Todd Lavin
Department of Philosophy, Clarion University of Pennsylvania, Clarion, PA

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Neo-Liberalism, the New Christian Right and the Desire for One's Own Oppression: The United States at the Turning Point Lavin, Todd
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1399.313 KB) | DOI: 10.26593/mel.v21i3.1014.271-293

Abstract

Artikel ini menyoroti bagaimana Neo-Liberalisme dan New Christian Right berhasil mendominasi politik Amerika dan merusakkan ideal dialog universal pembentukan komunitas global. Tindakan komunikatif sebagai ideal ke arah komunitas global dalam kenyataannya menghadapi tantangan sosial dan psikologis. Neo-Liberalisme dan New Christian Right di Amerika adalah neurosis sosial, siasat pertahanan diri yang bersifat reaksioner terhadap tantangan-tantangan real. Dengan itu Amerika, alih-alih mengkaji kembali dirinya, justru jatuh dalam ideologi yang protektif namun tanpa fungsi.
Neo-Liberalism, the New Christian Right and the Desire for One's Own Oppression: The United States at the Turning Point Lavin, Todd
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 3 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v21i3.1014.271-293

Abstract

Artikel ini menyoroti bagaimana Neo-Liberalisme dan New Christian Right berhasil mendominasi politik Amerika dan merusakkan ideal dialog universal pembentukan komunitas global. Tindakan komunikatif sebagai ideal ke arah komunitas global dalam kenyataannya menghadapi tantangan sosial dan psikologis. Neo-Liberalisme dan New Christian Right di Amerika adalah neurosis sosial, siasat pertahanan diri yang bersifat reaksioner terhadap tantangan-tantangan real. Dengan itu Amerika, alih-alih mengkaji kembali dirinya, justru jatuh dalam ideologi yang protektif namun tanpa fungsi.