Pemakaian tanah lempung sebagai bahan baku batu bata dapat dikurangi dengan menambahkan serat. Salah satu sumber serat yang pemanfaatannya belum optimal yaitu limbah tongkol jagung. Untuk itu, telah dilakukan penelitian dengan memanfaatkan tongkol jagung untuk substitusi pembuatan batu bata dengan mengacu kepada SNI 15-2094-2000. Perlakuan pembuatan batu bata komposit menggunakan bahan substitusi tongkol jagung yang dihaluskan hingga mencapai ukuran butir lolos ayakan >60 mesh dan <60 mesh dengan masing-masing penambahan tongkol jagung 0%, 2,5%, 5,0%, 7,5%, 10% dan 12,5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas batu bata dengan ukuran butir tongkol jagung >60 mesh dengan perlakuan substitusi tongkol jagung hingga 12,5% masih memenuhi kuat tekan kelas 50 menurut SNI 15-2094-2000, sedangkan untuk ukuran butir <60 mesh hanya substitusi tongkol jagung sampai 7,5% yang memenuhi kelas 50 menurut SNI 15-2094-2000. Uji daya serap air menunjukkan bahwa semakin besar penambahan tongkol jagung, baik dengan ukuran butiran >60 mesh maupun <60 mesh, daya serap air semakin naik. Daya serap air rata-rata yang diperoleh lebih dari 20% sehingga belum memenuhi persyaratan daya serap air maksimum yang ditetapkan oleh SNI 15-2094-2000 yaitu sebesar 20%. Dari hasil pemanfaatan tongkol jagung untuk substitusi pembuatan batu bata, perlakuan ukuran butir lolos >60 mesh dengan penambahan sampai 12,5% dapat digunakan karena telah memenuhi syarat kuat tekan SNI 15-2094-2000 kelas 50.