Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemanfaatan Daun Ungu ((Graptophyllum pictum) Sebagai Bahan Dasar Pewarna Alami Okta Amelia
Majalah TEGI Vol 11, No 2 (2019): Majalah TEGI Vol 11, No 2 Desember 2019
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46559/tegi.v11i2.5780

Abstract

Warna merupakan salah satu daya tarik utama, dan menjadi kriteria penting untuk penerimaan produk seperti tekstil, kosmetik, pangan dan lainnya. pewarna alami telah digunakan di China pada 2600 SM. Hampir semua bagian tumbuhan apabila diekstrak dapat  menghasilkan zat warna, seperti: bunga, buah, daun, biji,kulit, batang atau kayu dan akar. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketahanan luntur pewarna daun ungu pada tekstil. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstrak daun ungu (Graptophyllum pictum) 100 gram dan etanol 96% 1000 ml dengan lama maserasi 12 jam, 24 jam, 36 jam, dan 48 jam yang kemudian dikeringkan untuk memperpanjang umur simpan dan memudahkan dalam proses pengemasan. Parameter yang diuji dalam penelitian yaitu kadar air pewarna daun ungu, serta laundrymeter. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kadar air rata-rata yang dihasilkan dari ektraksi sebesar 4,15, nilai gray scale 3-4 cukup baik dan staining scale 4-5 baik.
Pemanfaatan Daun Ungu ((Graptophyllum pictum) Sebagai Bahan Dasar Pewarna Alami Okta Amelia
Majalah TEGI Vol 11, No 2 (2019): Majalah TEGI Vol 11, No 2 Desember 2019
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46559/tegi.v11i2.5780

Abstract

Warna merupakan salah satu daya tarik utama, dan menjadi kriteria penting untuk penerimaan produk seperti tekstil, kosmetik, pangan dan lainnya. pewarna alami telah digunakan di China pada 2600 SM. Hampir semua bagian tumbuhan apabila diekstrak dapat  menghasilkan zat warna, seperti: bunga, buah, daun, biji,kulit, batang atau kayu dan akar. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketahanan luntur pewarna daun ungu pada tekstil. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstrak daun ungu (Graptophyllum pictum) 100 gram dan etanol 96% 1000 ml dengan lama maserasi 12 jam, 24 jam, 36 jam, dan 48 jam yang kemudian dikeringkan untuk memperpanjang umur simpan dan memudahkan dalam proses pengemasan. Parameter yang diuji dalam penelitian yaitu kadar air pewarna daun ungu, serta laundrymeter. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kadar air rata-rata yang dihasilkan dari ektraksi sebesar 4,15, nilai gray scale 3-4 cukup baik dan staining scale 4-5 baik.
Classification of Color Pigments of Robusta Coffee Plants with Mordanting Method Applied to Cloth Masks susi susyanti; Okta Amelia; Muhammad Hajid An Nur; PG. Wisnu Wijaya
Journal of Science and Applicative Technology Vol 5 No 2 (2021): Journal of Science and Applicative Technology December Chapter
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jsat.v5i2.316

Abstract

Part of the coffee plant as a whole from the roots until the fruit can produce dye pigment, the coffee plant that is made sample is Robusta coffee plant (Coffee Robusta). The absence of natural color calcification uses one whole plant. So it is made from coffee plants typical of Lampung as a local identity. The mordanting process of the extract results in the parts of the coffee plant on the French cotton fabric, producing pigments that can be used as dyes for textiles. This method is easy to classify the pigment from the parts of the coffee plant. Classifications of colors obtained from warm, soft, and cold color ranges (casual, beautiful, Natural, beautiful, romantic, elegant, classic, clear and cool casual). This research was conducted to classify various colors of Robusta coffee plants, roots, wood, bark, ranting, wet leaves, dried leaves, wet skin, wet bark, dry hard skin, wet seeds, dried seeds, and grain powders with The mordanting process is transferred on the cloth. From the results of the experiment, excellent color absorption resulted from wet fruit skin with a tendency towards warm colors and applied to the mask as an example of the product by means of a brush so that not much wasted color content. way in brushes and applications on this mask is an effort to respond to environmental issues and new normal.
Formulasi Hand Soap dari Kombucha Bonggol Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) dan Uji Aktivitasnya terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Untia Kartika Sari Ramadhani; Nanda Aulia; Refsya Azanti Putri; Eka Nur’azmi Yunira; Okta Amelia
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 22 No. 02 Desember 2025
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bonggol nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) merupakan limbah dari buah nanas yang berperan sebagai antibakteri karena memiliki kandungan senyawa flavonoid, saponin, enzim bromelin, dan tanin. Bonggol nanas dibuat dalam bentuk fermentasi kombucha menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan potensi antibakteri bonggol nanas, kemudian diformulasikan sebagai hand soap untuk mengurangi diare. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variasi konsentrasi kombucha bonggol nanas terhadap sifat dan stabilitas fisik sediaan hand soap, serta pengaruhnya terhadap aktivitas antibakteri terhadap bakteri S.aureus. Formula sediaan hand soap terdapat empat formula yang memiliki perbedaan variasi konsentrasi kombucha yaitu 0% (F0), 15% (F1), 25% (F2), dan 35% F3. Hasil uji sifat fisik pada F0 berwarna kuning, F1 berwarna orange, F2 berwarna orange tua, F3 berwarna orange kecoklatan, berbau nanas, dan tekstur kental, memiliki pH 7,68 - 7,19, tinggi busa 81-110 mm, viskositas 860,00-1396,33 cPs, bobot jenis 1,04-1,09 g/mL, serta kadar air 37,79%-26,55%. Setelah dilakukan stabilitas fisik terjadi penurunan pH, viskositas, bobot jenis dan peningkatan kadar air, namun busa tetap stabil. Aktivitas antibakteri sangat kuat terdapat pada F3 dengan daya hambat 22,16 ± 2,24 mm. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan hand soap yang diformulasikan berkhasiat sebagai antibakteri dan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi terjadinya diare.