Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Sejarah Tafsir Indonesia dalam Perspektif History of Idea Masrul Anam
Jurnal Al I'jaz Vol 2 No 1 (2020): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v2i1.30

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran sejarah perkembangan tafsir karya monumental ulama Indonesia sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang, yang belum banyak dieksplorasi oleh para akademisi. Artikel ini berisi pemetaan karya tafsir dari segi geografis, bahasa, tempat lahir dan kemerdekaan. Pertama: segi geografi mengandung arti bahwasannya mufasir itu berdomisili di wilayah Indonesia. Kedua: segi bahasa menunjukkan bahwa kitab tafsir itu menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang digunakan di Indonesia, seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda dan sebagainya. Ketiga: segi tempat lahir menunjukkan bahwa mufasir itu lahir di wilayah Indonesia walaupun di kemudian hari ia pindah bahkan mungkin menetap di negara lain hingga wafatnya. Keempat: segi kemerdekaan menunjukkan bahwa tafsir itu lahir setelah Indonesia merdeka, yakni tahun 1945 ke atas. Dengan berbagai batasan-batasan ini, akan menjadi mudah dalam memasukkan klasifikasi tafsir yang Indonesia, dan tafsir yang bukan Indonesia.
Tafsir Modern di Iran : (Kajian Tafsir al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an dan Tafsir al-Kashif) Masrul Anam
Jurnal Al I'jaz Vol 2 No 2 (2020): December
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v2i2.38

Abstract

Artikel ini telah menemukan 38 kitab-kitab tafsir yang berasal dari Iran, baik Iran klasik maupun Iran Modern. Dari beberapa nama tafsir yang ada di Iran, penulis condong untuk membahas tentang Tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an karya Tabataba’i karena tafsir ini masih tergolong tafsir yang moderat di kalangan Shi’ah. Selain itu, tafsir ini juga termasuk karya paling tebal dibandingkan yang lain. Pemilihan kedua pembahasan kali ini adalah tafsir al-Kashif karya Jawad Mughniyah, sebab ia adalah tokoh yang berpengaruh dalam dunia Muslim-Iran. Diantara yang menarik dalam tafsir Tabataba'i adalah apabila dikaji dari segi teologi tidak di ragukan lagi bahwa tafsir ini adalah milik Shi’ah Ithna ‘Ashariyah sehingga doktrin dan penafsirannya condong kepada teologinya sendiri. Misalnya dalam menafsirkan tentang surat al-Nisa’ [4]: 24 tentang nikah Mut’ah. Sedangkan dalam tafsir al-Kashif pada surat al-Baqarah [2] ayat 283, Shekh Jawad menafsirkan wala taktum al-shahadah waman yaktumha fainnahu athimun qalbuh (jangan menyembunyikan shaha>dah barangsiapa yang menyembunyikannya, maka hatinya berdoasa). Dalam menafsirkan ayat ini Shekh Jawad mengutip pendapat Imam Zainal Abidin yang menyatakan bahwa Barangsiapa yang di dalam lehernya terdapat shahadah maka ia tidak akan terkena marabahaya, sebab kekuatannya. Dari kedua sampel di atas paling dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua tafsir tersebut cenderung kepada syi’ah, hal ini dapat dibuktikan dengan tema yang dikaji dan banyaknya riwayat yang diambil dari jalur Ahli Bait, bukan dari yang lain. Begitu juga penulis ingin membantah asumsi yang menyatakan bahwa Shi’ah memiliki al-Quran tandingan, yang berbeda dengan al-Qur’an di dunia Sunni. Shi’ah telah dituduh mendistorsi dan mereduksi al-Qur’an yang beredar sekarang ini. Padahal kenyataannya tidak ada perbedaan antara al-Qur’an Sunni dan Shi’ah.
Pendekatan Fikih dan Pengaruh Madzhab dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Masrul Anam
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.45

Abstract

Penelitian ini memaparkan tentang satu pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an, seorang mufasir akan memiliki pendekatan yang berbeda karena dipengaruhi oleh dasar keilmuan, kebudayaan, dan madzhab. Pendekatan fikih dalam kajian tafsir merupakan salah satu usaha untuk menafsirkan ayat-ayat hukum yang dipengaruhi oleh mufasir yang latar belakang keilmuannya dibidang fikih. Dan untuk ayat-ayat lain yang tidak mengandung hukum-hukum fikih maka tidak dijadikan sebagai target dalam penafsirannya bahkan cenderung tidak dimuat sama sekali. Pendekatan ini sudah ada sejak masa zaman Rasulullah SAW, sebab ketika para sahabat kesulitan dalam memahami hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut, maka sahabat langsung menanyakan hal itu kepada Nabi dan beliau pun langsung menjawab. Akan tetapi ketika Nabi telah wafat maka mereka dalam memahami Al-Qur’an salah satu caranya adalah dengan menggunakan pendekatan fikih dari berbagai madzhab.
EKSPLANASI SEBAB-SEBAB PUTUS ASA MENURUT AL-QUR’AN Masrul Anam
Jurnal Al I'jaz Vol 4 No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v4i1.76

Abstract

Putus asa merupakan sesuatu yang dibenci oleh Allah, karena orang yang berputus asa akan merasa tidak memiliki semangat dalam menjalankan kehidupannya, padahal seseorang bisa hidup di dunia ini merupakan anugerah yang luar biasa. Untuk itu apabila penyebab dari putus asa bisa diketahui, maka seseorang akan memiliki prasangka baik dan menjalani hidup dengan penuh semangat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode library research. Sedangkan jenis penelitian adalah deskriptif-analisis berupa studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa penyebab putus asa menurut Al-Qur’an itu ada 5 yaitu: pertama; putus asa dari rahmat Allah, kedua; putus asa ketika nikmatnya dicabut, ketiga; putus asa terhadap keberadaan negeri akhirat, keempat; putus asa ketika ditimpa musibah, kelima; putus asa terhadap suatu keputusan yang dirasa kurang adil.
MENGGALI ‘IBRAH PANDEMI DALAM BINGKAI TAFSIR ISHARI Abdur Rohman; Masrul Anam
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.264 KB) | DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.82

Abstract

Angka penyebaran virus corona hingga saat ini masih cukup tinggi dan belum memberikan tanda-tanda berakhir. Untuk itu dibutuhkan peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk saling mengingatkan akan bahaya virus tersebut. Salah satunya adalah para akademisi tafsir agar menyajikan pemahaman mengenai ayat al-Qur’an kepada umatnya terutama dalam menanggulangi penyebaran virus corona. Penelitian ini termasuk ke dalam kajian pustaka dengan pendekatan tafsir sufi isha>ri>. Kesimpulan penelitian ini adalah kisah nabi Ayu>b yang dijauhi oleh orang-orang dekatnya dengan asumsi agar tidak tertular merupakan kode social distancing. Sedangkan kesembuhan penyakitnya karena mencuci badan dengan air bersih merupakan isyarat untuk selalu menjaga kebersihan. Kisah para istri nabi Muh}ammad yang diperintahkan agar di rumah saja memiliki tujuan agar terhindar dari marabahaya merupakan kode stay at home. Kisah nabi Lu>t} yang menjauh dari zona merah dan juga kisah semut yang mengintruksikan kepada semut lain agar masuk rumah supaya tidak terinjak-injak pasukan Sulayma>n merupakan langkah preventif agar terhindar dari marabahaya. Sedangkan aplikasi dari pemahaman terhadap ‘ibrah ayat-ayat tersebut dapat dilihat dari keputusan ‘Umar bin Khat}t}a>b yang tidak jadi mengunjungi daerah terdampak wabah supaya selamat adalah bentuk tafsir al-Qur’an dengan ‘ucpaan sahabat’ dan dikuatkan dengan hadis nabi yang mengintruksikan agar jangan memasuki daerah terdampak.