Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH METODE BAGIAN TERHADAP KEMAMPUAN JURUS 3 SENI TUNGGAL GOLOK DI SEKOLAH DASAR KARTIKA Lestari, Dwi Suci
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa Vol 6, No 9 (2017): September 2017
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe problem of research is whether there is influence of the part method on the skill of single arts skill in students at Kartika Elementary School. The purpose of this research is to know the influence of the part method on the ability of 3 arts of single arts of machetes at the students in Kartika Elementary School. The method used in this research is experimental method with Pre-experiment design. The study population took all the extracurricular students in Kartika Elementary School, which amounted to 15 people. Sample technique with saturated sampling technique that is all of extracurricular students in Kartika Primary School Pontianak, amounting to 15 people. Analysis of data used using t-test analysis. The result of the research is that the value of ttest = 4.245 is bigger than ttable value = 2.145, with the effect of size increase of 0.86. Based on these results it can be concluded that there is influence of the influence of part method on the ability of 3 statues single arts machetes in extracurricular students in elementary school Kartika Pontianak. Keywords: Part Method, Kick 3 The Single Art of Machete 
KUALITAS PENERANGAN ALAMI BANGUNAN GEREJA BLENDUK SEMARANG Dwi Suci Lestari
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa bangunan kuno peninggalan Kolonial Belanda,  seringkali menunjukkan upaya pemanfaatan faktor–faktor  iklim seperti matahari dan  angin dalam konteks iklim tropis lembab di Indonesia dengan baik, meskipun arsiteknya berasal dari negara beriklim empat musim. Seperti dalam tata letak membujur utara-selatan beserta selasar depannya untuk mengurangi panas matahari. Namun, tak jarang, membawa kebiasaan mereka, membuat bukaan dinding (pintu dan jendela) yang  berukuran lubang tinggi vertikal hampir ke plafondnya yang tinggi pula dalam rangka mendapatkan penerangan alami cukup. Mengingat seumumnya kavling di negaranya berlebar sempit, sangat panjang ke dalam, dan berpenataan close-plan. Melalui kasus  bangunan kuno peribadahan umat Katolik berlantai dua Gereja Blendhuk di Semarang penelitian ini dilakukan; bertujuan untuk mengungkapkan kualitas penerangan alaminya. Metode penelitian berpendekatan kombinasi antara kualitatif (menggunakan teori) dan  kuantitatif (menggunakan alat pengukur penerangan  lux meter). Jendela lantai bawahnya berkaca timah, dan pada lantai atas: jendela jungkit. Hasil penelitian, luas bukaan  untuk  penerangan sudah memenuhi persyaratan,  kekuatan penerangan  alami pada ruang dalampun memenuhi, serta kedalaman ruang yang dapat dijangkau penerangan alami juga terpenuhi. Dengan demikian desain penerangan alami pada bangunan Gereja Blenduk, sesuai dengan kriteria penerangan alami.
IDENTIFIKASI FUNGSI DAN FISIK ARSITEKTUR TRADISIONAL BADUY Studi Kasus: Kampung Cigoel Desa Kanekes, Lebak, Banten Dwi Suci Lestari
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya fisik arsitektural, sering dianggap harus memenuhi kebutuhan manusia masa kini yang menganggap dirinya modern dengan segala kebutuhannya yang serba instan. Untuk itu banyak di antara pengguna arsitektur yang menganggap karya leluhur di masa lalu tidak sesuai dengan kebutuhan dan selera kekiniannya. Namun di antara masyarakat sedemikian itu masih terdapat pula yang masih teguh memelihara tradisi beserta pusaka budaya leluhurnya. Bahkan terdapat pula yang ekstrem menolak modernisasi. Masyarakat dimaksud, adalah masyarakat Baduy Luar, di Kampung Cigoel desa  Kanekes, kecamatan Leuwi Damar Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.yang diangkat sebagai kasus dalam penelitian deskriptik analitik yang bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan fisik arsitekturnya. Hasil penelitiannya unik: permukimannya yang berpola grid beraturan tertentu, memiliki fungsi bersama ruang terbuka antar rumah, lumbung dan rumah lesung. Rumahnya panggung, berorganisasi ruang dan penampilan sederhana, berfungsi-fungsi ruang khas, berbahan alami: kayu, bambu, ijuk, dan rumbia, berestetika arsitektur bersifat alami.
KUALITAS PENERANGAN ALAMI BANGUNAN GEREJA BLENDUK SEMARANG Dwi Suci Lestari
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa bangunan kuno peninggalan Kolonial Belanda,  seringkali menunjukkan upaya pemanfaatan faktor–faktor  iklim seperti matahari dan  angin dalam konteks iklim tropis lembab di Indonesia dengan baik, meskipun arsiteknya berasal dari negara beriklim empat musim. Seperti dalam tata letak membujur utara-selatan beserta selasar depannya untuk mengurangi panas matahari. Namun, tak jarang, membawa kebiasaan mereka, membuat bukaan dinding (pintu dan jendela) yang  berukuran lubang tinggi vertikal hampir ke plafondnya yang tinggi pula dalam rangka mendapatkan penerangan alami cukup. Mengingat seumumnya kavling di negaranya berlebar sempit, sangat panjang ke dalam, dan berpenataan close-plan. Melalui kasus  bangunan kuno peribadahan umat Katolik berlantai dua Gereja Blendhuk di Semarang penelitian ini dilakukan; bertujuan untuk mengungkapkan kualitas penerangan alaminya. Metode penelitian berpendekatan kombinasi antara kualitatif (menggunakan teori) dan  kuantitatif (menggunakan alat pengukur penerangan  lux meter). Jendela lantai bawahnya berkaca timah, dan pada lantai atas: jendela jungkit. Hasil penelitian, luas bukaan  untuk  penerangan sudah memenuhi persyaratan,  kekuatan penerangan  alami pada ruang dalampun memenuhi, serta kedalaman ruang yang dapat dijangkau penerangan alami juga terpenuhi. Dengan demikian desain penerangan alami pada bangunan Gereja Blenduk, sesuai dengan kriteria penerangan alami.
IDENTIFIKASI FUNGSI DAN FISIK ARSITEKTUR TRADISIONAL BADUY Studi Kasus: Kampung Cigoel Desa Kanekes, Lebak, Banten Dwi Suci Lestari
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya fisik arsitektural, sering dianggap harus memenuhi kebutuhan manusia masa kini yang menganggap dirinya modern dengan segala kebutuhannya yang serba instan. Untuk itu banyak di antara pengguna arsitektur yang menganggap karya leluhur di masa lalu tidak sesuai dengan kebutuhan dan selera kekiniannya. Namun di antara masyarakat sedemikian itu masih terdapat pula yang masih teguh memelihara tradisi beserta pusaka budaya leluhurnya. Bahkan terdapat pula yang ekstrem menolak modernisasi. Masyarakat dimaksud, adalah masyarakat Baduy Luar, di Kampung Cigoel desa  Kanekes, kecamatan Leuwi Damar Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.yang diangkat sebagai kasus dalam penelitian deskriptik analitik yang bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan fisik arsitekturnya. Hasil penelitiannya unik: permukimannya yang berpola grid beraturan tertentu, memiliki fungsi bersama ruang terbuka antar rumah, lumbung dan rumah lesung. Rumahnya panggung, berorganisasi ruang dan penampilan sederhana, berfungsi-fungsi ruang khas, berbahan alami: kayu, bambu, ijuk, dan rumbia, berestetika arsitektur bersifat alami.