Aprilia Fitriani
Balai Besar Kerajinan dan Batik-Kementerian Perindustrian

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEWARNAAN BATIK KAPAS DAN SUTERA MENGGUNAKAN DAUN INDIGOFERA TINCTORIA DARI AMBARAWA DAN KULON PROGO DENGAN REDUKTOR GULA AREN DAN TETES TEBU Agus Haerudin; Aprilia Fitriani
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.5420

Abstract

Tanaman Indigofera tinctoria merupakan salah satu tanaman semak yang berpotensi untuk dijadikan pewarna alam. Tanaman tersebut banyak tumbuh di Indonesia secara liar dengan berbagai jenis, salah satunya adalah indigofera tinctoria. Besarnya potensi tanaman indigofera tinctoria terlihat dari adanya beberapa daerah di Indonesia yang telah banyak membudidayakannya dengan baik saat ini. Sumber pigmen warna tanaman indigofera berasal dari senyawa indigotin yang umumnya terkandung pada daun dan ranting yang diproses dengan cara fermentasi reduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data kualitas ketahanan luntur warna pada pencucian, jemur sinar matahari serta arah warna yang dihasilkan dari pewarnaan batik kain kapas dengan menggunakan zat warna alam indigofera tinctorial, dengan pereduksi gula aren dan tetes tebu serta untuk menghasilkan formula proses yang optimal. Metodologi penelitian yang dilakukan adalah fermentasi daun indigofera tinctoria yang berasal perkebunan di daerah Ambarawa dan Kulon Progo dalam air selama 24 jam, reduksi pasta indigofera menggunakan gula aren dan tetes tebu, aplikasi pada pewarnaan batik kapas dan sutera serta pengujian kualitas, arah dan ketahanan luntur warnanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pewarnaan kain batik oleh indigofera tinctoria dari semua daerah lokasi pengambilan tanaman memiliki ketahanan luntur warna yang baik terhadap pencucian, gosokan basah, dan sinar matahari dengan nilai rata–rata 4–5. Arah warna yang dihasilkan adalah biru muda hingga biru tua. Kain batik dengan hasil warna biru paling tua (nilai K/S 55,12) diperoleh dari pasta indigofera dari perkebunan Kulon Progo dengan reduktor gula aren.