Mohamad Iqbal
Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT Mohamad Iqbal; Ane Dwi Septina
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2018.4.1.19-34

Abstract

Hutan Kemasyarakatan (HKm) Sanggau memberikan kebutuhan mata pencaharian sebagian besar masyarakat sekitar hutan. Salah satu alternatifnya melalui pemanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di lahan agroforestri tembawang. Pemanfaatan HHBK tersebut diharapkan dapat mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kayu. Optimalisasi pemanfaatan HHBK bertujuan untuk mengantisipasi upaya masyarakat dalam menjarah hutan terutama hasil kayunya. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui keragaman manfaat komoditas HHBK di lahan agroforestri tembawang dan harga komoditas HHBK yang dijual di pasar tradisional, Kabupaten Sanggau. Metode pemilihan responden dilakukan secara purposif. Survey dan kunjungan lapangan dilakukan untuk melihat kondisi tembawang. Data identifikasi jenis HHBK yang dikumpulkan ditabulasi kemudian dianalisis dengan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tercatat ada 35 jenis HHBK yang dapat dimanfaatkan masyarakat adat, meliputi: 40% jenis buah-buahan, 9% jenis getah, 13% jenis bahan makanan, 21% jenis sayuran, 6% jenis obat-obatan, dan 12% jenis anyaman. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan komoditas HHBK sebagai produk semi komersial dan subsisten. Komoditas HHBK anyaman masih bersifat subsisten, di mana hasil produk anyaman digunakan hanya untuk keperluan pribadi saja, bukan untuk dijual. Komoditas HHBK yang dijual di pasar tradisional umumnya berupa buah-buahan seperti asam paya (Eleiodoxa conferta) Rp25.000,00/kg, keranji (Dialium indium) Rp35.000,00/kg, kedondong (Spondias dulcis) Rp10.000,00/kg dan rambai (Baccaurea motleyana) Rp10.000,00/ikat. Komoditas HHBK bagi masyarakat adat dapat memberikan pendapatan yang lebih cepat menghasilkan jika dibandingkan dengan pendapatan dari bertanam kayu, menyediakan serta bentuk alternatif pekerjaan dan keterampilan bagi masyarakat adat.
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT Mohamad Iqbal; Ane Dwi Septina
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2018.4.1.19-34

Abstract

Hutan Kemasyarakatan (HKm) Sanggau memberikan kebutuhan mata pencaharian sebagian besar masyarakat sekitar hutan. Salah satu alternatifnya melalui pemanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di lahan agroforestri tembawang. Pemanfaatan HHBK tersebut diharapkan dapat mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kayu. Optimalisasi pemanfaatan HHBK bertujuan untuk mengantisipasi upaya masyarakat dalam menjarah hutan terutama hasil kayunya. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui keragaman manfaat komoditas HHBK di lahan agroforestri tembawang dan harga komoditas HHBK yang dijual di pasar tradisional, Kabupaten Sanggau. Metode pemilihan responden dilakukan secara purposif. Survey dan kunjungan lapangan dilakukan untuk melihat kondisi tembawang. Data identifikasi jenis HHBK yang dikumpulkan ditabulasi kemudian dianalisis dengan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tercatat ada 35 jenis HHBK yang dapat dimanfaatkan masyarakat adat, meliputi: 40% jenis buah-buahan, 9% jenis getah, 13% jenis bahan makanan, 21% jenis sayuran, 6% jenis obat-obatan, dan 12% jenis anyaman. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan komoditas HHBK sebagai produk semi komersial dan subsisten. Komoditas HHBK anyaman masih bersifat subsisten, di mana hasil produk anyaman digunakan hanya untuk keperluan pribadi saja, bukan untuk dijual. Komoditas HHBK yang dijual di pasar tradisional umumnya berupa buah-buahan seperti asam paya (Eleiodoxa conferta) Rp25.000,00/kg, keranji (Dialium indium) Rp35.000,00/kg, kedondong (Spondias dulcis) Rp10.000,00/kg dan rambai (Baccaurea motleyana) Rp10.000,00/ikat. Komoditas HHBK bagi masyarakat adat dapat memberikan pendapatan yang lebih cepat menghasilkan jika dibandingkan dengan pendapatan dari bertanam kayu, menyediakan serta bentuk alternatif pekerjaan dan keterampilan bagi masyarakat adat.