This Author published in this journals
All Journal MAJALAH BIAM
Maria Alexanderina Leha
Baristand Industri Ambon

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FORTIFIKASI SURIMI IKAN RUCAH TERHADAP MUTU MIE BASAH Maria Alexanderina Leha
Majalah BIAM Vol 9, No 1 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.144 KB) | DOI: 10.29360/mb.v9i1.1998

Abstract

Studi tentang pengaruh fortifkasi pengolahan mie dengan surimi ikan rucah di level 20% masing-masing telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari jumlah hasil (rendemen) ikan cincang yang dapat dimanfaatkan untuk surimi terdiri dari 3 (tiga) jenis. yaitu gulamah (Argyrosomus sp.), Kurisi (Nemipterus sp.) Dan tigawaja (Argyrosomus amoyensis), kuantitas/ rendemen atau akhir produk mie rebus terbuat dari 1 spesies dan  dicampur  dengan  2-3  spesies,  kualitas  dan  nilai  kalori  produk,  dan  tingkat  penerimaan  konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  jumlah hasil  ikan cincang adalah: 35,2% (gulamah), 32,4% (kurisi) dan 33,3% (tigawaja). Ini untuk memproduksi untuk mie rebus sekitar 0.337 kali. Kualitas mie rebus mengandung kadar air 53,18-58,23%, protein 4,02-5,0%,  lemak 1,76-2,22%,  abu 0,75-1,75%, karbohidrat konten 32,17-36,84%, pH 6,42-6,74, TVB 6,72-20,58 mgN%, TPC 5,24-5,66 (log X) atau 1,7 x 105 - 4,6 x 105 koloni. Nilai kalori 164,5 - 181,8 kkal. Nilai uji sensorik dari produk ini adalah 6,9-7,4 (mungkin). Tingkat penerimaan konsumen untuk mie rebus 80,0-83,3%.
PENGEMBANGAN ALAT PRODUKSI KITIN DAN KITOSAN DARI LIMBAH UDANG Maria Alexanderina Leha
Majalah BIAM Vol 9, No 2 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.013 KB) | DOI: 10.29360/mb.v9i2.2003

Abstract

Penelitian dan pengembangan alat produksi kitin dan kitosan telah dilakukan. Peralatan tersebut menggunakan sistem jaket panas dengan metode transfer panas secara konduksi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penghantar panas secara konduksi lebih baik, dapat menghantarkan panas secara langsung pada proses demineralisasi, deproteinisasi dan deasetilasi. Meningkatkan efektiftas hingga 41,4%, meningkatkan nilai konduktivitas panas hingga 10% dan meningkatkan  rendemen kitin hingga 38% dan kitosan 31,8%. Kualitas dari produk kitosan,  seperti kadar air, kenampakan, derajat deasetilasi, solubility pada CH2COOH 0,5% cocok dengan standar dari negara Jepang dan Korea.
PENGEMBANGAN ALAT PENGERING IKAN Maria Alexanderina Leha
Majalah BIAM Vol 9, No 1 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29360/mb.v9i1.1995

Abstract

Pengering mekanik dapat digunakan untuk mengeringkan produk perikanan tanpa tergantung pada kondisi alam (hujan), proses produksi terus berjalan. Penelitian ini bertujuan untuk memanipulasi pengering menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk menghasilkan ikan asin dengan kualitas yang baik. Alat pengering di-rekayasa membentuk kabinet dan berbentuk konstruksi piramida, dan terkait dengan cerobong asap menggunakan pelat baja sebagai dinding dan sudut baja sebagai bingkai, dengan pipa beton sebagai saluran panas. Uji kemam-puan pengering menggunakan 3 jenis ikan, yaitu ikan tuna, layang-layang dan ikan teri. Hasil pengujian dengan menggunakan kemampuan pengering dari alat untuk tuna menggunakan waktu pengeringan 8 jam, 7 jam untuk ikan layang-layang dan 6 jam untuk ikan teri. Untuk mendapatkan kualitas ikan asin digunakan SNI - 01-2708 - 1992 dan SNI -01-2708 - 1992 untuk persyaratan kualitas ikan asin. Hasil analisis kualitas kering ikan asin dan ikan teri kering dapat memenuhi standar SNI dimaksud.