bumi dan disusul oleh gelombang tsunami 26 Desember tahun 2004. Bencana ini menghancurkan sarana dan prasana kota, khususnya pada wilayah utara kota Banda Aceh yang mengakibatkan kerugian dan banyaknya korban jiwa. Dengan kondisi seperti ini, rencana pengembangan kota yang diikuti dengan pergeseran pusat aktivitas perkotaan serta arahan pengembangan kawasan perumahan diarahkan pada wilayah selatan kota Banda Aceh. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kerugian dari dampak bencana gempa bumi dan potensi tsunami yang terjadi dikemudian hari. Dari permasalahan diatas maka penting dilakukan sebuah penelitian tentang arah perkembangan kawasan perumahan pasca bencana tsunami  pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2011 dengan Research Question apakah arah perkembangan kawasan permukiman sudah sesuai dengan rencana pengembangannya. Berdasarkan hasil analisis, arah pengembangan kota Banda Aceh direncanakan kedepannya mengarah pada wilayah selatan kota tepatnya pada kecamatan Lueng Bata di Batoh dan Lamdom yang  didukung oleh sub pusat pengembangannya yaitu pada wilayah timur kota kecamatan Ulee Kareng. Namun pada perkembangan kawasan permukiman lebih cenderung mengalami perkembangan pada wilayah utara kota Banda Aceh. Oleh karena itu Pemerintah Kota Banda Aceh, seharusnya mampu mengontrol pertumbuhan lahan terbangun disetiap kecamatan kota, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kebijakan-kebijakan tata ruang yang ada.