Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH SUHU DAN LAMA AKTIFASI TERHADAP MUTU ARANG AKTIF DARI KAYU KELAPA. (Effects of Activation Temperature and Duration Time on the Quality of the Active Charcoal of Coconut Wood). Fahri Ferdinand Polii
Jurnal Industri Hasil Perkebunan Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Industri Hasil Perkebunan Volume 12 No. 2 Desember 2017
Publisher : Balai Besar Industri Hasil Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.366 KB) | DOI: 10.33104/jihp.v12i2.1672

Abstract

Active charcoal is charcoal created with the process of activation of animals, plants, minerals or waste containing carbon. Coconut is plantation crop, in which almost all parts of this plant are beneficial;especially the bottom part of old coconut trunks primarily utilized as construction material and the upper part is often simply dumped or made into fuel (firewood). To increase the added value of coconut wood (the tip) that has not been utilized optimally then this part is made into industrial products, namely active charcoal. This research aims to know effects of temperature and time of activation against the quality of the active charcoal of coconut wood raw material. This study used a factorial experiment design with activation temperature treatment each 700oC, 800oC and 900oC Each heating was conducted at three duration times i.e.1 hour, 2 hours and 3 hours. The results showed moisture content 0,19%-4.07%, volatile matter 6.01%-8.75%, ash content 3,87%-5.64%, absorption against iodium he activated charcoal adsorpsitive capacity on iodine (I2)was 544,16 mg/g-665,07mg/g and fixed carbon levels between 84.44%-88.22% and rendemen ranged from 71,69%-78,66%. The results showed that the optimum activation condition to acquire activated charcoal with the best quality was at 800oC for 3 hours durationKey words: active charcoal, coconut wood, carbon, charcoal, activationAbstrak. Arang aktif adalah arang yang dibuat dengan proses aktifasi dari hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun mineral yang mengandung karbon. Tanaman kelapa merupakan tanaman perkebunan yang hampir semua bagian tumbuhan ini bermanfaat, khusus batang kelapa yang telah tua terutama bagian bawah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bagian atas sering hanya dibuang atau dijadikan bahan bakar (kayu bakar).Untuk meningkatkan nilai tambah kayu kelapa (bagian ujung) yang belum dimanfaatkan secara optimal, maka bagian ini dibuat menjadi produk industri yakni arang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu aktifasi terhadap mutu arang aktif dari bahan baku kayu kelapa.Penelitian ini menggunakan desain percobaan factorial dengan perlakuan suhu aktifasi masing-masing 700oC, 800oC dan 900oC dan waktu aktifasi 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Hasil penelitian menunjukkan kadar air yakni 0,19%-4,07%, bagian yang hilang pada pemanasan 950oC yaitu 6,01%- 8,75%, kadar abu antara 3,87%-5,64%, daya serap terhadap iodium (I2) adalah 544,16mg/g-665,07mg/g dan kadar karbon aktif murni antara 84,44%-88,22% dan rendemen berkisar antara 71,69%-78,66%. Kondisi optimal arang aktif dari kayu kelapa sebagai absorben (penyerap) yakni perlakuan suhu aktifasi 800oC dan lama aktifasi 3 jam.Kata kunci: arang aktif, kayu kelapa, karbon, arang, aktifasi 
Pengaruh Substitusi Tepung Kelapa Terhadap Kandungan Gizi Dan Sifat Organoleptik Kue Kering [The Effect of Coconut Flour Substitution on Nutrient Content and Organoleptic Properties of Cookies] FAHRI FERDINAND POLII
Buletin Palma Vol 18, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.686 KB) | DOI: 10.21082/bp.v18n2.2017.91-98

Abstract

ABSTRAKTepung kelapa merupakan salah satu alternatif substitusi tepung terigu dengan kandungan serat yang tinggi dan karbohidrat kompleks yang baik bagi kesehatan terutama untuk penderita diabetes. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan gizi dan sifat organoleptik kue kering yang diolah menggunakan tepung kelapa. Penelitian dilakukan di Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado pada bulan Pebruari-Nopember 2014. Tahapan penelitian, yaitu: pengeringan daging buah kelapa segar, pengepresan minyak/pemisahan minyak kelapa, pembuatan tepung kelapa, pembuatan kue kering serta analisis komposisi kimia dan organoleptik kue kering. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, perlakuan adalah perbandingan jumlah tepung terigu dan tepung kelapa yang digunakan yaitu pembuatan kue kering. Parameter yang diuji adalah kadar air, abu, protein, lemak, serat kasar, karbohidrat dan organoleptik (rasa, aroma, warna dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung ampas kelapa memiliki kadar protein dan serat lebih tinggi dibanding tepung terigu. Kadar abu, protein, lemak dan serat kasar cenderung  meningkat  dengan bertambahnya jumlah tepung ampas kelapa yang digunakan, sebaliknya  kadar air dan karbohidrat mengalami penurunan. Tepung kelapa dapat mensubstitusi tepung terigu pada pembuatan kue kering sampai 50% dengan tingkat penerimaan panelis pada kategori rasa cukup suka sampai suka. ABSTRACT Coconut flour is an alternative substitution of wheat flour with high fiber content and complex carbohydrates that are good for health especially for diabetics. The purpose of this research is to know the nutrient content and organoleptic of cookies processed using coconut flour. The research was conducted at Research Center and Industrial Standardization of Manado on February-November 2014. The research steps were drying of fresh coconut meat, oil pressing/coconut oil separation, coconut flour making, processing of cookies, analysis of chemical properties and organoleptic test. Research using Completely Randomized Design, treatments were the ratio of the amount of wheat flour and coconut flour used in the manufacture of cookies. Parameters tested were moisture content, ash, protein, fat, crude fiber, carbohydrate and organoleptic (flavor, aroma, color and texture). The results showed that the coconut flour had higher protein and fiber content than wheat flour. The content of ash, protein, fat and fiber tends to increase with the increasing amount of coconut flour used, otherwise the water and carbohydrate levels decrease. Coconut flour can substitute wheat flour in processing of cookies up to 50% with panelist acceptance level in taste category quite like until likes.
Pemanfaatan Ekstrak Abu Sabut Kelapa (Soda Abu) sebagai Pengenyal Mie Basah Fahri Ferdinand Polii
Jurnal Riset Teknologi Industri VOL 10 NO.2 DESEMBER 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8637.428 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i2.2565

Abstract

Utilization of ash extract coir (soda ash) as chewy wet noodle has done the research to find out the purpose of the composition, and properties of soda ash from coconut husk, as chewy a wet noodle. Soda ash  extracted from copra fogging units around Manado city is then extracted with water 1:1 b/v, then the fluid extract (filtrate), dried up to gained the Crystal solid colored Crystal-shaped whitish until creamy. Soda ash research results contain a compound of sodium and potassium carbonate. Soda ash is added to process wet noodles as much as 0.00%-2% b/b. observations showed the higher concentration of soda ash is added will increase the value of organoleptik wet noodles. The use of 5oBe soda ash solution (0.98% in product) a wet noodle producing ashes favored by panelists (consumer) i.e. value = 2.9, taste texture = 3.2, color = 3.0. Chemical test results 5.20% protein, contains no boraks. Soda ash extracted from the ashes of coir-burning can be used as ingredients in the manufacture of chewy  wet noodle that is safe for consumption.ABSTRAKPemanfaatan ekstrak abu sabut kelapa (soda abu) sebagai pengenyal mie telah dilakukan  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi, dan sifat-sifat soda abu dari sabut kelapa, sebagai bahanpengenyal  mie basah.Abu sabut kelapa  diambil dari unit pengasapan kopra di sekitar Kota Manado kemudian diekstrak dengan air 1:1 b/v, kemudian cairan  ekstrak (filtrate), dikeringkan hingga diperoleh hablur padat berbentuk kristal  berwarna keputih-putihan hingga krem. Soda abu hasil penelitian mengandung senyawanatrium dan kalium karbonat. Soda abuyang ditambahkan untuk memproses mi basah sebanyak 0,00%  - 2 % b/b. Hasil pengamatan  menunjukkan semakin tinggi konsentrasi soda abu yang ditambahkan akan meningkatkan nilai  organoleptik mie basah. Penggunaan larutan 5oBe  soda abu (0,98 % dalam produk) abumenghasilkan mie basah yang disukai oleh panelis(konsumen) yakni nilai tekstur=2,9, rasa=3,2, warna=3,0. Hasil uji kimia kadar protein 5,20 %, tidak mengandung boraks. Soda abu yang diekstrak dari abu pembakaran sabut kelapa dapat digunakan sebagai bahan pengenyal pada pembuatan mie basah yang aman dikonsumsi.Kata kunci: sabut kelapa,soda abu, mie basah, organoleptic.